membuat roti

Published September 14, 2013 by nopriastor1111

BAB III
KEGIATAN PRAKTEK DI UNIT PRODUKSI ROTI

Roti merupakan bahan pangan yang sangat tua umurnya dibuat manusia dan bahan pangan yang sangat luas dimakan dimakan oleh manusia. Roti adalah produk makanan yang terbuat dari tepung gandum yang difermentasikan dengan ragi roti ( Saccaromyces Cerevisae), air, dan atau tanpa bahan penambahan makanan lain dan dipanggang.

3.1. BAHAN PEMBUAT ROTI

Pada umumnya bahan dasar untuk membuat roti dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu :
a. Bahan Pokok
b. Bahan Pengempuk
c. Bhan Tambahan
A. BAHAN POKOK
Dalam pembuatan roti, ada beberapa bahan yang mutlak harus ada, anatara lain :

a. Tepung Terigu
Terigu atau tepung gandum merupakan bahan pokok untuk membuat roti karena cukup banyak memiliki banyak kandungan protein pembentuk gluten yang dapat memberikan sifat – sifat menahan gas dan pembentuk struktur yang sangat penting dalam pembuatan roti. Gluten adalah suatu gumpalan liat yang terbentuk pada waktu protein – protein terigu yang tidak larut dalam air ( gluten dan gliadin ) yang berbentuk gumpalan dicampur dengan air. Mutu gluten yang tercampur dalam adonan roti ini berfungsi untuk menahan gas karbondioksida yang dihasilkan khamir Saccaromyces Cerevisae.

Menurut Kusniati (1992), gluten akan menentukan mutu adonan, khusus adonan sangat menentukan penanm,pilan roti yang dihasilkan. Tahap yang paling kritis pada waktu pembuatan roti adalah pembuatan adonan. Protein yang sebelumnya dicampur dengan air masih ada dalam butiran tersebar, acak dalam bentuk protein bodies. Begitu pada posisi parallel tercapai, penamp[ilan fisik adonan menjadi masa continue dan menampakkan diri cirri kelembutannnya sampai tahap pengadonan yang cukup, adonan tampak kering, dan licin. Artinya pada tahap ini protein mengembang secara optimum daya menahan gas yang maksimum (Pyler,1973). Proses pengembahan berhubungan erat dengan volume yang dihasilkan. Pyler (1973) menyatakan bahwa dalam proses pengembangan adonan terlibat dua kelompok daya yaitu daya produksi gas dan daya penambahan gas.

Daya penambahan gas dalam adonan merupakan hasil dari sifat khas jaringan atau tenunan gluten yang viskoelastik. Gluten memegang peranana penting sebagai bahan pengembangan struktur adonan. Selain itu pada waktu proses pemanggangan gluten akan terkoagulasi sehingga menjadi lebih tegar dan dapat mencegah loaf roti mengempis kembali. Gluten tidak dimiliki oleh tepung lainnya. Pada umumnya gandum dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu :

1. Gandum keras (hard flour). Dipasaran dikenal dengan terigu cap cakra kembar. Tepung ini khusus untuk pembuatan roti, donut dan mie.
2. Gandum sedang (medium flour), dipasaran dikenal terigu cap segitiga biru. Biasanya digunakan untuk berbagai macam kue (multipurpose) dan kue tradisional.
3. Gandum Lunak (soft flour). Dipasaran dikenal tepung terigu cap kunci biru, roda biru, lencana merah dan kunci emas. Biasanya digunakan untuk membuat cake, cookies dan gorengan.

Tabel 4. Komposisi tepung gandumsecara umum terdiri atas :
No. Kandungan Jumlah dalam Persen

1. Pati 70 %
2. Air 14 %
3. Protein 11.5 %
4. Lemak 1 %
5. Gula 1 %
6. Mineral 0,4 %
7. Lain – lain 2,1 %

Ciri – ciri terigu yang baik antara lain :

1. Warna terigu putih, tanpa bahan pewarna dan sebagainya.
2. Tidak mengumpal.
3. Tidak berbau apek.
4. Tidak ada kutunya.

Penyimpanan Tepung Trgu yang baik antara lain :

1. Simpan ditempat sejuk, yaitu kisaran pada suhu kamar.
2. Diruangan pada ruangan yang mempunyai ventilasi yang baik.
3. Jauhkan dari benda yang tajam.
4. Tidak langsung bersentuhan dengan lantai.
b. Air
Air merupakan salah satu bahan terpenting didalam pembuatan roti, karena hanya dengan air dimungkinkan ternadinya adonan. Air mempunyai fungsi sebagai berikut :

 Bekerja sebagai suatu bahan pengencer yang membawa unsur unsur yang larut kesemua bagiandari adonan yang sedang dicampur.
 Mengatur suhu adonan.
 Jumlah air dapat membentuk sifat adonan.
 Pembentuk Struktur, air dibutuhkan untuk membentuk gluten yang berasal dari protein tepung, sehingga dapat menahan gas dalam struktur adonan.
 Menyediakan makanan bagi ragi.

Air yang baik digunakan air sedang, yaitu air yang mengandung cukup garam mineral yang akan menguatkan gluten. Air ini paling cocok digunakan dalam pembuatan roti. Contoh air sumur atau Aquades.

c. Ragi
Ragi adalah suatu mikroorganisme bersel satu yang tergolong kedalam keluarga cendawan. Ragi berkembang biak dengan suatu proses yang dikenal dengan istilah pertunasan (Budding), ragi roti yang dikenal adalah Saccaromyces cerevisae, hidup dengan memakan karbohidrat. Yeast menfermentaikan adonan sehingga menghasilkan gas karbondioksida yang akan mengembangkan adonan. Gas CO2 yang terbentuk menyebabkan adonan roti mengembang dan alcohol berkontribusi dalam membentuk aroma roti.

Kondisi ragi yang penting dalam pengembangan membelah diri adalah tersedianya air, subtract (glukosa), suhu 26 – 28 derajad celcius dan tersedianya oksigen.Suhu ideal absolute fermentasi adalah 38 derajad celcius pada kelembapan relative 80%.

Proses pembuatan roti meliatkan berbagai perananan dan kegiatan yang sangat rumit. Proses yang paling penting dan mendasar antara lain adalah proses biologis yang disebut dengan fermentasi yang dilakukan oleh khamir. Meskipun banyak jenis mikroorganisme yang apat menghasilkan CO2 dari fermentasi gula, namun hanya satu jenisyang paling baik untuk hasil fermentasi adonan roti yaitu Saccaromyces cerevisae yang juga dikenal sebagai khamir roti atau baker yeast (Pyler, 1973).

Ragi memiliki fungsi antara lain , yaitu :

 Mengembangkan adonan, karena merubah gas menjadi CO2.
 Asam yang dihasilkan dapat melunakkan gluten.
 Memberi rasa aroma.

Jenis – jenis ragi :
1. Ragi segar atau ragi baasah (fres yeast). Penggunaan dengan cara diremas dan dicampurkan dengan adonan. Kadar air 68 – 73%. Dapat digunakan langsung atau dilarutkan dalam air sebelum diaduk
2. Ragi koral pemakaiannya harus dilarutkan terlebih dahulu dengan air pada suhu 40 derajad celcius selama 15 menit sebelum digunakan. (perbandingan : air :ragi adalah 4:1)
3. Ragi Instan, memiliki kadar air 5 %. Dapat langsung dicampur dengan bahan lain pada saat dipakai.

Perbandingan pemakaian :
Ragi Instan Ragi Koral Ragi Basah
1 1,5 – 2 2,5 – 3

Aktivitas Ragi dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu :
1. Suhu, aktivistas ragi akan lebih cepat pada suhu tinggi.
2. Gula ( persediaan makanan )
3. Kadar Air, lebih banyak air aktivitas ragi akan lebih cepat.
4. Ph atau ke asaman Ph optimum untuk aktivitas ragi adalah 4 – 6, diluar kisaran tesebut aktivitas ragi akan terhambat.

Tujuan fermnetasi adalah untuk proses pematangan adonan , sehingga adonan mudah ditangani dan dapat menghasilkan produk bermutu baik. Hal yang terpenting dalam proses fermentasi adalah membuat kondisi lingkungan suhu dan kelembapan ideal bagi ragi, biasanya pada suhu 30 – 38 derajad celcius dengan kelembapan 75 – 80%. Fermentasi dapat dilakukan diatas meja dan ditutup dengan dengan plastic agar permukaannya tidak kering.
Pada proses ini terjadi reaksi antara gula dan ragi sehingga terbentuk gas CO2, alcohol dan asam – asam organikyang menimbulkan bau yang khas. Gas CO2 terlihat dengan tanda adonan mengembang, alcohol dan asam – asam organic ditandai dengan bau yang khas.
Reaksi yang dihasilkan dan aktivitas enzim adalah :

C12H22O11 + H2O 2C6H12O6
Sukrosa + Air Gula Invert

C6H12O6 2C2H5OH + 2 CO2
Destroksa Etil Alkohol + Karbondioksida

Bebagai proses kimia terjadi selama fermentasi , namun yang terpenting adalah dalam hal produksi gas CO2 dan alcohol.

d. Garam
Garam digunakan mengatur cita rasa roti. Garam mempunyai fungsi antara lain :
a. Membangkitkan cita rasa gurih dan lezat
b. Mengontrol waktu fermentasi , menambah kekuatan gluten.
Ciri – cirri garam yang baik digunakan :
1. Mudah larut dalam air
2. Halus kering dan tidak mengumpal
3. Bersih
4. Bebas dari zat kimia yang mengganggu fermentasi.

Kesalahan penanganan garam juga bisa membuat masalah dalam fermentasi, misalnya, jika ragi dilarutkan didalam air yang telah ditambah garam, maka perumbuhan ragi akan terhambat, hal ini menyebabkan fermentasi yang lambat dan cita rasa produksi yang kurang baik.

2. BAHAN PENGEMPUKAN
Bahan penggemukan ditmbah pada adonan untuk memberikan rasa yang lebih empuk, enak ataupun untuk menambah kandungan gizi roti yang lebih tinggi.
Bahan – bahan pengempuk antara lain :
a. Gula
Gula pasir terdiri dari 99,9% sukrosa murni. Ada dua jenis gula yang dapat digunakan untuk fermentasi ragi, yaitu : monosakarida yakni gula sederhana yang langsung dapat dimakan oleh ragi, contohnya : glukosa, sukrosa, dan dekstroksa. Dan sakarida yakni gula yang harus diubah dulu untuk menjadi monosakarida daengan bantuan enzim contohnya : sukrosa, maltosa, dan laktosa. Gula berfungsi sebagai :
1. Makanan bagi ragi
2. Memberikan rasa manis
3. Memberikan warna kecoklatan
4.Melembutkan gluten
5. Menahan keempukan lebih lama.
Pengaruh apabila kelebihan gula yaitu :
1. Adonan akan menjadi lengkaet.
2. Fermentasi terhambat.
3. Warna kulit roti akan menjadi lebih gelap.
Hal tersebut dapat diatasi dengan mengurangi air, menamabahkan ragi, serta suhu dan waktu pembakaran diturunkan.

b. Susu
Susu merupakan suatu emulasi dari partikel lamak dalam air yang mengandung protein, gula dan lemak. Dalam pmbuatan roti susu berfungsi untuk :
1. Menambah nilai gizi
2. Memperkuat gluten
3. Membuat roti tetap empuk dalam waktu yang lebih lama.

c.Lemak
Lemak berfungsi sebagai :
1. Sebagai pelumas untuk pengembangan sel yang akan memperbaiki tekstur.
2. Memudahklan pada saat pemotongan.
3. Melembutkan serat roti.

Macam – macam lemak dibagi menjadi tiga, yaitu :
 Margarin, mengandung 80 – 90% lemak nabati, 16% air dan 2 – 4% garam dan emulsifier.
 Shortening, mengandung 99% lemak nabati atau hewani dan 1% air.
 Butter, dari lemak susu.

3. BAHAN TAMBAHAN
Tujuan penggunaan bahan tambahan adalah untuk melambatkan pengerasan sselama pembakaran. Selain itu bertujuan pula untuk menahan air dalam roti yang mengakibatkan roti menjadi lebih empuk. Fungsi bahan tambahan antara lain untuk :
a. Melembutkan pori – pori.
b. Menguatkan gluten.
c. Merubah penampilan atau warna.

Bread Improver merupakan bahan tambahan yang dapat membantu dalam hal pembentukan gas. Yang sering digunakan dalam pembuatan roti adalah dengan Bakering Plus.

3.2. TEKNIK PROSES PEMBUATAN ROTI
Proses pembuatan roti melalui beberapa tahapan proses antara lain :
1. Seleksi dan Pemilihan bahan
a. Bahan yang digunakan sebaiknya bahan yang memiliki kwalitas dan mutu yang baik agar didapat mutu dan kwalitas yang baik pula.
b. Pilihlah tepung yang masih segar, tidak menggumpal.
c. Ragi yang dipakai adalah ragi yang masih aktif.
d. Telur harus dipilih yang masih bagus, jangan memakai telur yang busuk atau kurang bagus.
e. Gunakan bahan – bahan lain yang masih bagus.

2. PENIMBANGAN
Kegiatan ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kegagalan di dalam proses produksi. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam menimbang bahan yaitu :
 Bahan yang dipakai diusahan ditimbang dengan benar dan teliti.
 Jangan menimbang dengan menggunakan ukuran sendok ataupun gelas / cangkir.
 Ragi, garam atau bahan tambahan ditimbang dengan teliti.

3. PENGADUKAN / PENCAMPURAN BAHAN
Pencampuran bertujuan untuk pembentukan adonan atau development yang ditandai dengan terbentuknya adonan yang lembut, elastis, ekstensibel, dan nampak kering dan tidak lengket. Pencampuran atau pengadukan dapat dilakukan dengan cara menggunakan mesin yang dikenal dengan nama mixer. Pada prose pengadukan bahan yang diaduk terlebih dahulu adalah bahan – bahan kering kecuali garam, karena garam dapat memperlambat proses fermentasi dan bahkan dapat menginaktifkan aktivitas ragi.
Pencampuran dianggap selesai bila adonan sudah menjadi kalis yaitu lembut, elastis, kering serta resisten terhadap perenggangan ( tidak mudah sobek ). Cara pengujian adonan yang umum dilakukan adalah dengan meregang – regang segumpal adonan membentuk lembaran tipis.
Pengadukan berfungsi anatara lain untuk :
 Mencampur semua bahan secara merata;
 Pembentukan gluten , pelunakan dan mendapatkan kekuatan menahan gas yang baik;
Tahap – tahap pengadukan :
a. Pick up, bahan tercampur rata belum kalis;
b. Clean Up, bahan tercampur rata dan hamper kalis;
c. Final, bahan sudah kalis.

4. PENIMBANGAN DAN PEMOTONGAN
Proses ini diusahakan dilakukan dengan cara secepatnaya karena proses peragian masih berjalan. Pemotongan dan penimbangan bertujuan untuk menghasilkan atau diperoleh berat dan ukuran yang seragam dalam produk akhirnya. Sebelum adonan dipotong sebaiknya gas yang terbentuk harus dikeluarkan dengan cara ditekan atau dipukul. Tujuannyaadalah untuk :
a. Suhu dipermukaan lebih rendah dibandingkan dengan suhu didalam adonan, perbedaan suhu ini akan menyebabkan perbedaan fermentasi pada adonan. Dengan dikeluarkannya gas suhu akan lebih seragam dan kecepatan fernebtasi akan merata.
b. Pada saat adonan terfermentasi, sel ragi dikelilingi oleh gas dan produk fermentasi lainnya lebih lambat. Dengan dikeluarkannya gas, sel ragi akan berfungsi secara efisien.
Pemotongan dapat dilakukan dengan cara manual atau dengan menggunakan mesin. Membagi adonan dengan alat Manual Daugh Devider potongan dapat lebih homogen dan berat lebih seragam. Baca kembali SOP sebelum menggunakan alat.

5. PEMBENTUKAN ( MAKE UP )
Pada saat ini sberurutan adonan dibagi – bagi, dan dibulatkan, diistirahatkan, pengisian, pemolesan, dimasukan dalam loyang dan fermentasi akhir ( final proofing ) sebelum di panggang.
a. Pembagian Adonan ( Dividing )
Proses ini adalah proses pemotongan yang telah dijelaskan diatas. Proses ini bertujuan untuk membagi adonan sama rata dan seragam. Pemotongan dapat dilakukan dengan menggunakan alat pemotong. Manual Dough Devider.
b. Pembulatan Adonan ( Rounding )
Pada prinsipnya, proses rounding bertujuan untuk menahan gas CO2 yang terbentuk selama fermentasi serta memudahkan adonan menyerap udara luar sehingga adonan dapat mencapai volume yang optimum. Potongan adonan hasil pembagian yang masih kasar permukaannya yang bentuk belumberaturan selanjutnya dibulatkan membentuk bulatan yang halus dengan kuli yang relative tebal. Pembulatan adonan dapat dilakukan dengan tangan dengan gaya tarik menarik adonan kearah tengah dibagian bawah. Lakukan dengan satu tangan dan semakin mahir anda dapat membulatkan dengan kedua tangan.

6. INTERMEDIET PROOFING
Merupakan pengistirahatan adonan setelah proses pembulatan agar adonan lebih mudah ditangani pada proses selanjutnya. Pada tahp ini proses fermentasi akan dilanjutkan sehingga adonan kembali elastis setelah kehilangan gas, terenggang dan terkoyak selama penimbangan. Proses ini berlangsung selama 2 – 20 menit, tetapi biasanya rata – rata 6 – 10 menit. Waktunya juga tergantung pada adonan supaya adonan tidak pecah – pecah pada waktu dipipihkan.

7. PEMIPIHAN DAN PENGISISAN
Pemipihan adonan bertujuan untukl menghilangkan atau membuang gas karbondioksida dan mempermudah pengisian adonan. Pengisian adonan dapat menggunakan tangan. Bahan isisan yang biasanya digunakan anatara lain :
1. Selai Nanas
2. Selai strawberry
3. Sosis
4. Keju
5.Kornet.
6.Coklat misis, dll.

Setelah diisi adonan roti bisa dibentuk sesuai dengan selera dan disesuaikan dengan bahan isian.

8. PEMOLESAN
Pemolesan bertujuan untuk menghasilkan warna roti menjadi lebih coklat atau lebih cerah setelah dipanggang. Bahan polesan yang digunakan adalah : 1 butir telur utuh.

9. PANNING
Panning adalah proses meletakkan adonan kedalam loyang yang bersih dan telah dipoles dengan minyak khusus atau bisa menggunakan margarine. Tujuan supaya tidak lengket pada saat pemanggangan. Pada saat meletakkan adonan, sambungan adonan harus berada pada bagian bawah. Hal ini untuk mencegah terbukannya adonan pada saat pemanggangan. Jarak antara adonan, diloyang kira – kira 3 jari tangan.

10. FINAL PROOFING
Final proofing dilakukan sebelum adonan dimasukkan kedalam oven. Merupakan tahap fermentasi akhir sehingga terjadi pengembangan adonan yang mencapai optimum baik. Temperatunya sekitar 38 – 40 derajad celcius dengan kelembapan relative 80 – 85%. Fermentasi dianggap cukup apabila volume adonan mencapai 75 – 90% isi loyang. Biasanya fermentasi ini memerlukan waktu sekitar 45 – 60 menit.

11. PEMANGGANGAN ( BAKING )
Pemanggangan merupakan pematangan adonan menjadi roti yang dapat dicerna oleh tubuh dan menimbulkan aroma yang khas. Pemanggangan merupakan proses yang kritis dari urutan proses untuk menghasilkan roti yang berkwalitas tinggi. Pemanggangan yang terlalu lama dap[at menyebabkan kekerasan dan penampakan yang tidak baik.
Suhu dan waktu pemanggangan yang umumnya untuk pemanggangan adalah 180 – 200 derajad celcius selama 7 – 10 menit. Proses pemanggangan akan menyebabkan volum adonan bertambah dalam waktu 5 – menit pertama dalam oven aktivitas yeast akan berhenti pada suhu 65 derajad celcius temperature adonan. Proses pembakaran roti akan mendenaturasi dan terjadi proses gelatinisasi dari proses pembakaran roti akan mendenaturasi dan terjadi proses gelatinisasi dari kanji, dan untuk menghasilkan remah roti yang kokoh temperature adonan harus mencapai minimum 77 derajad celcius.

12. DEPANNING
Merupakan proses pelepasan roti dari loyang setelah roti mengalami proses pemanggangan sampai matang untuk didinginkan. Jika dibiarkan diatas loyang kemungkinan bagian bawah yang kontak dengan loyang akan gosong. Pendinginan ditempat lembap dapat menyebabkan pengembunan pada permukaan dan kulit roti akan keriput.
13. PENGEMASAN
Pengemasan bertujuan untuk menghindari kontaminasidan pengeringan selama penyimpanan serta memperbaiki penampilan pada saat dipasarkan. Selain itu pengemasan befungsi untuk mencegah pengerasan kulit akibat menguapnya kandungan air. Pengemasan dilakukan ketika suhu roti normal, karena pengemasan pada suhu panas akan menyebabkan kerusakan pada roti lebih cepat. Pengemasan yang baik akan melindungi roti dari kontaminasi, masuknya semut dan kerusakan mekanik.

4.1. HASIL YANG DICAPAI

4.1.1. LANGKAH ATAU PROSES PEMBUATAN ROTI MANIS
A. Persiapan alat dan bahan
Tujuan menyiapkan alat dan bahan untuk mempermudah pada saat proses produksi berlangsung, dimana bahan yang dibutuhkan telah tersedia pada saat roduksi.
Bahan baku antara lain :
 Tepung terigu cakra kembar
 Ragi
 Garam
 Air
Bahan Pengempuk :
 Gula
 Susu
 Telur
 Lemak
Bahan Tambahan : Bread Improver

Lembar Kerja

B. Pembuatan Roti Manis Spesial
Bahan :
 Tepung terigu protein tinggi : 675 gr
 Tepung terigu protein sedang : 75 gr
 Ragi Instan : 22,5 gr
 Air : 340 ml
 Garam : 11,2 gr
 Susu Bubuk : 37,5 gr
 Telur : 75 gr
 Gula : 165 gr
 Lemak / Margarin : 112,5 gr
 Bread improver : –
Alat – alat yang diperlukan :
 Baskom : 1 buah
 Mangkok plastic : 8 buah
 Timbangan : 1 buah
 Mixer : 1 buah
 Loyang pemanggangan : secukupnya
 Kertas plastic : secukupnya
 Gelas ukur : 1 buah
 Kuas kue : secukupnya
 Sendok : secukupnya

Langkah kerja :
1. Timbang dan ukur semua bahan yang dibutuhkan dengan teliti.
2. Bahan keringf (terigu, gula, susu, ragi dan pelembut) kecuali garam, dimasukkan kedalam mesin pengaduk. Aduk dengan kecepatan 1.
3. Setelah sekitar satu menit pengadukan, masukkan 1/3 jumlah air perlahan – lahan, lalu masukkan telur sisa air kemudian garam
4. Setelah tercampur rata, pindahkan kecepatan mixer pada posisi 2, masukkan margarine lalu aduk sampai kalis.
Ciri – cirri adonan menjadi kalis :
 Adonan tidak lengket pada bowl pengaduk.
 Ambil sedikit adonan sampai dapat membentuk lapisan / film tipis.
5. Timbang adonan dengan berat 1300 gr, lalu potong dengan alat manual.
6. Bulatkan potongan – potongan tersebut dengan tangan, lalu tutup dengan plastic selama10 – 15 menit ( intermediet proofing ).
7. Adonan diisi dan dibentuk sesuai dengan keinginan dan isi roti
8. tata dan poles dengan telur diloyang pemanggang.
9. Fernebtasi kedua ( final proofing ) didalam box proofing selama 45 – 60 menit.
10. Bakar dalam oven dengan suhu 180 – 200 derajad celcius selama 7 – 8 menit, hingga berwarna kecoklatan.
11. Roti dikeluarkan dari loyang dan dinginkan.

Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan roti manis :
1. Kebersihan tempat produksi, peralatan serta pekerja harus terjaga.
2. Pada saat penimbangan ragi jangan dicampur dengan bahan lain kecuali pelembut.
3. Mutu bahan atai keadaan bahan harus benar – benar memiliki kwalitas yang baik.
4. Pada saat pngadukan gartam dan lemak diaduk terakhir.
5. Pada saat pemanggangan usahakan alarm dalam keadaan telah menyala dan diatur waktunya sesuai kebutuhan.

4.1.2. Langkah atau Proses Pembuatan Roti Tawar
Persiapan alat dan bahan.
Alat :
1. Baskom : 1 buah
2. Mangkok plastic : 7 buah
3. Cetakan roti tawar : secukupnya
4. Timbangan :1 buah
5. Mixer : 1 buah
6. Gelas ukur : 1 buah
7. Kertas plastic : secukupnya
Bahan :
1. Tepung terigu protein tinggi : 1000 gr
2. Ragi Instan : 15 gr
3. Garam : 20 gr
4. Air : 500 ml
5. Gula Pasir : 50 gr
6. Susu bubuk : 50 gr
7. Lemak (mentega putih) : 1 butir
8. telur : 1 butir
9. Bread Improver : 4 gr

Lembar Kerja
1. Timabang bahan yang dibutuhkan denagan teliti
2. Semua bahan kering kecuali garam, dimasukkan ke dalam mesin pengaduk kecepatan
Pada posisi 1.
3. Setelah 1 menit, masukan 1/3 jumlah air perlahan – lahan lalu masukkan telur, sisa air
kemudian garam.
4. Biarkan adonan tercampur rata, pindah kecepatan pada posisi 2, masukan mentega
Putih kemudian aduk hingga kalis.
5. Potong dan timbang adonan. Untuk tawar besar 1150 gr dan untuk tawar kecil 320 gr.
6. Bulatkan dan tutup dengan plastic selama 10 – 15 menit.
7. Potong adonan menjadi 4 sama besar, bulatkan kembali dan masukan kedalam cetakan.
8. Fermentasi selama 60 – 65 menit.
9. Bakar dengan suhu 200 – 215 derajad celcius selama 24 – 36 menit, hingga berwarna
Kuning ecoklatan.
10.Keluarkan dari cetakan lalu dinginkan.

Hal – hal yang harus diperhatikan Dalam Pembuatan Roti Tawar
Pada dasarnya sama dengan pembuatan roti manis, yaitu :
a. Kebersihan tempat produksi, peralatan dan pekerrja harus terjaga.
b. Pada saat penimbangan harus teliti karena bisa mempengaruhi mutu roti yang dihasilkan.
c. Sebelum adonan roti tawar dimasukkan kecetakan, sebaiknya cetakan diolesi dengan mentega lebih dahulu.

4.1.3. L:angkah atau Proses Pembuatan Donut
Persiapan alat dan bahan :
Alat :
1. Baskom : 1 buah
2. Mangkok plastic : 7 buah
3. Loyang : secukupnya
4. Timbangan : 1 buah
5. Mixer : 1 buah
6. Kertas plastic : Secukupnya
7. Gelas ukur : 1 buah
8. Corong pelubang : secukupnya
Bahan :
1. Tepung terigu protein tinggi : 1000 gr
2. Ragi : 15 gr
3. Air : 500 gr
4. Garam : 12,5 gr
5. Gula : 110 gr
6. Susu : 35 gr
7. Lemak / mentega : 100 gr
8. Bread Improver : 4 gr
9.Telur : 1 butir

Lembar Kerja
Langkah – langkah :
1. Timbang semua bahan dengan teliti.
2. Bahan kering (tepung, ragi, susu, gula, dan pelembut) kecuali garam, dimasukkan
kedalam mixer aduk dengan kecepatan 1.
3. setelah sekitar 1 menit, masukkan 1/3 jumlah air perlahan – lahan, lalu masukan telur
tambah lagi air dan telur.
4. Setelah tercampur rata tambah lagi kecepatannya pada posisi 2, masukkan margarin
lalu aduk hingga kalis. Ciri – cirri adukan kalis yakni tidak lengket atau tidak menem
Pel pada bowl pengaduk, ambil sedikit adonan, tarik – tarik adonan sampai bisa mem
Bentuk lapisan / film tipis.
5. Potong adonan dengan berat 1300 gr lalu dipotong dengan alat pemotong manual.
6. Bulatkan potongan dengan menggunakan tangan, istirahatka selama 6 – 10 menit, dan
ditutup dengan menggunakan kertas plastic.
7. Bentuk adonan menjadi donut dengan melubangi bagian tengah adonan dan memutar
nya dengan jari – jari tangan. Tata di loyang yang telah ditaburi dengan tepung , atur
jaraknya agar tidak bersentuhan.
8. Masukan ke box proofing untuk proses final proofing selama 10 – 15 menit.
9. Goreng donut dengan menggunakan minyak panas yanh telah diberi margarine (simas)
dengan suhu 170 – 200 C, goring dengan membalikkan adonan hungga berwarna
Kuning.
10. Angkat an dinginkan.

CATATAN :

Untuk menghasilkan roti yang empuk dapat dilakukan dengan penggunaan kunir telur yang banyak. Apabila menggunakan putih telue yang berlebihan maka roti akan menjadi keras / a lot, dan jik penggunaanya sedikit, roti akan menjadi rapuh.
Dalam pencampuran, aonan yang mengandung banyak lemak, ada baiknya penambahan lemak diperlambat. Hal ini menyebabkan gluten adonanmengembang lebih efisien.
Penggunaan atau penambahan gula harus diukur dengan hati – hati, karena bila penambahan yang terlalu banyak dapat menyebakan adona menjadi lengket, fermentsi teerhambat, dan warna kulit roti akan menjdai berwarna gelap. Bisa ditanggulangi dengan mengurangi air, menambahkan ragi serta suhu dan waktu pembakaran harus diturunkan.

DIAGRAM ALIR PEMBUATAN ROTI MANIS

Gambar Diagram Alir Pembuatan Roti Manis
BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Kegiatan Produksi

Dalam kegiatan diunit produksi roti. Banyak hal yang diberikan pembimbing kepada penulis, salah satunya adalah pengenalan terhadap alat produksi. Pembimbing mengajarkan bagaimana cara mengoperasikan , merawat dan memakaikannya dengan keselamatan kerja yang diberikan.
Selain pengenalan dengan alat pembimbing juga mengenalkan berbagai bahan penting yang digunakan dalam pembuatan roti, baik itu cara penggunaannya, cara penyimpanannya dan sebagainya. Dalam melakukan produksi, pembimbing juga saran dan informasi tentang penimbangan bahan. Pada tahap penimbangan bahan pekerja harus memperhatikan timbangan dengan cermat dan teliti, karena akan sangat mempengaruhi dari hasil hasil prodksi itu sendiri.
Dari kegiatan tersebut penulis mendapatkan informasi tentang bahan yang ditimbang serta pengaruhnya bila dicampur dengan bahan lain. Penulis juga mendapatkan informasi tentang proses pengadukan dalam pembuatan adonan. Baik itu dari segi bahan yang digunakan maupun teknis perlakuannya. Hal – hal yang harus diperhatikan dalam proses pengadukan yaitu :
b) Jangan langsung memasukkan garam atau margarine pada saat pengadukan karena bisa menghambat proses fermentasi.
c) Lakukan pengadukan secepat mungkin karena proses fermentasi terus berlangsung.
d) Jangan melakukan penambahan gula secara berlebihan karena bisa membuat adonan menjadi lengket, proses fermentasi terhambat, dan warna kulit roti akan menjadi lebih gelap.

5.1.1 Proses Fermentasi
Fermentasi merupakan proses lanjutan dari proses fermentasi. Dimana pada proses ini yeast atau ragi memfermentasikan adonan sehingga menghasilkan gas karbondioksida yang akan mengembankan adonan. Selama proses ini akan membentuk CO2 dan etil alkohol. Gas CO2 yang terbentuk menyebabkan adonan roti mengembang dan alcohol berkontribusi dalam membentuk aroma roti. Kondisi fermentasi yang ideal yaitu temperature 30 – 38 derajad celcius dan kelembapan 75 – 80%. Kondisi untuk ragi yang penting dalam pengembangan membelah diri adalah :
1. Tersedianya air
2. Subtrat ( glukosa )
3. Suhu 26 – 28 derajad celcius.
4. Oksigen

Suhu ideal absolute fermentasi adalah 38 derajad celcius pada kelembapan raelatif 80%.
Reaksi yang dihasilkan dari aktifasi enzim adalah :

C12H22O11+H2O 2C6H12O6
Sukrosa + Air Gula Invert

C6H12O6 2 C2H5OH + 2 CO2
Dekstroksa Etil alcohol + karbondioksida

Khamir sendiri tidak dapat mengawali pembentukan gas dalam adonan, namun dalam proses atau tahapan selanjutnya Khamir merupakan salah satu komponen utama yang berfungsi sebagai pengembang, mematangkan, memproduksi senyawa – senyawa gas adan aroma adonan melalui fermentasi yang dilakukan.

Hanya ada satu Khamir yang baik digunakan dalam fermentasi roti yaitu jenis Saccharomyces Cerevisae, yang juga dikenal dengan /sebagai khamir roti (baker yeast) – (Pyler, 1973).

Keunggulan Khamir disbandingkan dengan pengembang bahan kimia antara lain adalah khamir dapat menghasilkan aroma dan rasa yang khas, sert produksi gasnya dapat berlangsung lebih lama. Kekurangannya adalah dalam hal mengontrolproses serta harganya yang relative lebih mahal dibandingkan dengan bahan kimia pengembanmg.

Ragi yang telah lama atau rusak sebaiknya tidak digunakan karena akan menghasilkan enzim protalitik yang dapat merusak gluten dari tepung serta dapat menurunkan kwalitas roti. Pada tingkat suhu diatas 40 derajad celcius ragi dapat mati. Ragi dapat berhubungan langsung dengan garam, gula, lemak atau asam.

BAB VI
P E N U T U P

6.1. Kesimpulan dan Saran
6.1.1. Kesimpulan

a. Selain dari mutu bahan yang digunakan, kebersihan pekerja juga mempengaruhi roti yang dihasilkan.
b. Bahan yang digunakan dalam pembuatan roti harus memakai bahan – bahan yang mempunyai kwalitas baik.
c. Bahan pokok dalam pembuatan roti adalah tepung, ragi, air dan garam.
d. Kebersihan peralatan serta ruang tempat produksi juga ikut mempengaruhi terhadap roti yang dihasilkan.
e. Dalam proses pembuatan roti banyak perlakuan – perlakuan yang harus diikuti sesuai prosedur.

6.1.2. S a r a n

6.1.2.1. Saran dari Segi Produksi

a. Sebelum melakukan kegiatan produksi ada baiknya melakukan sanitasi terhadap ruangan produksi, alat dan sebagainya.
b. Sebelum melakukan kegiatan produksi sebaiknya siapkan peralatan yang diperlukan.
c. Ketika melakukan proses produksi diharapkan pekerja memakai jas atau kelengkapan kerja.
d. Sebelum menggunakan atau mengoperasikan peralatan kerja sebaiknya membaca SOP dari alat tersebut.

6.1.2.2. Saran untuk Sekolah

a. Tingkatkan lagi kinerja dari program magang.
b. Jalin kerja sama dengan perusahaan yang lebih menunjang kegiatan magang.
c. Khusus untuk program keahlian THP supaya melengkapi semua peralatan produkksi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2001. Cara – Cara Membuat Roti Yang Baik dan Benar. Pusat Penggolahan Terigu Bogasari. Bandung.

Anonim. ( U.S. Wheat Associates ). 1981. Pedoman Penerbit Jembatan. Jakarta.

SALMAN, LILY. M , 2001. Pembuatan Roti Manis. Depdiknas. Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah PPPPTK Pertanian Cianjur.

Iklan

laporan prakrin 2013 di departemen bioteknologi

Published September 14, 2013 by nopriastor1111

LEMBAR PENGESAHAN
Judul :
Nama :
NIS :
Jurusan : AGRIBISNIS TANAMAN PANGGAN & HORTIKULTURA
Lokasi : Departemen Agribisnis tanaman dan Kehutanan Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Pertanian
Cianjur, 26 Oktober 2013
Menyetujui dan Mengesahkan,
Kepala Departemen Agroindustri Pembimbing Lapangan

Ir. Atat Budiarta S., MP
19600305 199002 1 001
Krisnadi, SP
19670617 200701 1 001

Mengetahui,
Kepala Bidang Fasilitasi Peningkatan kompetensi

Ir. Caturto Priyo Nugroho, MM
19620422 198803 1 001
KATA PENGANTAR
Dengan rahmat Allah yang maha kuasa, akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan hasil praktek kerja insdurtri (Prakerin) yang dimulai pada tanggal 26 Agustus sampai dengan tanggal 26 Oktober 2013. Laporan ini memuat tentang kegiatan yang penulis lakukan selama prakerin di PPPPTK. Kegiatan prakerin ini merupakan suatu program sekolah dalam perluasan dan pengembangan kompetensi siswa, terutama kompetensi di bidang Departeman Agribisnis Tanaman. Selain itu juga menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal dunia usaha dan juga menambah wawasan serta pengetahuan.
Dalam penulisan laporan ini melibatkan banyak pihak, sehingga penulis dalam hal ini mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan dan dorongan kepada :
1. Ir. Siswoyo, M.Si selaku Kelapa PPPPTK Pertanian Cianjur.
2. Ir. Catur Priyo Nugroho, MM selaku Kepala Bidang Fasilitas Peningkatan Kompetensi PPPPTK Pertanian Cianjur
3. Ir. Graito, MT, Selaku Kepala Departeman Agribisnis Tanaman PPPPTK Pertanian Cianjur
4. Karyanto, SP selaku Pembimbing Lapangan di Unit Produksi Roti Departemen Agroindustri di PPPPTK Pertanian Cianjur.
5. Ricky Nelson Affar, ST selaku Kepala Sekolah SMK Negeri 7 Jayapura
6. Ir. Lily Mariana Salman, M.Si selaku Koordiantor Prakerin Departemen Agroindustri di PPPPTK Pertanian Cianjur.
7. Nopri Astor Bunga, SP, Selaku Pembimbing Sekolah SMK Negeri 7 Jayapura
8. Kedua orang tua penulis yang selalu memberikan dukungan moril dam materiil serta doa.
9. Teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan semangat dan keluarga besar PPPPTK Pertanian Cainjur.

Dalam penulisan laporan ini diharapkan bermanfaat bagi penulis dan para pembaca.
Cianjur, 26 Oktober 2013
Penulis

DAFTAR ISI
Hlm
LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………………………… i
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….. ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………….. iv

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………….
1.2 Tujuan……………………………………………………………………………………..
1.3 Manfaat……………………………………………………………………………………

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jenis-jenis tanaman herbal…………………………………………………………………..
2.2 Pemeliharaan……………………………………………………………………………………
2.2.1 Pengairan…………………………………………………………………………………
2.2.2 Pemupukan………………………………………………………………………………
2.2.3 Penyiangan……………………………………………………………………………….

BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN
3.1 Waktu dan tempat…………………………………………………………………….
3.2 Persiapan…………………………………………………………………………………
3.2.1 Nama Alat……………………………………………………………………….
3.2.2 Nama Bahan…………………………………………………………………….
3.2.3 Metode Kerja……………………………………………………………………

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil………………………………………………………………………………………
4.2 Pembahasan…………………………………………………………………………….
4.2.1 Jenis-jenis tanamah herbal…………………………………………………
4.2.2 Persiapan Lahan……………………………………………………………….
4.2.3 Penanaman……………………………………………………………………….
4.2.4 Pemeliharaan…………………………………………………………………….

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan………………………………………………………………………………
5.2 Saran……………………………………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Dalam mengahadipi abad 21 yang ditandai oleh liberalisasi perdagangan diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang benar-benar siap dalam menghadapi persaingan global yang makin terbuka.
Selaras dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasioal tentang relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan maka proses pendidikan di sekolah menengah kejuruan (SMK) harus memperhatikan lingkungan dan kebutuhan dunia kerja khususnya dunia usaha atau dunia industri.
Dunia kerja pada masa mendatang secara selektif akan menyaring calon tenaga kerja yang benar-benar profesional dan ahli pada bidangnya karena dengan persaingan global akan makin terbuka lebar kesempatan bagi tenaga kerja asing untuk memasuki dan menguasahi dunia kerja di Indonesia. Oleh karena itu salah satu tatantangan bagi para lulusan SMK adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum memasuki dunia kerja mauapun dunia industri.
Kegiatan praktek kerja industri (Prakerin) merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh siswa program keahlian teknologi hasil pertanian di SMK Negeri 7 Jayapura sebagai salah satu syarat menyelesaikan program praktek kerja industri. Kegiatan prakerin yang dilaksankan ini meningkatkan kemampuan diri untuk berwirausaha serta memliki sifat kemandirian bagi lulusannya.

1.2 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktek Kerja Industri (Prakerin) dilaksanakan mulai dari tanggal 26 Agustus 2013 sampai dengan tanggal 26 Oktober 2013. Kegiatan Prakerin dilaksanakan di PPPPTK Pertanian Cianjur pada Departemen Agroindustri yang beralamat di Jl. Jangari Km. 14 PO BOX 138 Cianjur, Jawa Barat 43202.
1.3 Maksud dan Tujuan
1.3.1 Maksud
a. Siswa dapat membandingkan teori yang diperoleh di sekolah dengan yang ada di lapangan
b. Siswa lebih berpengalaman di dunai industri
c. Siswa menjadi lebih displin dan bertanggung jawab dalam melaksankan tugas

1.3.2 Tujuan
a. Memperoleh pengalaman yang riil di industri yang relevan.
b. Mempercepat waktu penyesuaian bagi lulusan SMK dalam memasuki dunia indstri atau dunai kerja
c. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

1.4 Metode Pakarein
a. Observasi, melakukan pengamatan secara intensif pada kegiatan produksi yang dialami.
b. Wawancara, dengan menanykan secara langsung kepada instruktur dan teknisi lapangan tentang produksi di PPPPTK Pertanian Cianjur.
c. Diskusi, melakukan diskusi bersama pembimbing guna menambah keterangan dan informasi tentang tekik produksi.

1.5 Hasil Dan Manfaat Yang Diharapkan
1.5.1 Hasil
Hasil yang diharapkan dalam mengikuti magang ini adalah agar siswa menjadi terampil dan profesional dalam bidang teknologi hasil pertanian baik dari segi manajemennya maupun dari segi teknologinya serta diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan mengelola keahlian yang didapatnya.

1.5.2 Manfaat
Manfaat yang diharapkan :
a. Semoga siswa dapat mengembangkan dan menetapkan segala sesuatu yang diperoleh dalam mengikuti magang ini.
b. Untuk mengembangkan keterampilan di sekolah masing – masing khususnua di SMK Negeri 7 Jayapura
c. Untuk meningkatkan kompetnsi dan menularkan pada siswa – siswa yang lain pada jurusan teknologi hasil pertanian SMK Negeri 7 Jayapura
d. Untuk mengelola dan mengolah potensi sumber daya alam (SDA) yang ada di daerah masing-masing.

BAB II
KEADAAN UMUM PPPPTK PERTANIAN CIANJUR

2.1 Sejarah Singkat
Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Pertanian Cianjur atau VEDCA (Vocational Education Develoment Center For Agriculture) dulu merupakan unit pelaksanaan teknis (UPT) di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional yang pendirinya mengacu kepada Keputusan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 0529/0/1990, tentang organisasi dan tata kerja Pusat Pengembangan Penataran Guru yang secara resmi mulai beroperasi pada tanggal 09 maret 1991.
VEDCA merupakan suatu lembaga sebagai Pusat Pelatihan Guru Pertanian seluruh Indonesia yang secara umum memiliki peran fungsi dan tugas pokok sbb:
1) Menjadi lembaga pemikir (Think Thank) bagi Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, dalam pengembangan pendidikan menengah kejuruan pertanian.
2) Menjadi lembaga pelayan, Pembina dan pembimbing dalam peningkatan mutu lembaga pelaksanaan pendidikan.
3) Sebagai pelaksana dan pengembang program pendidikan dan latihan dalam bidang kejuruan pertanian.
4) Mengembangkan lembaga VEDCA agar mampu melaksanakan peran, fungsi dan tugas di atas sesuai atau relevan dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta tuntutan masyarakat.
5) Mengembangkan pendidikan Diploma III (DIII) berdasarkan naskah kerjasama Universitas Jenderal Soedirman Nomor: 540/J 23/KS/2002 dan Nomor: 1697a/C5/PP/2002, tanggal 27 Agustus 2002. Vedca dengan Universitas jenderal soedirman Nomor: 1955/C.17/MN/2002 dan Nomor: 5409/J 23/KS/2002, tanggal 20 Agustus 2002.

Pada tanggal 13 Februari 2007, PPPG Pertanian di refungsionalisasi dan berubah namanya menjadi Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan atau PPPPTK Pertanian sesuai dengan pertauran Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 8 tahun 2002. Kedudukan PPPPTK Pertanian atau Vedca kini menjadi unit pelaksana teknis di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional bidang pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan, yang bertanggung jwab penuh kepada Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Tugas PPPPTK Pertanian melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan di bidang pertanian dan menyelenggraka fungsi penyusunan program pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan, mengelola data dan informasi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, memfasilitasi dan melaksanakan peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dan melaksanakan unsur administrasi PPPPTK. Sebagai sub sistem Dirjen PMPTK/Depdiknas, maka PPPPTK Pertanian harus memiliki Visi yang mendukung ketercapaian dari Visi Dirjen PMPTK “Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang profesional dan bermartabat” dan Visi Depdiknas “Terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional untuk membentuk insan Indonesia cerdas komprehensif.”
Visi Tahun 2025 : “Meraih kualitas hidup yang lebih baik melalui pembentukan insan profesional” Makna dari pernyataan tersebut adalah “insan yang memiliki pengetahuan, keterampilan yang didukung oleh sifat dan kepribadian yang menggandrungi keunggulan, bersemangat juang tinggi, mandiri, pantang menyerah, selalu ingin berubah menjadi lebih baik, berwawasan global, inovatif, kreatif, dan produktif untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik.” Pencapaian Visi tahun 2025 dilakukan melalui lima (5) tahap. Pada periode tahun 2010 – 2014 merupakan tahap ke dua (2). Visi Tahun 2014 : “Terselenggaranya layanan prima pendidikan dan pelatihan dalam membentuk insan profesional”
Makna dari pernyataan tersebut adalah “insan yang memiliki pengetahuan, keterampilan yang didukung oleh sifat dan kepribadian yang menggandrungi keunggulan, bersemangat juang tinggi, mandiri, pantang menyerah, selalu ingin berubah menjadi lebih baik, berwawasan global, inovatif, kreatif, dan produktif untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik.” Pencapaian Visi tahun 2025 dilakukan melalui lima (5) tahap. Pada periode tahun 2010 – 2014 merupakan tahap ke dua (2). Visi Tahun 2014 : “Terselenggaranya layanan prima pendidikan dan pelatihan dalam membentuk insan profesional”
Yang dimaksud dengan layanan diklat yang prima adalah :
• Mutu pengelolaan, berstandar internasional dengan menggunakan standar manajemen ISO yang selalu ditingkatkan secara terus menerus (Continous improvment)
• Materi diklat Relevan dengan kebutuhan peningkatan kompetensi PTK dan relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah, serta mengandung muatan yang berkaitan dengan kesepakatan global
• Akses layanan merata untuk seluruh wilayah/daerah di Indonesia
• Tersedia bagi seluruh unsur pendidikan (PTK dan asosiasi profesi)
• Layanan dalam proses diklat dilakukan secara cepat, tepat, dan memuaskan pelanggan
Misi tahun 2014 :
1. Meningkatkan mutu dan relevansi layanan diklat.
2. Meningkatkan pemerataan dan perluasan akses layanan diklat
3. Meningkatkan sistem pengelolaan lembaga yang menjamin
Tata nilai
Aspek manusia merupakan tata nilai yang dianut dan disepakati oleh seluruh anggota organisasi, yang harus dijadikan motto bagi seluruh anggota organisasi dalam bekerja dan berhubungan satu sama lainnya. Tata nilai yang telah dianut dan akan terus dipertahankan adalah “Versatile, dedicate, and care”. Tata nilai ini memiliki nilai-nilai yang luhur, namun didalam implementasinya masih banyak yang belum sesuai dengan makna dari nilai-nilai tersebut. Oleh karena itu mulai tahun 2010 ini nilai-nilai tersebut harus menjadi fokus perhatian yang harus dikembangkan dalam bentuk program dan kegiatan yang realistis dan terukur.

PPPPTK Pertanian telah sepakat menggunakan nilai-nilai lembaga sebagai berikut berikut :
“Versatile-Dedicate-Care” atau disingkat “VEDCA”
Makna yang terkandung pada nilai-nilai tersebut adalah :
Versatile :
• Cakap : Bekerja iklas, cerdas, berhasil dan tuntas
• Profesional : Kompeten, jujur, menggandrungi keunggulan
Dedicate :
• Loyal : Konsisten terhadap pekerjaan
• Disiplin : Tepat waktu dan taat peraturan
• Tanggung jawab : Memiliki komitmen terhadap pekerjaan
Care :
Peduli : Tanggap terhadap kondisi, kebutuhan dan kepentingan lembaga dan masyarakat

2.2 Prestasi Penting yang pernah Diraih
Potensi sumber daya yang ada saat ini menghasilkan berbagai prestasi penting bagi PPPPTK Pertanian atau Vedca, diantaranya Sertifikat ISO 9001 Versi 2000, tentang Manajemen Mutu, kemudian pada tanggal 20 Agustus 2004, diperoleh juga ISO 17025 tentang Manajemen Mutu Laboratorium Pengujian, kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 210/KE/P/M.PAN/12/2006 tanggal 14 Desember 2006, PPPPTK Pertanian atau Vedca dianugerahi Piala Citra dari Presiden Republik Indonesia atas prestasi tinggi sebagai lembaga pelayanan publik.

2.3 Sumber Daya Manusia
Saat ini, lembaga ini didukung oleh sumber daya manuisai yang secara kuantitas maupun kualitas sangat mendukung pengembangan program PPPPTK Pertanian atau Vedca. Untuk dapat menjalankan tugasnya PPPPTK Pertanian dilengkapi fasilitas sumber daya manusia yang terdiri dari sekitar 100 widyaiswara dan instruktur, 80 teknisi dan 90 tanaga pendukung.

2.4 Fasilitas Pendukung
Fasilitas pendukung yang dimiliki anatar laian penginapan berkapasitas 250 orang, sedangkan areal lahan terdiri dari 50 ha tanah darat dan 5 ha tanah sawah. Disamping itu terdapat juga fasilitas sarana ibadah, tempat dan peralatan praktek, lahan uji coba, kandang, kolam, bengkel, sarana olah raga, ruang baljar, laboratorium, ruang pertemuan, ruang makan, transportasi, hiburan/pemancingan, green house, perpustakaan, teleconference point/internet.
Saat ini, Vedca merupakan lembaga di lingkunan departemen pendidikan nasional yang bertanggung jwab secara teknis dalam pengembangan/peningkatan mutu pendidikan menengah kejuruan pertanian, terutama meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan pelatihan kejuruan, layanan jasa konsultan serat produk-produk yang berhubungan dengan aspek teknis pada sub sektor pertanian tanaman hortikultura, sub sektor perikanan dan kelautan, sub sektor pengolahan hasil pertanian, alat mesin pertanian dan aspek-aspek ekonomi dalam agribisnis.

2.5 Aktifitas Yang Telah Dilaksankan
1. pengembangan kurikulum sekolah menengah kejuruan pertanian.
2. pengembangan bahan ajar/bahan latihan yang diperlukan dalam pendidikan dan latihan kejuruan pertanian.
3. pengembangan program dan asistensi peninkatan mutu sekolah kejuruan pertanian.
4. pelatihan manajrial bagi para pengelola sekolah menengah kejuruan.
5. pelatihan kependidikan dan kejuruan bagi para pengelola dan pelaksana sekolah menengah kejuruan pertanian.
6. pendidikan dan pelatihan agribisnis bagi masyarakat umum dan deprtemen lainnya diluar departemen pendidikan nasional.
7. produksi berbagai hasil pertanian (tanaman, ternak, ikan) dan hasil olahannya.
8. pengembangan/inovasi teknologi kependidikan dan latihan serta hal-hal yang berkaitan dengan sektor pertanian dan
9. pelaksanaan pendidikan diploma bidang Akuakultur/budidaya perairan, nautika perikanan laut, kultur jaringa, dan teknologi benih/penangkaran benih, agribisnis ruminasia, pengendalian mutu agroindustri dan rancang bangun peralatan pertanian, teknologi herbal, agrbisnis sutera alam dan teknik komputer jaringan.

2.6 Unit Kerja PPPPTK Pertanian
1. Departemen Agribisnis tanaman dan kehutanan
2. Departemen Agribisnis Peternakan
3. Departemen Agribisnis Perikanan Budidaya
4. Departemen Agroindustri dan Teknik Kimia
5. Departemen Alat Mesin Pertanian Departemen Perikanan Tangkap
6. Departemen Manajemen dan teknologi Pendidikan
7. Laboratorium Pengujian Mutu Agroindustri
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pupuk Kasting
Pupuk organik dihasilkan dari proses pengomposan atau perombakan bahan organik pada kondisi lingkungan yang lembab oleh sejumlah mikroba atau organisme pengurai. Salah satu pengurai adalah cacing tanah. Penguraian oleh cacing tanah lebih cepat dibanding mikroba. Kemampuan cacing tanah mengurai bahan organisnik 3-5 kali lebihncepat. Itulah sebabnya cacing tanah sangat potensisial sebagai penghasil pupuk organik. Bahkan mutu pupuk organiknya lebih baik. Cacing yang digunakan untuk pengkomposan adalah Lumbricus rubellus.
Bahan organik merupakan sumber makanan utama bagi cacing tanah. Setelah bahan orgasnik dimakan maka dihasilkan pupuk organik. Pupuk organik tersebut lebih dikenal sebagai kasting (bekas cacing). Kasting merupakan partikel-partikel tanah berwarna kehitaman yang ukurannya lebih kecil dari partikel tanah biasa sehingga lebih cocok untuk pertumbuhan tanaman (Palungkun, 1999).
Kasting mengandung berbagai bahan atau komponen yang bersifat biologis maupun kimiawi yang sanagt berguna untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Komponen biologis yang terkadung dalam kasting diantaranya hormon pengatur. tumbuh seperti gibrelin, sitokinin dan auksin. Kasting bersifat netral dengan ph 6,5-7,4 dan rata-ratanya adalah 6,8.

Tabel 1. Komposisi komponen kimiawi pada kasting
Komponen Kimiawi Komposisi (%)
Nitrogen (N) 1,1 – 4,0
Fosfor (P) 0,3 – 3,5
Kalium (K) 0,2 – 2,1
Belerang (K) 0,24 – 0,63
Magnesium (M) 0,3 0,6
Besi (Fe) 0,4 – 1,6
Sumber : Palungkun, 1999

Dilihat dari kadungan unsurnya, kasting jauh lebih baik dari pada pupuk organik karena hampir seluruh unsur hara yang dibutuhkan tanaman tersedia di dalamnya. Kasting mampu meningkatkan dan memperbaiki kualitas produksi tanaman.
Cacing tanah yang digunakan untuk pembuatan pupuk kasting bermacan-macam, tergantung keadaan lokasi dan tujuan yang ingin dicapai. Hartenstein dan Bisesi (1989) dalam Yulipriyanto, H. (1993) menyatakan bahwa sebagian besar cacing tanah “vermicomposting” terdapat di daenah beriklim sedang. Bebenapa cacing tanah yang sudah dikenal sebagai penghasil pupuk kasting antana lain: Lumbicus rubellus, Eisenia foetida dan Periong excavafus. Minnich (1977) dalam Yulipriyanto, H. (1993), memberikan beberapa contoh cacing tanah yang digunakan untuk pengomposan sebagai berikut:
• Cacing tanah menah atau “red worm”, terdiri dari spesies Lumbricus rubellus dan Eisenia foetida atau “brandling worm”. Cacing tanah ini rnsnpunyai ciri-ciri tidak tahan hidup di kebuh dan daerah pertanian dalam jangka waktu lama, cepat berkembang biak baik pada tumpukan bahan kompos maupun pada limbah kandang, tetapi beberapa diantaranya ada yang mati apabila bahan organik mulai panas karena aktivitas mokroorganisme yang meningkat.
• Cacing tanah Allolobophora caliginosa dan Lumbricus terrestis atau ‘night clawer. Cacing tanah ini akan menyerang tumpukan bahan kompos dan limbah kandang dari bawah. Cacing tanah ini tidak dapat berkembang dengan cepat pada tumpukan bahan kompos yang temperatumya tinggi, karena akan mudah terbunuh pada proses pemanasan. Cacing tanah lainnya masih banyak yang belum diidentifikasi, antara lain dari genus Pheretima.

Menurut Gaur (1982) dalam Yulipriyanto, H. (1993), untuk memperoleh cacing tanah yang akan dipakai dalam pengomposan, dilakukan perbanyakan terlebih dahulu. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perbanyakan cacing tanah antara lain lokasi dan cara-cara penanganan delama berlangsungnya kegiatan perbanyakan cacing tanah. Lokasi perbanyakan cacing tanah dapat dipilih pada tanah kebun agar mudah beradaptasi. Lingkungan tempat perkernbangbiakan harus sesuai dengan persyaratan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidupnya, baik faktor fisik, kimia maupun biologinya. Komponen penyusun media tumbuh untrk perkembangbiakan dapat menggunakan berbagai jenis bahan organik. Bahan penyusun tersebut harus memenuhi peresyaratan antana lain mengandung berbagai vitamin, mineral, protein dan karlcohidrat yang cukup. Dengan demikian bahan-bahan organik seperti kotoran sapi, kuda atau kambing dapat digunakan sebagai media tumbuh. Dapat pula diberi tambahan bahan lain seperti serbuk gergaji, jenami atau karton. Bahan-bahan media tumbuh harus porous, agar oksigen dapat bebas masuk dan gas-gas yang berbahaya mudah keluar (Gaur, 1982 dalam Yulipriyanto, H. 1993). Dinyatakan pula bahwa komposisi media tumbuh dapat terdiri dari 55% serbuk gergaji, 35o/o sekam padi dan 10% dedak. Ketebalan media tumbuh untuk pemeliharaan cacing tanah dapat dipilih dari 5-10 cm. Perbandingan antara jumlah cacing tanah dengan jumlah bahan-bahan media bermacan-macam, diantananya ada yang menggunakan 50 individu cacing tanah untuk setiap liter media, 2000 individu cacing tanah untuk setia satu neter persegi luas beclengan dengan ketebalan 5-10 cm. Disamping itu ada pula yang menggunakan bectengan dari kayu berukuran panjang, lebar dan tinggi 60 x 45 x20 cm, yang berisi 20 liter media dengan diberi 1 kg cacing tanah.
Selama penguraian bahan organik oleh cacing tanah, dilakukan pemberian makanan tambahan yang disebut sebagai pakan, berupa bahan-bahan organik yang mengandung karbohidrat, protein, mineral dan vitamin (Anonim, 1982). Dinyatakan pula bahwa pemberian pakan bahan organik yang mengandung 1% nitrogen dan selulosa.
menurutGaur (1982), memberikan pakan berupa kotoran ayam selama perbanyakan cacing tianah yang besarnya sama dengan bobot cacing tanah yang ada dalam media. Pengendalian temperatur dan pH selama berlangsungnya penguraian bahan organik (media tumbuh) adalah penting, agar cacing tanah tidak keluar dari wadah media. Dengan demikian cacing tanah tersebut dapat menguraikan media secara optimal. Cacing tanah dapat dipanen atau dipisahkan dari media untuk keperluan pengomposan setelah penguraian 1-2 bulan (Yulipriyanto. H, 1993)

Karakteristik Gacing Tanah tergolong dalam kelompok binatang avertebrata (tidak bertutang belakang), sehingga sering disebut binatang lunak. Binatang ini sering dijumpai di tempat-tempat lembab. Seluruh tubuhnya tersusun atas segmen-segmen yang berbentuk cincin, sehingga digolongkan dalam .Phylum Annelida’ (Rony Palungkun, 1999). Ciri-ciri Phylum Annelida adalah sebagai berikut:
1) Tubuhrrya simetris bilateral, sitindris dan bersegmen-segmen serta pada permukaan tubuh terdapat sederetan dinding tipis atau sekat-ekat.
2) Saluran pencemaan makanan dan mulut terletak pada bagian depan (muka), sedangkan anus di bagian belakang
3) Mempunyai rongga tubuh (coelom) yang berkembang dengan baik
4) Bernapas dengan kulit dan insang
5) Mempunyai peredaran darah tertutup dan darahnya mengandung haemoglobin.

Karakteristik fisik yang dimiliki oleh cacing tanah (Lumbicus rubellus) adalah:
1) Panjang tubuh antara 8-4 cm dan jumlah segmen 95-100 segmen
2) Wama tubuh bagian punggung (dorsal) coklat menah sampai ungu kemerah-merahan, wama tubuh bagian ventral krem dan bagian ekor kekuning-kuningan, bentuk tubuh dorsal membulat dan vertikal pipih.
3) Klitelum terfetak pada segmen ke-27-32, Jumlah segmen pada klitelum antara 6-7 segmen.
4) kelamin jantan terletak pada segmen ke-14 dan lubang kelamin betina pada segmen ke-13.
5) Gerakannya lamban dan kadar air tubuh berkisar 70-78%.
Cacing tanah bersifat hermaphrodite, artinya pada setiap ekor cacing tanah terdapat alat kelamin jantan dan betina. Meskipun bersifat demikian, untuk menghasilkan kokon yang berisi telur-telur anak-anak cacing tanah, selalu diperlukan dua ekor cacing tanah untuk berkopulasi, saling menukar sperma, masing-masing akan memproduksi telur dan
akan menetas satu atau lebih cacing tanah. Perkawinan dapat dilakukan satiap waktu, bila kondisinya mendukung (Edwards dan Lofly, 1977 dalam Yulipriynto, H. 1993). Pada waktu mengadakan kopulasi, tubuh cacing tanah saling melekatkan diri melalui bagian permukaan venbal dengan arah yang saling berhwanan. Pada waktu kopulasi, lendir disekresikan sedemikian rupa sehingga tubuh cacing tanah menjadi tertutup oleh lendir dari segmen ke-9 sampai ujung posterior dari klitelum. Proses pembuahan telur berlangsung dalam cincin lendir, pada akhirnya cincin tersebut akan meluncur ke depan pitu ke bagian ujung anterior cacing tanah. Ketika lepas ujung cincin lendir tersebut, akan menutup dan membentuk kapsul yang dinamakan kokon (Yulipriyanto, H. 1993).

2.2 Pengaruh Bahan Organik Terhadap Sifat Fisik Tanah
Menurut larson dan clapp dalam Diana Mustafa (1996), bahwa bahan organik mempengaruhi isi tanah melalui kegiatannya menurunkan densitas agregat tanah dan meningkatakjanb ukuran agregat. Slama prose oksidasi bahan organik ini, unsur-unsur seperti N,P, S dan sejumlah unsur-unsur lainnya dilepaskan dan menempati bagian di dalam profil tanah. Kondisi ini sulit dipenihu dengan pengguanaan pupuk anorganik (Diana, 1996). Sisa bahan organik yang terdekompsisi dapat mncegah partikel tanah dari proses pengumpalan, sehingga dapat memelihra \strukutr tanah yang terbuka atau remah (Johnston, 1991).
Pengaurh bahan organik sangat penting terhadap agregat menjadi penting, katrena ukuran, pengaturan dan stabilitas agregat tanah memiliki pengaruh yang luas dalam sifat fisik tanah dan peertumbuhan tanaman. Pengaruh bahan organik terhadap agregat menjadi penting, karean ukuran, pengaturan dan stabiltitas “agregat” tanah memlilki pengaruh yang luas dalam sifat fisik tanah dan pertumbuhan tanaman.
Mikrooraginsme tanah memegang perannan pemnting dalam pembenrtukan dan stabilitas agrgat, sehingga memberikan pengaruh yang baik pada produksi tanaman. Ukuran, bentuk dan stabilitas agregat tanah telah mengontrol distribusi ukuran pori (Lynch dan Bragg, 1985).

2.3 Pengaruh Bahan Organik Terhadap Fisiologi Tumbuhan
Menurut Sudarkoco (1992), bahwa bahan organik memberi pangaruh langsung atau tidak langsung terhadap pertumbuhan tanaman. Hadirnya bahan organik berpengaruh langsung terhadap fisiologi tumbuhan antara lain :
1) Senyawa humus dapat berperan sebagai zat tumbuh sepeeti auksin sehingga meningkatkan kapasitas perkecambahan (Kononovora, 1966 dalam Louisiana Susan, 1995).
2) Meningkatkan permeabfilitas membmn tanaman sehingga meningkatkan pengambilan hara (Lieke, 1935 dalam Sudarkoco, 1992:29′).
3) Konsentrasi yang rendah dari asam humik dapat mengubah metabolisme karbohidrat dari tanaman dan pada saat yang sama mendorong akumulasi gula terlarut, sehingga meningkatkan tekanan osmotik tanaman. Dalam kondisi kelembaban yang rendah, hal tersebut akan mendorong resistensi yang besar terhadap kelayua (Flaig, 1960 dalam Louisiana Susan, 1995).
4) Kombinasi senyawa-senyawa organik seperti asam asetat, propionat, butirat dan valenat telah terbukti meningkatkan pertumbuhan akar, namun jika berdiri sendiri tidak ada pengaruhnya (Wallace dan Mritehand, 1980 dalam Tan, 1991).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pupuk Organik Kasting
Pupuk organik kasting atau sering disebut dengan istilah kasting merupakan pupuk organik hasil eksresi cacing tanah. Pada dasamya proses pembuatan kasting tedadi dalam tubuh cacing tanah dan setelah keluar dari tubuhnya merupakan proses fermentasi. Didalam tubuh cacing tanah terdapat bakteri-bakteri yang membantu dekomposisi bahan organik menjadi senyawa yang lebih sederhana dan siap diserap oleh tanaman (Rao, 1982 dalam Diana Mustafa, 1996).
Menurut Gaur (1982), proses penguraian sisa-sisa bahan organik oleh cacing tanah untuk menghasilkan kompos disebut dengan istilah “vermicomposting”. Pendapat tersebut menggambarkan bahwa peranan cacing tanah adalah sangat penting dalam membantu mempercepat perombakan bahan organik. Cacing tanah dapat merombak bahan organik karena cacing tanah menggunakan bahan organik sebagai makanannya. Dengan demikian tidak menutup kemungkinan bahwa dimasa mendatang, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai pengolah limbah dalam skala besar.
Para ahli lain yang menggunakan istilah ‘vermicomposting” antara lain Minnich (1977) dalam Yulipriyanto, H. (1993) dan Albanell et al. (1988), sedangkan Edwards et al. (1985) dalam Yutipriyanto, H. (1993) memberi istilah Vermicultur untuk cacing tanah yang berperan sebagai pengurai bahan organik disebut waste decomposef (Lee, K.E. 1985). Dalam “vermikomposting’, yang melakukan penguraian bahan organik sebenamya bukan hanya cacing tanah, melainkan juga mikroorganisme, baik bakteri, fungi maupun aktinomisetes (Gaur, 1980). Cacing tanah dalam menguraikan bahan organik, dilakukan dengan cana mengaduk dan memakan bahan organik serta rnembuat liang-liang dalam masa bahan organik (Galli et al., 1983).
Hasil biodegradasi bahan organik merupakan suatu bahan yang mempunyai nilai pupuk tinggi, dinamakan vermicompos atiau kasting (Lee, K.E. 1983). Disamping itu beliau juga menyatrakan bahwa di dalam kasting mengandung substansi semacam hormon, humus dan sejumlah mikroorganisme yang meng untungkan bagi pertumbuhan tanaman. Peran kasting dalam meningkatkan kesuburan tianaman yaitu memperbaiki kemampuan menahan air, membantu menyediakan nutrisi untuk tanaman, memperbaiki struktur tanah dan menetralkan pH tanah (Minnich, 1977 dalam Yenny Andayani, 1993).
Menurut Schreir dan Timmenga (1986), bahwa kasting yang mempunyai struktur remah dapat mempertiahankan kestabilan dan aerasi tanah. Dengan demikian bakteri ”aerob” dapat tumbuh dengan baik dan sangat berperan untuk kesuburan tanah. Kasting maupun kompos mengandung unsur-unsur hara utama seperti Nitrogen, Fosphor dan Kalium (Mackay,A.A., J.K. Syers, J.A., Springett and P.E.H. Gregg, 1982). Perbedaan sifat kimia dan kandungan unsur hara diantara kedua pupuk organik tersebut dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini.

Tabel 1. Perbedaan sifat kimia dan kandungan unsur hara kasting dan kompos
NO PARAMETER KASTING KOMPOS
1 Ph 6,8 6
2 C-Oraganik 20,68% 25,04%
3 N-organik 1,90% 1,19%
4 P tersedia 33,54 ppm –
5 P total 61,42 ppm –
6 Ca 30,00 me/100g 10,75 me/100g
7 Mg 15,23 me/100g 3,13 me/100g
8 K 10,31 me/100g 7,26 me/100g
9 Na 2,42 me/100g 5,30 me/100g
10 Kapasitas Tukar Kation (KTK) 68,95 me/100g 35,50 me/100g
11 Kejenuhan Basa (KB) 84,00% 74,48%
Sumber : Dinas kebersihan kota dalam rukmana (1999)

Didalam kasting dan kompos mengandung zat perangsang tumbuh yang sangat dibutuhkan oleh tanaman serta enzim-enzim seperti protease, amilase, lipase, dan selulase yang berfungsi dalam perombakan bahan organik (Ross dan caims, 1982 dalam Diana Mustafa, 1996). Proses pembuatan kasting pada prinsipnya meliputi tiga komponen utama yaitu penentuan jenis cacing tianah, tahap perbanyakan dan pengomposan. Edwardsetal (1985) dalam Yulipriyanto. H (1993), membagi tahap-tahap pengomposan limbah/bahan organik oleh cacing tanah menjadi lima bagian yaitu: studi laboratorium, studi mikrobiologi, studi lapangan dan vermicultuf dalam skala besar, analisis protein cacing tanah dan penggunaannya sebagai pakan temak serta analisis sifat-sifat bahan hasil perombakan yang akan digunakan sebagai media pertumbuhan tanaman.
Dinyatakan pula balwa secara umum penanganan limbah/bahan organik oleh cacing tanah dibagi menjadi beberapa tahapan yaitu: persiapan limbah, perbanyakan cacing tanah, pemanenan dan penanganan cacing tanah serta penanganan kasting sebagai hasil penguraiannya. setiap perlakuan dalam tahapan-tahapan tersebut mempunyai alasan-alasan tertentu yang bertujuan agar proses penguraian/perombakan limbah/bahan organik dapat berjalan dengan sempuma.
Anonim (1930) dalam Yulipriyanto, H. (1993), menyatakan bahwa dalam melakukan degradasi bahan organik oleh cacing tanah agar berhasil dengan baik harus melalui langkah-langkah sebagai berikut (1) merancang lokasi, (2) menentralkan ukuran dan jenis wadah, (3) memilih cacing tanah yang akan digunakan, (4) menentukan jenis limbah/bahan organik dan (5) menentukan jenis pakan yang diberikan. Senyawa yang berguna bagi tanaman dan tanah, disebabkan di dalam usus cacing tanah bersimbiosis dengan mikroorganisme yang membantu dekomposisi bahan-bahan organik. Cendawan Actinomycetes, bakteri asam butirat bakteri pengurai selulosa, Bacillus cereus dan Acefobacter, merupakan mikroorganisme yang banyak di temukan pada kasting (Rao, 1982 dalam Diana Mustafia, 1996).

4.2 Pengomposan Limbah/BahanOrganik
Pengomposan adalah suatu proses pengelolaan limbah padat, dengan cara bertahap komponen bahan padat diuraikan secara biologis dibawah keadaan terkendali sehingga menjadi bentuk yang dapat ditangani, disimpan atau digunakan untuk lahan pertanian tanpa pengaruh yang merugikan (Hanada, 1990). Definisi lain dinyatakan oleh Haug (1980), bahwa pengomposan sebagai proses dekomposisi dan stabilisasi bahan secara biologis dengan produk akhir yang cukup stabil untuk digunakan di lahan pertanian tanpa pengaruh yang merugikan. Dalzell and K Thurairajan (1987) dan Gaur (1980) mendefinisikan pengomposan sebagai proses perombakan bahan organik oleh sejumlah besar mikroorganisme dalam lingkungan yang lembab, panas, beaerasi dan humus sebagai hasil akhir. Pengomposan bahan-bahan organik, terutama pada sisa-sisa tanaman dan kotoran hewan sering dilakukan oteh pana petani, dengan tujuan untuk menambah tingkat kesuburan lahan pertanian yang dikelolanya. Tujuan dan sasanan pengomposan pada dasamya untuk memantapkan bahan-bahan organik yang berasal dari bahan-bahan limbah, mengurangi bau, membunuh organisme patogen dan biji-biji gulma, pada akhimya menghasilkan pupuk organik seragam dan sesuai untuk tanah (Haga and Kiyonori, 1990).
Menurut W.E. Splittstoesser (19&4), dekomposisi bahan organik menjadi kompos bergantung pada kandungan air dan nitrogen yang cukup pada bahan serta temperatur yang sesuai. Kndungan air dan nitrogen dari protein rnerupakan sumber nutrisi yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme pengurai. Untuk penguraian bahan yang optimal, sangat diperlukan pengendalian suhu agar aktivitias dan pertumbuhan mikroorganisme dapat berlangsung dengan baik. Aktivitas biologi merupakan fiaktor penting dalam pengomposan. Berbagai mikrorganisme terlibat dalam proses dekomposisi bahan organik, antara lain bakteri, fungi, aktinomycetes, ragi, mikrofauna protozoa. Jumlah bakteri lebih banyak dibandingkan dengan mikoorganisme lain, tetapi ukurannya lebih kecil, kemudian diikuti oleh aktinomycetes, Fungi dan Protozoa. Selain mikroorganisme, aktivitas biologi dalam pengornposan juga dilakukan oleh biota pengurai lainnya seperticacing tanah.
Galli, E., Tomati U. and A. Grappeli (1983), berpendapat bahwa cacing tanah clapat mempercepat perombakan bahan organik yang dilakukan oleh mikroorganisme, sehingga waktu pengompcan menjadi lebih pendek.. Penggunaan cacing tanah selain dapat pempendek waktu pengomposan iuga menghernat tenaga dalam pekerjaan membalikan bahan yang dikomposkan. proses pengomposan dapat berlangsung secara aerobik maupun anaerobik (Gaur, 1980). Pada proses dekomposisi secara aerobik, mikroorganisme menggunakan oksigen untuk menguraikan bahan organik dan mengasimilasi Karbon, Nitrogen, Fosfor, Sulfur dan unsur-unsur lainnya untuk sintesis protoplasma. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
aktivitas
Bahan organit CO2+H2O+Hara+Humus +E
mikroorganisme

Pada proses dekomposisi secara anaerobik, reaksi biokimia berlangsung melalui proses reduksi. Tahap awal pengomposan, kelompok bakteri penghasil asam, heterotrof fakutatif mendegradasi bahan oqanik menjadi asam-asam lemah, aldehid dan seterusnya. Kelompok bakteri yang lain, merubah produk antana menjadi metana, ammonia, karbon dioksida dan hidrogen. Reaksi kimia yang terjadi selama dekomposisi bahan organik secam anaerobik adalah sebagai beriku
Bakteri penghasil asam
(CH2O)x X CH3COOH
CH3COOH CH4 + CO2
N-organik NH3
2H2S + CO2 (CH20) + S + H2S
Kecepatan penguraian bahan organik menjadi kompos bergantung pada beberapa faktor yaitu: ukuran partikel, unsur hara, kandungan air, aerasi, keasaman (pH) dan suhu (Nurwachid Budi Santoso, 2001). Ukuran partikel berpengaruh pada keberhasilan proses pengomposan. Ukuran yang baik antara 10 sampai 50 mm, apabila terlalu kecil ruang-ruang antara partikel menjadi sempit sehingga dapat menghambat gerakan udara ke dalam tumpukan dan sirkulasi gas karbon dioksida keluar tumpukan. Apabila ukuran partikel sangat besar, luas permukaan kurang sehingga reaksi pengomposan akan berjalan lambat atau bahkan akan berhenti sama sekali (Dalzell, Gray KR., Tharairajan, 1991).
Aktivitas mikroorganisme dalam proses pengomposan memerlukan sumber energi dari unsur karbon dan nitrogen. Unsur-unsur tersebut biasanya telah tersedia cukup dalam bahan organik, bahkan kebanyakan unsur hara lainnya tersedia pula dalam jumlah yang cukup. Untuk mempercepat proses pengomposan, dibutuhkan bahan organik yang memiliki rasio C/N relatif rendah yaitu berkisar antara 25 sampai 35/liter dalam campunan pertama. Apabila rasio C/N lebih besar, proses pengomposan akan memakan waktu lebih lama,hingga pembentukan karbon dioksida dari oksidasi unsur karbon berkurang. Sebaliknya apabila rasio C/N lebih kecil, nitrogen dalam bahan organik akan dibebaskan sebagai amoniak (Nurwrchid Budi santoso, 2001 ). Cara paling sederhana untuk menyesuaikan rasio C/N ialah dengan mencampur berbagai bahan organik yang mempunyai rasio C/N tinggi dengan bahan yang mempunyai rasio C/N rendah. Hal ini dapat dilakukan misalnya bahan berjerami dicampur dengan tinja, kotoran hewan yang mernpunyai rasio C/N lebih rendah. Rasio C/N bahan-bahan organik yang sering digunakan sebagai bahan kompe dapat dilihat pada tabel 2
Tabel 2. Komposisi Berbagai Bahan Organik Untuk Pembuatan Kompos
NO BAHAN ORGANIK KADAR UNSUR N (bobot kering) RASIO C/N
1 Potongan ru,ut muda 2-2,4 TD
2 Pupuk hijau tumbuh-tumbuhan 3-5 10-15
3 Sampah kota/sayuran 2-3 10-16
4 Kotoran babi 1,9 13
5 Kotoran sapi 1-1,9 19
6 Sampah kota/kandungan kertas tinggi 0,6-1,3 30-80
7 Padi-padian dan batang kacang polong 0,7 70
8 Jerami gandum 0,6 80
9 Daun-daun segar yang gugur 0,4-1,0 40-80
10 Sampah gula tebu 0,3 150
11 Serbuk gergaji segar 0,1 500
12 Tinja 5,5-6,5 6-10
13 Kotoran unggas 4 TD
14 Jerami padi – 80-130
15 Jerami barley – 80-130
16 Batang jagung – 100-120
17 Batang kapas – 50-60
18 Kotoran biri-biri – 23
19 Kotoran kuda – 20
20 Sisa buah-buahan – 35
21 Hijauan gulma – 13
22 Ampas kopi 1,0-2,3 8
23 Urin Hewan 15-18 0,8
Keterangan: TD = Tidak ditentukan

Makin tinggi tingkat dekomposisi dari bahan organik, makin kecil rasio C/N. Pada rasio C/N rendah tidak ada persaingan antarta akar tumbuhan dengan mikroorganisme dalam menggunakan unsur nitrogen dalam tanah (Joetono, 1998). Kandungan air pada bahan organik sebaiknya antana 30-40%, hal ini ditandai dengan tidak menetesnya air apabila bahan digenggam dan akan mekar apabila genggaman dilepaskan. Kandungan air bahan terlalu tinggi, ruang antar partikel dari bahan menjadi sempit karena terisi air, sehingga sirkulasi udara dalam tumpukan akan tefiambat. Kondisi tersebut berakibat pada tumpukan bahan akan didominasi oleh mikroorganisme anaerob yang menghasilkan bau busuk tidak sedap. Dalam proses pengomposan, mikroorganisme dalam bahan organik sangat memerlukan jumlah udara yang cukup, karena prosesnya berlangsung secap aerob. Aerasi dapat diperoleh melalui gerakan udara dari alam masuk ke dalam tumpukan dengan rnembulak-balik bahan secara berkala, baik menggunakan mesin maupun dengan tangan/cangkul.
Keasaman (pH) pada tahap awal pengomposan, akan terjadi perubahan pH yaitu bahan agak asam, karena terbentuk asam organik sederhana, selanjutnya pH berangsur naik, karena terlepasnya ammonia (bersifat basa) dari hasil penguraian protein. Keadaan basa yang terlalu tinggi, menyebabkan selama proses pengompos kehilangan nitrogen secara berlebihan (Nunrachid Budi Santeo, 2001). Dalam proses pengomposan, sebagian energi dibebaskan sebagai panas. Pada tahap awal suhu tumpukan bahan sekitar 400C, mikroorganisme yang terlibat adalah bakteri dan fungi mesofilik. Selanjutnya suhu bahan naik hingga di atas 400C, mikroorganisme yang berperan adalah mikroorganisnp termofilik, actinomycetes dan fungi termofilik. Setelah suhu berangsur turun, maka mikroorganisme mesofilik muncul kembali, selanjutnya, gula dan pati nnngalami perombakan, diikuti oleh perombakan hemiselulosa, selulosa dan akhimya fignin. Menurut L. Murbandono HS. (2000) dalam Nurwachid Budi Santoso (2001), suhu ideal dalam pengomposan antara 3O0C sampai 450C. Apabila suhunya tertalu tinggi maka mikroorganisme akan mati, sebafiknya apabila suhu pengomposan terlalu rendah, mikroorganisme belum dapat bekerja secara optimal (Yovita Hety Indriani, 1999).
4.2 Pengomposan Bahan Organik Secara Konvensional
Tujuan dari proses pembuatan kompos ini adalah:
1) Menyiapkan bahan dari berbagai jenis bahan organik,
2) Mencampur bahan organik secam homogen,
3) Mengomposkan campuran bahan organik,
4) Mememelihara campunan bahan selama pengomposan,
5) Menentukan waktu pengomposan,
6) Memanen hasil pengomposan

Alat- alat yang digunakan adalah karung goni/plastik, golok/sabit/chooper, cangkul, garpu, ember plastik, gembor/alat penyiram tanaman, kantong pengemas plastik, alat Sealer, alas papan, thermoneter, alat pengaduk kayu dan timbangan kasar.
Bahan-bahan yang digunakan adalah Bahan-bahan yang digunakan adalah serbuk gergaji 25%, alang-alang/rerumputan 13% kotonan ternak sapi 25%, daun bambu dan daun kering 7%, potongan rumput 20% dan EM-4 10%.) dan air untuk menaikkan kelembaban bahan.
Langkah kerja dalam pembuatan kompos adalah
1) Kecilkan ukuran bahan yang masih panjang dengan dipotong-potong nenjadi sekitar 3-5 cm, sehingga diperoteh ukuran bahan yang seragam
2) Timbang semua bahan dengun benat masing-masing 1 bagian kecuali kotonan tenak 3 bagian,
3) Gampurkan semua bahan dengan diaduh aduk sampai homogen/merata sambil disiram air sehingga pada saat campuran dikepal megeluarkan tetesan air
4) Komposkan campuran bahan dengan cana menumpukan pada tanah/lantai setinggi kira-kira 1 m, selanjutnya ditutup karung goni/plastik pada seruluh permukaannya. proses pengomposan dapat berlangsung 2 sampai 3 minggu, tergantung dari jenis bahan
5) Amati dan catat setiap hari kenaikan suhu dan perubahan warna tumpukan bahan. Kegiatan ini untuk mengetahui apakah proses pengomposan dapat berlangsung baik atau tidak, yaitu dengan adanya kenaikan suhu dan perubahan warna selama proses
6) Tumpukan bahan diaduk setiap tiga hari sekali secara merata dan ditutup kembali. Kegiatan ini untuk nenghindari kelebihan suhu dan diharapkan proses penguraian dapat berlangsung pada seluruh permukaan bahan
7) Akhiri proses pengomposan apabila telah memenuhi kreteria: suhu telah turun dan stabil, wama coklat kehitaman, sebagian besar bahan telah lapuk, bau khas kompos
8) Kompos yang dihasilkan perlu diuraikan lebih lanjut dengan menambah waktu pengomposan secara alami atau menggunakan cacing tanah selama 2-3 minggu

Alur pembuatan kompos
4.3 Pengomposan Bahan Organik Penggunaan Biota Pengurai Cacing Tanah ( Kascing )
Tujuannya adalah :
1) Menyiapkan bahan dari berbagai jenis bahan organik
2) Mencampur bahan orgnnik secara homogen
3) Mengomposkan campuran bahan otganik
4) Memelihara campuran bahan selama pengomposan
5) Menentukan waktu pengomposan
6) Memanen hasil Pengomposan

Alat- alat yang digunakan adalah karung goni/plastik, golok/sabit/chooper, cangkul, garpu, ember plastik, gembor/alat penyiram tanaman, kantong pengemas plastik, alat Sealer, alas papan, thermoneter, alat pengaduk kayu dan timbangan kasar.
Bahan-bahan yang digunakan adalah serbuk gergaji 25%, alang-alang/rerumputan 13% kotonan ternak sapi 25%, daun bambu dan daun kering 7%, potongan rumput 20% dan EM-4 10%. air untuk menaikkan kelembaban bahan dan gacing tanah (Lumbricus rubellus)
Langkah kerjanya adalah :
1) Kecilkan ukuran bahan yang masih panjang dengan dipotong-potong menjadi sekitar 3-5 cm, sehingga diperoleh ukuran bahan yang seragam
2) Timbang semua bahan dengan berat masing-masing l bagian kleculai kotoran tenak 3 bagian
3) Gampurkan semua bahan dengan diaduk-aduk sampai homogen sambil disiram air sehingga pada saat campuran dikepal mengeluarkan tetesan air
4) Komposkan campuran bahan dengan cara menumpukan pada tanah/lantai setinggi kira-kira 1 m, selanjutrya ditutup karung goni/plastik pada seluruh permukaannya. Proses pengomposan dapat berlangsung 2 sampai 3 minggu, tergantung dari ienis bahan
5) Amati dan catat setiaphari kenaikan suhu dan perubahan warna tumpukan bahan. Kegiatan ini untuk mengetahui apakah proses pengomposan dapat bertangsung baik atau tidak yaitu dengan adanya kenaikan suhu dan perubahan wama selama proses
6) Tumpukan bahan diaduk setiap tiga hari sekali secara merata dan ditutup kembali. Kegiatan ini untuk menghindari kelebihan suhu dan diharapkan proses penguraian dapat berlangsung pada seluruh permukaan bahan
7) Akhiri proses pengomposan apabila telah nemenuhi kreteria: suhu telah turun dan stabil, warnaa coklat kehitaman, sebagian besar bahan telah lapuk, bau khas kompos dan cacing bisa masuk pada tumpukan kompos
8) Media kompos ditimbang dan dibuat guludan memanjang, setiap guludan beratnya sekitar 50 kg
9) Timbang cacing tanah seberat 1 kg untuk setiap guludan media kompos
10) Letakkan cacing tanah di atas permukaan guludan secara merata, menunggu beberapa saat hingga semua cacing masuk ke dalam media kompos
11) Timbang pakan kotoran ternak yang sudah siapkan sebelumnya seberat 3 – 5 kg/guludan, letakkan di seluruh permukaan guludan secara merata
12) Lanjutkan penguraian media kompos dan pakan kotoran ternak oleh cacing tanah selama 2 – 3 minggu.
13) Guludan digemburkan dengan cara membalikkan media kompos secara perlahan setiap tiga hari selama proses penguraian, selanjutnya tambahkan pakan, berat dan caranya seperti pada no 11
14) Media kompos baru diletakkan disebelah kiri dan kanan guludan 3 hari sebelum panen, sehingga dapat dipastikan semua cacing sudah berpindah tempat ke media baru tersebut
15) Guludan bagian tengah yang sudah menjadi kasting dipanen dengan cara dipisahkan dari media konpos baru dan dipastikan tidak ada cacing yang terbawa dalam kasting,
16) Kascing dikering anginkan atau dijemur sampai kadar air kasting 8-10 % selanjutnya diayak dan dikemas dengan karung plastik/kantong plastik.

Tabel hasil pengamatan
Hari pengamatan Suhu Warna/kenampakan Bau
Hari ke-0 280C Warna masih sama dengan aslinya Bau kotoran sapi yang masih menyengat
Hari ke-2 400C, 400C, 380C
Rata-Rata 39,30C Warna coklat Bau kotoran sapi masih tercium
Hari ke-5 400C, 400C, 390
Rata-Rata3 9,60C Warna masih coklat Bau kotoran sapi sudah berkurang
Hari ke-8 350C, 350C, 370
Rata-Rata 35,60C Warna coklat kehitaman Bau kotoran sapi sudah lebih banyak berkurang
Hari ke-11 350C, 350C, 350
Rata-Rata 350C Warna agak kehitaman Bau kotoran sapi tidak tercium lagi
Hari ke-15 310C, 300C, 310
Rata-Rata 30,30C Warna hitam agak tua Tercium bau khas kompos

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1) Keberhasilan dalam pembuatan pupuk kasting adalah proses terjadinya kenaikian suhu dan penurunan suhu sebagai indikator adanya aktivitas mikroba.
2) Permasalahan yang dihadapi dalam pembuatan pupuk kasting adalah harga jual yang mahal.

5.2 Saran
1) Perlu pencatatan data pengamatan yang akurat agar keberhasilan dalam pembuatan pupuk kasting adalah proses terjadinya kenaikian suhu dan penurunan suhu sebagai indikator adanya aktivitas mikroba lebih optimal
2) Perlu kerjasama antara petani, peneliti, universitas fakultas pertanian dan lembaga-lembaga yang konsen dan terkait dalam dunia pertanian.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2004, Acuan Pendidikan Lingkungan Hidup, Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta
Agus. S dkk. 1999, Sampah dan Pengelolaannya. Edisi ke II, VEDC. Malang
Albanell dkk. 1988, Chemical Change During Compostiung (Eisenia Foetida) Of Sheep Manure MixCotton Industrial. Bio Fertill Soil
Bambang. S. 1999, Peranan Cacing Tanah dalam Pengelolaan Sampah dan Sebagai Sumber Pendapatan Masyarakat. Diklat Budidaya Cacing Tanah. Bandung.
Dalzell dkk, 1991. Pengolahan Tanah Produksi dan Penggunaan Kompos, dalam buku Duterbrige. Limbah Padat di Indonesia Masalah atau Sumber Daya, Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
Suryana. 2002, Pengaruh Cacing Tanah dalam Perombakan Media Tumbuh dan Pakan Berbagai Jenis Limbah/Bahan Organik Terhadap Kualitas Kasting serta Pengaruhnya pada Tanaman Sawi, Tesis, Universitas Sebelas Maret
Sutanto. R, 1996. Memahami Prinsip Pemupukan Berimbang dalam Pertanian. Dalam makalah Pertanian Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjut. Fakutas pertanian UGM. Yogyakarta
Sutanto. R, 1996. Potensi Bahan Organik Sebagai Komponen Teknologi Masukan Rendah dalam Meningkatan Produktifitas Lahan Kritis di DIY. Dalam Proseding Lokakarya dan Exspose Teknologi System Usahatani dan Alsintan.. Yogyakarta

PROSES PEMBUATAN KOMPOS

PROSES PEMBUATAN CASCING
A. PENYIAPAN CACING DAN KOTORAN SAPI (sebagai sumber makanan )

B. PEMBUATAN CASCING

laporan prakrin 2013 cianjur pada departemen agribisnis tanaman panggan n hortikultura

Published September 14, 2013 by nopriastor1111

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di daerah tropis khususnya Indonesia tumbuh berbagai tanaman rempah, daun-daunan, akar-akaran, umbi-umbian yang bersifat anti oksidan, anti bakteri seperti merica, pala, cengkeh, kapulaga, sereh, jahe, kunyit yang sering digunakan untuk bumbu masakan sehingga masakan tidak mudah basi atau busuk karena tercemar bakteri. Lain halnya pada masakan-masakan di daerah sub tropis atau dingin yang banyak menggunakan protein dan lemak hewani untuk menghangatkan tubuh. Tanaman di daerah tropis lebih banyak menyerap dan menyimpan matahari dan sari tanah. Bagi mereka yang mengkonsumsi lebih banyak sayuran dari pada daging akan lebih sehat (tentu saja tanpa pestisida /pupuk kimia).
Tanaman herbal di Indonesia sekarang sudah tidak terlalu di sering digunakan. Apalagi pada masyarakat kota, karena meraka lebih suka mengkonsumsi obat-obat yang terbuat dari kimia. Padahal obat-obat yang dikonsumsi masyarakat kota banyak mengandung bahan kimia dan itu mempunyai efek samping yang dapat merugikan manusia. Perkembangan industri obat tradisional terus meningkat. Kesadaran masyarakat semakin meningkat tentang manfaat tanaman sebagai obat. Obat herbal dapat diperoleh tanpa resep dokter, dapat diramu sendiri, bahan baku tidak perlu diimpor, dan dapat ditanam sendiri oleh pemakainya.
Dalam memanfaatkan dan mengembangkan tanaman obat, juga harus diperhatikan pelestarian dan perlindungannya. Pemanfaatan obat tradisional untuk pemeliharaan kesehatan dan gangguan penyakit hingga saat ini masih sangat dibutuhkan dan perlu dikembangkan, terutama dengan melonjaknya biaya pengobatan dan harga obat-obatan. Adanya kenyataan bahwa tingkat kebutuhan masyarakat terhadap pengobatan semakin meningkat, sementara taraf kehidupan sebagian masyarakat kita masih banyak yang kemampuannya pas-pasan. Maka dari itu, pengobatan dengan bahan alam yang ekonomis merupakan solusi yang baik untuk menanggulangi masalah tersebut. Dengan kembali maraknya gerakan kembali ke alam (back to nature), kecenderungan penggunaan bahan obat alam/herbal di dunia semakin meningkat. Gerakan tersebut dilatarbelakangi perubahan lingkungan, pola hidup manusia, dan perkembangan pola penyakit. Obat yang berasal dari bahan alam memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan obat-obatan kimia, karena efek obat herbal bersifat alamiah. Dalam tanaman-tanaman berkhasiat obat yang telah dipelajari dan diteliti secara ilmiah menunjukan bahwa tanaman-tanaman tersebut mengandung zat-zat atau senyawa aktif yang terbukti bermanfaat bagi kesehatan(Maheswari, 2002). Pengobatan dengan obat modern ternyata tidak mampu mengobati semua penyakit. Beberapa penyakit yang cukup berat seperti tumor dan kanker ternyata tidak cukup diobati dengan obat modern, tetapi juga diperlukan obat tradisional. Efek samping jauh lebih aman dibanding obat kimia. Besarnya konsumsi obat-obat dari bahan alami telah membuka peluang yang cukup besar bagi pengembangan tanaman obat.

1.1 Maksud dan Tujuan
1.1.1 Maksud
a. Siswa dapat membandingkan teori yang diperoleh di sekolah dengan yang ada di lapangan
b. Siswa lebih berpengalaman di dunai industri
c. Siswa menjadi lebih displin dan bertanggung jawab dalam melaksankan tugas

1.1.2 Tujuan
a. Memperoleh pengalaman yang riil di industri yang relevan.
b. Mempercepat waktu penyesuaian bagi lulusan SMK dalam memasuki dunia indstri atau dunai kerja
c. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

1.2 Metode Pakarein
a. Observasi, melakukan pengamatan secara intensif pada kegiatan produksi yang dialami.
b. Wawancara, dengan menanykan secara langsung kepada instruktur dan teknisi lapangan tentang produksi di PPPPTK Pertanian Cianjur.
c. Diskusi, melakukan diskusi bersama pembimbing guna menambah keterangan dan informasi tentang tekik produksi.

1.3 Hasil Dan Manfaat Yang Diharapkan
1.3.1 Hasil
Hasil yang diharapkan dalam mengikuti magang ini adalah agar siswa menjadi terampil dan profesional dalam bidang teknologi hasil pertanian baik dari segi manajemennya maupun dari segi teknologinya serta diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan mengelola keahlian yang didapatnya.
1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktek Kerja Industri (Prakerin) dilaksanakan mulai dari tanggal 26 Agustus 2013 sampai dengan tanggal 26 Oktober 2013. Kegiatan Prakerin dilaksanakan di PPPPTK Pertanian Cianjur pada Departemen Agroindustri yang beralamat di Jl. Jangari Km. 14 PO BOX 138 Cianjur, Jawa Barat 43202.

BAB II
KEADAAN UMUM PPPPTK PERTANIAN CIANJUR

2.1 Sejarah Singkat
Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Pertanian Cianjur atau VEDCA (Vocational Education Develoment Center For Agriculture) dulu merupakan unit pelaksanaan teknis (UPT) di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional yang pendirinya mengacu kepada Keputusan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 0529/0/1990, tentang organisasi dan tata kerja Pusat Pengembangan Penataran Guru yang secara resmi mulai beroperasi pada tanggal 09 maret 1991.
VEDCA merupakan suatu lembaga sebagai Pusat Pelatihan Guru Pertanian seluruh Indonesia yang secara umum memiliki peran fungsi dan tugas pokok sbb:
1) Menjadi lembaga pemikir (Think Thank) bagi Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, dalam pengembangan pendidikan menengah kejuruan pertanian.
2) Menjadi lembaga pelayan, Pembina dan pembimbing dalam peningkatan mutu lembaga pelaksanaan pendidikan.
3) Sebagai pelaksana dan pengembang program pendidikan dan latihan dalam bidang kejuruan pertanian.
4) Mengembangkan lembaga VEDCA agar mampu melaksanakan peran, fungsi dan tugas di atas sesuai atau relevan dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta tuntutan masyarakat.
5) Mengembangkan pendidikan Diploma III (DIII) berdasarkan naskah kerjasama Universitas Jenderal Soedirman Nomor: 540/J 23/KS/2002 dan Nomor: 1697a/C5/PP/2002, tanggal 27 Agustus 2002. Vedca dengan Universitas jenderal soedirman Nomor: 1955/C.17/MN/2002 dan Nomor: 5409/J 23/KS/2002, tanggal 20 Agustus 2002.

Pada tanggal 13 Februari 2007, PPPG Pertanian di refungsionalisasi dan berubah namanya menjadi Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan atau PPPPTK Pertanian sesuai dengan pertauran Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 8 tahun 2002. Kedudukan PPPPTK Pertanian atau Vedca kini menjadi unit pelaksana teknis di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional bidang pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan, yang bertanggung jwab penuh kepada Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Tugas PPPPTK Pertanian melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan di bidang pertanian dan menyelenggraka fungsi penyusunan program pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan, mengelola data dan informasi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, memfasilitasi dan melaksanakan peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dan melaksanakan unsur administrasi PPPPTK. Sebagai sub sistem Dirjen PMPTK/Depdiknas, maka PPPPTK Pertanian harus memiliki Visi yang mendukung ketercapaian dari Visi Dirjen PMPTK “Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang profesional dan bermartabat” dan Visi Depdiknas “Terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional untuk membentuk insan Indonesia cerdas komprehensif.”
Visi Tahun 2025 : “Meraih kualitas hidup yang lebih baik melalui pembentukan insan profesional” Makna dari pernyataan tersebut adalah “insan yang memiliki pengetahuan, keterampilan yang didukung oleh sifat dan kepribadian yang menggandrungi keunggulan, bersemangat juang tinggi, mandiri, pantang menyerah, selalu ingin berubah menjadi lebih baik, berwawasan global, inovatif, kreatif, dan produktif untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik.” Pencapaian Visi tahun 2025 dilakukan melalui lima (5) tahap. Pada periode tahun 2010 – 2014 merupakan tahap ke dua (2). Visi Tahun 2014 : “Terselenggaranya layanan prima pendidikan dan pelatihan dalam membentuk insan profesional”
Makna dari pernyataan tersebut adalah “insan yang memiliki pengetahuan, keterampilan yang didukung oleh sifat dan kepribadian yang menggandrungi keunggulan, bersemangat juang tinggi, mandiri, pantang menyerah, selalu ingin berubah menjadi lebih baik, berwawasan global, inovatif, kreatif, dan produktif untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik.” Pencapaian Visi tahun 2025 dilakukan melalui lima (5) tahap. Pada periode tahun 2010 – 2014 merupakan tahap ke dua (2). Visi Tahun 2014 : “Terselenggaranya layanan prima pendidikan dan pelatihan dalam membentuk insan profesional”
Yang dimaksud dengan layanan diklat yang prima adalah :
• Mutu pengelolaan, berstandar internasional dengan menggunakan standar manajemen ISO yang selalu ditingkatkan secara terus menerus (Continous improvment)
• Materi diklat Relevan dengan kebutuhan peningkatan kompetensi PTK dan relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah, serta mengandung muatan yang berkaitan dengan kesepakatan global
• Akses layanan merata untuk seluruh wilayah/daerah di Indonesia
• Tersedia bagi seluruh unsur pendidikan (PTK dan asosiasi profesi)
• Layanan dalam proses diklat dilakukan secara cepat, tepat, dan memuaskan pelanggan
Misi tahun 2014 :
1. Meningkatkan mutu dan relevansi layanan diklat.
2. Meningkatkan pemerataan dan perluasan akses layanan diklat
3. Meningkatkan sistem pengelolaan lembaga yang menjamin
Tata nilai
Aspek manusia merupakan tata nilai yang dianut dan disepakati oleh seluruh anggota organisasi, yang harus dijadikan motto bagi seluruh anggota organisasi dalam bekerja dan berhubungan satu sama lainnya. Tata nilai yang telah dianut dan akan terus dipertahankan adalah “Versatile, dedicate, and care”. Tata nilai ini memiliki nilai-nilai yang luhur, namun didalam implementasinya masih banyak yang belum sesuai dengan makna dari nilai-nilai tersebut. Oleh karena itu mulai tahun 2010 ini nilai-nilai tersebut harus menjadi fokus perhatian yang harus dikembangkan dalam bentuk program dan kegiatan yang realistis dan terukur.

PPPPTK Pertanian telah sepakat menggunakan nilai-nilai lembaga sebagai berikut berikut :
“Versatile-Dedicate-Care” atau disingkat “VEDCA”
Makna yang terkandung pada nilai-nilai tersebut adalah :
Versatile :
• Cakap : Bekerja iklas, cerdas, berhasil dan tuntas
• Profesional : Kompeten, jujur, menggandrungi keunggulan
Dedicate :
• Loyal : Konsisten terhadap pekerjaan
• Disiplin : Tepat waktu dan taat peraturan
• Tanggung jawab : Memiliki komitmen terhadap pekerjaan
Care :
Peduli : Tanggap terhadap kondisi, kebutuhan dan kepentingan lembaga dan masyarakat

2.2 Prestasi Penting yang pernah Diraih
Potensi sumber daya yang ada saat ini menghasilkan berbagai prestasi penting bagi PPPPTK Pertanian atau Vedca, diantaranya Sertifikat ISO 9001 Versi 2000, tentang Manajemen Mutu, kemudian pada tanggal 20 Agustus 2004, diperoleh juga ISO 17025 tentang Manajemen Mutu Laboratorium Pengujian, kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 210/KE/P/M.PAN/12/2006 tanggal 14 Desember 2006, PPPPTK Pertanian atau Vedca dianugerahi Piala Citra dari Presiden Republik Indonesia atas prestasi tinggi sebagai lembaga pelayanan publik.

2.3 Sumber Daya Manusia
Saat ini, lembaga ini didukung oleh sumber daya manuisai yang secara kuantitas maupun kualitas sangat mendukung pengembangan program PPPPTK Pertanian atau Vedca. Untuk dapat menjalankan tugasnya PPPPTK Pertanian dilengkapi fasilitas sumber daya manusia yang terdiri dari sekitar 100 widyaiswara dan instruktur, 80 teknisi dan 90 tanaga pendukung.

2.4 Fasilitas Pendukung
Fasilitas pendukung yang dimiliki anatar laian penginapan berkapasitas 250 orang, sedangkan areal lahan terdiri dari 50 ha tanah darat dan 5 ha tanah sawah. Disamping itu terdapat juga fasilitas sarana ibadah, tempat dan peralatan praktek, lahan uji coba, kandang, kolam, bengkel, sarana olah raga, ruang baljar, laboratorium, ruang pertemuan, ruang makan, transportasi, hiburan/pemancingan, green house, perpustakaan, teleconference point/internet.
Saat ini, Vedca merupakan lembaga di lingkunan departemen pendidikan nasional yang bertanggung jwab secara teknis dalam pengembangan/peningkatan mutu pendidikan menengah kejuruan pertanian, terutama meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan pelatihan kejuruan, layanan jasa konsultan serat produk-produk yang berhubungan dengan aspek teknis pada sub sektor pertanian tanaman hortikultura, sub sektor perikanan dan kelautan, sub sektor pengolahan hasil pertanian, alat mesin pertanian dan aspek-aspek ekonomi dalam agribisnis.

2.5 Aktifitas Yang Telah Dilaksankan
1. pengembangan kurikulum sekolah menengah kejuruan pertanian.
2. pengembangan bahan ajar/bahan latihan yang diperlukan dalam pendidikan dan latihan kejuruan pertanian.
3. pengembangan program dan asistensi peninkatan mutu sekolah kejuruan pertanian.
4. pelatihan manajrial bagi para pengelola sekolah menengah kejuruan.
5. pelatihan kependidikan dan kejuruan bagi para pengelola dan pelaksana sekolah menengah kejuruan pertanian.
6. pendidikan dan pelatihan agribisnis bagi masyarakat umum dan deprtemen lainnya diluar departemen pendidikan nasional.
7. produksi berbagai hasil pertanian (tanaman, ternak, ikan) dan hasil olahannya.
8. pengembangan/inovasi teknologi kependidikan dan latihan serta hal-hal yang berkaitan dengan sektor pertanian dan
9. pelaksanaan pendidikan diploma bidang Akuakultur/budidaya perairan, nautika perikanan laut, kultur jaringa, dan teknologi benih/penangkaran benih, agribisnis ruminasia, pengendalian mutu agroindustri dan rancang bangun peralatan pertanian, teknologi herbal, agrbisnis sutera alam dan teknik komputer jaringan.

2.6 Unit Kerja PPPPTK Pertanian
1. Departemen Agribisnis tanaman dan kehutanan
2. Departemen Agribisnis Peternakan
3. Departemen Agribisnis Perikanan Budidaya
4. Departemen Agroindustri dan Teknik Kimia
5. Departemen Alat Mesin Pertanian Departemen Perikanan Tangkap
6. Departemen Manajemen dan teknologi Pendidikan
7. Laboratorium Pengujian Mutu Agroindustri

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jenis-jenis Tanaman Herbal
Di Indonesia terdapat banyak jenis-jenis tanaman herbal. Sebelum membahas lebih jauh tentang tanaman herbal. Terlebih dahulu kita akan membahas pengertian tanaman herbal dan latarbelakangnya. Pengertian Herbal merupakan singkatan dari kata Herba yang berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah tumbuhan, sedangkan dalam bahasa Inggris herb yang berarti jamu. Jadi definisi herbal adalah tumbuhan yang memiliki khasiat tinggi bagi kesehatan manusia dan dengan bahan yang merupakan hasil kekayaan alam. Ilmu yang mempelajari tentang pengobatan berbasis tanaman herbal adalah Herbalogi. Pengobatan berbasis herbal merupakan pengobatan paling tua di dunia, manusia kuno mencari kesehatan dan kesembuhan bagi dirinya melalui benda-benda di sekelilingnya seperti tumbuhan, hewan dan lain sebagainya.
Pada zaman perbudakan di Mesir, tepatnya pada tahun 200 SM, budak yang di angkut dari afrika diberi asupan daun bawang dan jahe untuk menangkal penyakit demam dan flu sebab kalau seorang budak yang sakit maka nilai jualnya pun menjadi turun. Tabib-tabib di jazirah Arab menggunakan aneka tumbuhan herbal untuk kesehatan dan kesembuhan pasiennya. Pada abad pertengahan, penggunaan obat herbal dikembangkan oleh pendeta-pendeta kuno untuk menyembuhkan orang sakit. Namun, dunia pengobatan herbal yang paling maju adalah Tiongkok dan negeri barat. Sinsei Tiongkok memadukan pengobatan dengan teknik akupuntur. Uniknya, bahan pembuat obat-obatan di pasok dari Indonesia. dari zaman Sriwijaya dan majapahit, bumi nusantara atau Indonesia menghasilkan aneka tanaman rempah yang berguna bagi orang-orang Indonesia dan juga bagi orang-orang luar. Perdagangan tanaman dan hasil rempah dikirim untuk dijual ke negeri utara seperti Tiongkok dan negeri barat. Sejarah pengobatan Indonesia di yakini sudah berlangsung sejak nenek moyang kita mulai mngenal manfaat dan khasiat dari berbagai tanaman yang sudah tertanam dan merupakan kekayaan kita hingga dikembangkan sampai sekarang ini. Jamu merupakan salah satu bukti warisan pengobatan dari nenek moyang kita. Jamu dibuat dari aneka rempah-rempah khas Indonesia. Sampai sekarang pun, khasiatnya tak pernah sedikit pun diremehkan dan diragukan. Membudidayakan tanaman obat-obatan secara serius sangat menguntungkan karena pasarnya jelas, yakni industry jamu tradisional seperti yang ada di Taman Jamu Indonesia, maupun konsumen eceran yang membutuhkan tanaman obat. Ada dua peluang membudidayakan tanaman herbal, yakni penjualan bibit tanaman dan produk tanaman seperti rimpang, daun, batang maupun akarnya. Semuanya member manfaat ekonomis bagi para petani herbal.
Table 1. Jenis-jenis tanaman herbal
No Nama jenis Nama Tumbuhan
1. Daun Sirsak, Miana, binahong, kumis kucing, sambiloto, iler, dll.
2. Batang Iler, brotowali,
3. Bunga Iler, rossela
4. Akar Alang-alang,
5. Kulit batang Kayu manis, jambu biji, minyak kayu putih
6. Buah Jambu biji, mahkota dewa, mengkudu,

2.2 Pemeliharaan
2.2.1 Pengairan
Air merupakan bahan yang sangat vital bagi kebidupan tanaman. Kekurangan air mengakibatkan terganggunya perkem-bangan morfologi dan proses fisiologi tanaman. Masalah kekurangan air timbul akibat siklus hidrologi di alam yang tidak merata. Sebagai tindak lanjut-nya, lahirlah pemikiran untuk memenuhi kekurangan air yang sering terjadi. Salah satu ilmu yang mengkaji dan membahas masalah air bagi pertanian adalah ilmu irigasi.
Irigasi berarti berarti memberi air padata tanaman untuk memenuhi
kebutuhan air bagi pertumbuhannya.
Kebutuhan air tanaman sama dengan
kehilangan air per satuan luas yang
diakibatkan oleh kanopi tanaman
ditambah dengan hilangnya air melalui
penguapan permukaan tanah pada
luasan tertentu. Dengan demikian
kebuhtuhan air tanaman ditentukan
dengan menghitung besarnya penguapan
(evaporasi) permukaan tanah dan
penguapan kebutuhan air secara tepat.
Banyak faktor yang perlu mendapat
perhatian, terutama faktor meteorologi
dan faktor hidrologi yang berhubungan
langsung dengan jumlah dan efisiensi
irigasi.
Kegiatan-kegiatan irigasi meliputi
penampungan air, penyaluran air ke
lahan, dan pembuangan kelebihan air
serta menjaga kontinyuitas air. Pada
prinsipnya air irigasi yang ditambahkan
adalah untuk menutupi kekurangan air
tanah yang telah ada pada saat yang
diperlukan dan dalam jumlah yang cukup.
Oleh karena itu untuk merancang irigasi
diperlukan data hidrologi, meteorologi,
dan pengelolaan air yang mantap.
Keguanaan air irigasi adalah untuk
mempermudah pengolahan tanah,
mengatur suhu tanah dan iklim mikro,
membersihkan tanah dari kotoran, kadar
unsur-unsur racun, dan garam serta asam
yang berlebihan, menekan pertumbuhan
gulma, hama dan penyakit tanaman.
Fungsi Air bagi tanaman
Fungsi air bagai tanaman adalah : (a)
bagian dari protoplasma, bisanya air
membentuk 85% sampai 90% dai berat
keseluruhan dari bagiaan hijau tanaman
(jaringan yang sedang tumbuh), (b)
reagen yang penting dalam proses
fotosintesa dan dalam proses hidrolitik
seperti perubahan pati menjadi gula; (c)
pelarut garam, gas dan berbagai material
yang bergerak ke dalam tanaman melalui
dinding sel, dan jaringan xilem ke dalam
tanaman, melalui dinding sel dan jaringan
xilem serta menjamin kesinambungannya;
(d) sesuatu yang esensial
untukmenjamin adanya turgiditas
pertumbuhan sel, stabilitas bentuk daun,
proses membuka dan menutupnya mulut
daun, kelangsungan gerak, struktur
tanaman.
Kebutuhan air bagi tanaman
Kebutuhan air tanaman dinyatakan
sebagai jumlah satuan air yang diserap
per satuan berat kering yang dibentuk
atau banyaknya air yang diperlukan untuk
menghasilkan satu satuan berat kering
tnaman. Selama pertumbuhan tanaman
terus menerus mengisap air dari tanah
dan mengelarkannhya pada sat
transpirasi. Kehilangan air pada tanaman
dapat terjadi melalui (a) transpirasi, (b)
akibat sampingan fiksasi karbon dioksida
dalam pemecahan karbon dan oksifgen.
Waktu yang untuk melakukan penyiraman adalah disaat tumbuhan butuh air hal ini ditandai dengan daun layu. Dan biasanya untuk mendapatkan hasil yang maksimal pengairan ini dilakukan pada pagi hari. Penyiraman ini juga tidak harus sering-sering dilakukan, tetapi hal ini dapat terjadi jika kita menyiram sesuai kapasitas lapangan.

2.2.2 Pemupukan
Di dalam tanaman herbal digunakan pupuk organik.
a. Fungsi pupuk organik:
– Memperbaiki struktur tanah
– Meningkatkan daya serap tanah terhadap air
– Menciptakan kondisi yang baik untuk kehidupan di dalam tanah
– Sumber unsur hara yang dibutuhkan tanah.

b. Jenis-jenis pupuk organik
– Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan baik padat maupun cair. Kandungan unsur hara kotoran ternak berbeda-beda, karena masing-masing ternak mempunyai sifat khas tersendiri. Kandungan unsur hara dalam pupuk dipengaruhi oleh jenis ternak, makanan dan usia ternak.
– Kompos adalah pupuk yang berasal dari pelapukan bahan-bahan berupa dedaunan, jerami, alang-alang, rumput, kotoran hewan, sampah kota, dll. Proses pelapukan kompos dapat dipercepat melalui bantuan manusia. pengomposan berarti merangsang perkembangan bakteri (jasadrenik) untuk menguraikan bahan-bahan yang dikomposkan agar terurai menjadi senyawa lain. Dalam proses penguraian tersebut mengubah unsur hara yang terikat dalam senyawa organik. Sehingga yang tadinya senyawa organik yang sukar larut setelah diproses dapat langsung diserap tanaman. Pengomposan juga bertujuan menurunkan resiko C/N. Jika bahan organik yang memiliki rasio C/N tinggi tidak dikomposkan dan langsung diberikan ke dalam tanah maka proses penguraiannya akan terjadi di tanah, mengakibatkan CO2 dalam tanah meningkat. Sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman, bahkan pada tanah ringan mengakibatkan daya ikat terhadap air rendah serta struktur tanahnya berserat dan kasar.
– Pupuk Hijau adalah pupuk yang berasal dari tanaman (hijauan) meliputi bagian daun, tangkai dan batang muda tanaman tertentu yang banyak mengandung unsur Nitrogen. Tanaman yang dikategorikan pupuk hijau menpunyai bakteri rhizobium yang menempel pada akar, terutama pada tanaman famili Leguminosae.
– Humus adalah sisa tumbuhan berupa daun, akar, cabang dan batang yang sudah membusuk secara alami lewat bantuan mikroorganisme dan cuaca. Sifat humus tidak berbeda dari kompos yaitu mudah mengikat air dan gembur, sedangkan ciri khasnya berwarna hitam sampai coklat tua. Salah satu cara menambahkan humus ke dalam tanah adalah dengan membenamkan pupuk hijau ke dalam tanah sehingga akan terjadi pembusukan yang membentuk humus.
c. Cara memupuk
Cara memupuk sangat tergantung pada jenis tanaman dan kebiasaan teknik budidaya yang diterapkan karena kita tidak bisa mengetahui kebutuhan tanaman secara tepat dan kandungan unsur hara tersedia dalam tanah. Semua hanya berdasarkan pengamatan fisik, kecuali jika menganalisa kandungan hara tanah ke laboratorium. Ada macam-macam cara memupuk
– Ditabur atau disebar, pemupukan ini diterapkan untuk pupuk berupa butiran (granule) atau serbuk. Pemupukan cara ini dilakukan pada tanaman yang jarak tanamnya rapat atau tidak teratur dan pada tanaman yang sistem perakarannya dangkal seperti tanaman padi.
– Larikan, pemupukan ini dilakukan dengan tahap pertama membuat larikan untuk memupuk, masukkan pupuk ke dalam larikan kemudian tutup lagi dengan tanah agar pupuk yang diberikan tidak mudah menguap. Pemupukan cara ini dilakukan pada tanaman yang jarak tanamnya lebar dan teratur seperti jagung, kacang tanah, dll.
– Dimasukkan ke lubang tanam, pemupukan cara ini digunakan untuk tanaman tahunan yang sebelumnya diawali dengan pembuatan lubang tanam. Pupuk dimasukkan ke dalam lubang kemudian ditutup lagi dengan tanah.
– Pengocoran, pemupukan ini diterapkan untuk pupuk cair atau pupuk padat yang pemberiannya dilarutkan dulu dalam air. Keuntungan memupuk cara ini adalah pupuk langsung diserap oleh akar tanaman yang kemudian diolah oleh daun.
2.2.3 Penyiangan
Tanaman pertanian mudah terpengaruh oleh gulma, terutama sewaktu masih muda. Apabila pengendalian gulma diabaikan sama sekali, maka kemungkinan besar usaha tanaman pertanian akan rugi total. Pengendalian gulma yang tidak cukup pada awal pertumbuhan tanaman pertanian akan memperlambat pertumbuhan dan masa sebelum panen. Beberapa gulma lebih mampu berkompetisi daripada yang lain (misalnya Imperata cyndrica), yang dengan demikian menyebabkan kerugian yang lebih besar.
Sedangkan batasan mengenai pengertian gulma ada beberapa hal antara lain :
Tumbuhan yang tidak dikehendaki tumbuh di suatu tempat dan harus dikeluarkan dari tempat tersebut.
Tumbuhan yang berkompetesi dengan manusia dalam hal (penggunaan) tanah
Tumbuhan yang berkompetisi secara fisik dengan tanaman budidaya dalam hal penggunaan sarana tumbuh (air, unsur hara, cahaya matahari, CO2 dan ruang tempat tumbuh)
Tumbuhan yang mempunyai pengaruh negatif terhadap manusia baik secara langsung maupun tidak
Gulma mengkibatkan kerugian-kerugian yang antara lain disebabkan oleh :
1) Persaingan antara tanaman utama sehingga mengurangi kemampuan berproduksi, terjadi persaingan dalam pengambilan air, unsur-unsur hara dari tanah, cahaya dan ruang lingkup.
2) Pengotoran kualitas produksi pertanian, misalnya pengotoran benih oleh biji-biji gulma.
3) Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya.
4) Gangguan kelancaran pekerjaan para petani, misalnya adanya duri-duri Amaranthus spinosus, Mimosa spinosa di antara tanaman yang diusahakan.
5) Perantara atau sumber penyakit atau hama pada tanaman, misalnya Lersia hexandra dan Cynodon dactylon merupakan tumbuhan inang hama ganjur pada padi.
6) Gangguan kesehatan manusia, misalnya ada suatu gulma yang tepung sarinya menyebabkan alergi.
7) Kenaikkan ongkos-ongkos usaha pertanian, misalnya menambah tenaga dan waktu dalam pengerjaan tanah, penyiangan, perbaikan selokan dari gulma yang menyumbat air irigasi.
8) Gulma air mngurangi efisiensi sistem irigasi, yang paling mengganggu dan tersebar luas ialah eceng gondok (Eichhornia crssipes). Terjadi pemborosan air karena penguapan dan juga mengurangi aliran air. Kehilangan air oleh penguapan itu 7,8 kali lebih banyak dibandingkan dengan air terbuka. Di Rawa Pening gulma air dapat menimbulkan pulau terapung yang mengganggu penetrasi sinar matahari ke permukaan air, mengurangi zat oksigen dalam air dan menurunkan produktivitas air.
Pengaruh yang merugikan dengan adanya gulma pada lahan pertanian ada beberapa hal, antara lain :
1) Mempunyai pengaruh persaingan/kompetisi yang tinggi dengan tanaman budidaya
Adanya gulma di lahan pertanian mempunyai pengaruh persaingan/kompetisi yang tinggi sehingga dapat menurunkan hasil panen. Kompetisi/persaingan ini dapat berupa kompetisi akan ruang, air, unsur hara maupun sinar matahari.
2) Sebagai rumah inang sementara dari hama dan patogen penyebab penyakit tanaman budidaya
Banyak hama dan patogen penyebab penyakit pada tanaman budidaya yang tidak hanya hidup pada tanaman yang dibudidayakan tetapi juga pada gulma khususnya yang secara taksonomi erat kaitannya dengan tanaman tersebut.
3) Mengurangi mutu hasil panen tanaman budidaya
Beberapa bagian dari gulma yang ikut terpanen akan memberikan pengaruh negatif terhadap hasil panenan. Misalnya dapat meracuni, mengotori, menurunkan kemurnian, ataupun memberikan rasa dan bau yang tidak asli.
4) Menghambat kelancaran aktivitas pertanian
Adanya gulma dalam jumlah populasi yang tinggi akan menyebabkan kesulitan dalam melakukan kegiatan pertanian misalnya pemupukan, pemanenan dengan alat-alat mekanis, pengairan, dan lain-lain.
Penyiangan adalah penghilangan rumput atau tanaman liar di sekitar tanaman yang sedang kita rawat. Rumput atau tanaman liar perlu dihilangkan karena menimbulkan penghalangan tumbuhnya tanaman yang sedang kita rawat, kompetisi penyerapan hara, ruang, cahaya, dan CO2, penularan penyakit karena adanya rumput atau tanaman liar yang mempunyai penyakit sama dengan tanaman yang sedang kita tanaam, pemakanan atau perusak tanaman kita oleh serangga, karena ada rumput atau tanaman liar yangmenjadi sarang atau tenpat mencari makan serangga. Tujuan penyiangan adalah untuk mencegah persaingan dalam penyerapan air dan unsur hara dan mencegah hama dan penyakit. Penyiangan harus dilakukan secara rutin minimal satu bulan sekali. Contoh dari penyiangan yaitu dengan menggunakan cangkul, koret, atau dicabut dengan tangan.

BAB IV
PELAKSANAAN KEGIATAN

3.1 Waktu dan tempat
Proses kegiatan praktek kerja lapangan ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu
Waktu : 26 Agustus sampai 26 oktober 2013
Tempat : di PPPPTK Cianjur(Pusat Pengembangan Pemberdaya Pendidik dan Tenaga Kependidikan) Departemen Hortikultura khususnya di Tanaman Herbal.
Alamat : Jl. Jangari KM. 14, Desa Sukajadi, Kec. Karang Tengah, Kab. Cianjur, Jawa Barat PO. Box. 138 Cianjur 43202, Telp. 0263-285003, Fax. 0263-285026

3.2 Persiapan
Sebelum melakukan Praktek kerja lapangan ada hal-hal yang harus penulis persiapkan
3.2.1 Alat
NO. NAMA ALAT SPESIFIKASI KETERANGAN
1. Cangkul 1 Untuk penyiangan di kebun herbal
2. Ember 1 Untuk mengambil air dari dalam tong, dan untu tempat lidah buaya.
3. Gembor 1 Untuk menyiram tanaman
4. Gunting 1 Untuk menggunting daun jahe dan tanaman yang sudah layu
5. Tengki 1 Untuk menyemprot tanaman
6. Kater 1 Untuk memotong kulit kelengkeng
7. Pisau okulasi 1 Untuk membuang kulit pohon kelengkeng
8. Plastik 1 Untuk mencangkok
9. Lahan Disesuaikan Untuk menanam bunga kol, caicin, kangkung.
10. Media tanam Disesuaikan Untuk tempat persemainan benih bunga kol, stekan cincau, lavender dan cangkokan kelengkeng.
11. Pisau 1 Untuk membersihkan jahe dan lidah buaya.
12. Kuali 1 Untuk membuat instan jahe
13. Panci 1 Untuk merebus lidah buaya
14. Kompor 1 Untuk memasak instan jahe dan merebus lidah buaya.
15. Sabit 1 Untuk membersihkan kebun herbal
16. Sarung tangan Sepasang Untuk melindungi tangan agar tidak luka

3.2.2 Bahan
No. Nama Bahan Spesifikasi Keterangan
1. Lidah Buaya Disesuaikan Sebagai bahan baku pembuatan manisan lidah buaya
2. Jahe Disesuaikan Sebagai bahan baku pembuatan instan jahe.
3. Air Disesuaikan untuk merebus Lidah buaya dan instan jahe.
4. Gula Disesuaikan Untuk bahan baku pembuatan instan jahe dan manisan lidah buaya
5. Kayu Manis Disesuaikan Untuk bahan baku instan jahe
6. Daun Pandan Disesuaikan Untuk bahan baku pembuatan manisan lidah buaya dan instan jahe
7. Serai Disesuaikan Untuk bahan baku instan jahe

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.1 Jenis-Jenis Tanaman Herbal
No Nama Tumbuhan
Dan Gambar Nama Ilmiah Tumbuhan Bagian yang digunakan Cara pengelolahan Manfaat
1. Jahe
Zingiber officinale Rosc Umbi atau Rimpang Direbus dan ditumbuk Menghangatkan Badan
2. Antanan Kembang

Viola adorata L. Umbi dan Daun Dapat dikonsumsi secara langsung dan direbus Menenagkan syaraf dan menyegarkan daya pikir
3. Rosella
Hibiscus sabdarifa Bunga dan batang Direbus, direndam air hangat dalam kondisi bunga segar, direndam air dingin dalam kondisi bunga kering Menurunkan kolestrol, menurunkan darah tinggi, menjaga stamina.
4. Tapak Liman

Elephantopus scaber L Semua bagian Direbus Anti radang, membunuh kuman, menghilangkan bengkak, menetralkan racun.
5. Miana

Coleus scutellarioides
Benth Daun dan tangkai Direbus dan diremas-remas Menyembuhkan luka, anti bengkak, mematangkan bisul.
6. Mahkota Dewa
Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl Buah Direbus setalah daging buah kering Anti kanker, melancarkan peredaran darah dan energi, mengurangi nyeri, menenagkan.
7. Gendola

Basella rubra Linn Daun, Batang, Buah Direbus, langsung digunakan cairan buahnya, diperas. Radang selaput mata, susah kencing, Dysentri, sesak napas.
8. Sambiloto

Andrographis paniculata Seluruh bagian Direbus Melindungi hati dan menekan pertumbuhan sel kanker
9. Kumis kucing

Orthosiphon stamineus Benth Daun Direbus atau dikeringkan dulu baru direbus Radang ginjal, batu ginjal, kencing manis.
10. Jati Belanda

Guazuma ulmifolia Lamk Daun Dapat digunakan secara langsung dan direbus daunnya yang kering Pelangsing, batuk, perut kembung, rasa sesak dilambung

4.2.2 Persiapan Lahan
Sebelum melakukan penanaman tumbuhan herbal penulis mempersiapkan lahan yang akan ditanamai beberapa tumbuhan herbal. Cara mempersiapkan lahan:
a. Membersihkan rumput dan mencangkul lahan yang akan ditanamai
b. Cangkul tanah supaya tanah menjadi gembur

Manfaat Pengolahan Lahan :
• Memperbaiki Struktur Tanah.
• Memperbaiki Aerasi Tanah.
• Membunuh Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
• Menghambat tumbuhnya gulma.
• Melancarkan Drainase (pemasukan dan pembuangan air)

4.2.3 Penanaman
Setelah lahan bersih dan tanah sudah gembur. Sekarang melakukan penanaman.
a. menanam sirih, vanili, bunga kol dan kangkung.
b. Gali tanah yang sudah gembur sesuai kebutuhan lalu tanam sirih, vanili.
c. Khusus untuk tanaman bunga kol dilakukan pembibitan dan setelah bunga kol tumbuh 2-3 daun pindahkan bunga ke lahan yang sudah dipersiapkan.
d. Sedangkan menanam kangkung siapkan media tanam dan tanam biji kangkung di media tersebut tunggu 20 hari pertumbuhan kangkung sudah bisa dipanen.
4.2.4 Pemeliharaan
1) pengairan
2) pemupukan
3) pengendalian OPT
4) sanitasi/penyiangan

BAB VI
P E N U T U P

6.1 Kesimpulan
a. Selain dari mutu bahan yang digunakan, kebersihan pekerja juga mempengaruhi roti yang dihasilkan.
b. Bahan yang digunakan dalam pembuatan roti harus memakai bahan – bahan yang mempunyai kwalitas baik.
c. Bahan pokok dalam pembuatan roti adalah tepung, ragi, air dan garam.
d. Kebersihan peralatan serta ruang tempat produksi juga ikut mempengaruhi terhadap roti yang dihasilkan.
e. Dalam proses pembuatan roti banyak perlakuan – perlakuan yang harus diikuti sesuai prosedur.

6.2 S a r a n
6.2.1 Saran dari Segi Produksi
a. Sebelum melakukan kegiatan produksi ada baiknya melakukan sanitasi terhadap ruangan produksi, alat dan sebagainya.
b. Sebelum melakukan kegiatan produksi sebaiknya siapkan peralatan yang diperlukan.
c. Ketika melakukan proses produksi diharapkan pekerja memakai jas atau kelengkapan kerja.
d. Sebelum menggunakan atau mengoperasikan peralatan kerja sebaiknya membaca SOP dari alat tersebut.

6.2.2 Saran untuk Sekolah
a. Tingkatkan lagi kinerja dari program magang.
b. Jalin kerja sama dengan perusahaan yang lebih menunjang kegiatan magang.
c. Khusus untuk program keahlian THP supaya melengkapi semua peralatan produkksi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2001. Cara – Cara Membuat Roti Yang Baik dan Benar. Pusat Penggolahan Terigu Bogasari. Bandung.

Anonim. ( U.S. Wheat Associates ). 1981. Pedoman Penerbit Jembatan. Jakarta.

Salman, Lily. M, 2001. Pembuatan Roti Manis. Depdiknas. Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah PPPPTK Pertanian Cianjur.

Published Juli 18, 2012 by nopriastor1111

kegiatan keluarga

Published Juli 18, 2012 by nopriastor1111

4 kompetensi Guru Profesional

Published Juli 18, 2012 by nopriastor1111

Seiring dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”

Bahwa guru yang profesional itu memiliki empat kompetensi atau standar kemampuan yang meliputi kompetensi Kepribadian, Pedagogik, Profesional, dan Sosial. Kompetensi guru adalah kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran. Sebagai agen pembelajaran maka guru dituntut untuk kreatif dalam menyiapkan metode dan strategi yang cocok untuk kondisi anak didiknya, memilih dan menetukan sebuah metode pembelajaran yang sesuai dengan indikator pembahasan. Dengan sertifikasi dan predikat guru profesional yang disandangnya, maka guru harus introspeksi diri apakah saya sudah mengajar sesuai dengan cara-cara seorang guru profesional. Sebab disadarai atau tidak banyak diantara kita para pendidik belum bisa menjadi guru yang profesional sebagai mana yang diharapkan dengan adanya sertifikasi guru sampai saat ini.

A. Kompetensi kepribadian

Adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Sub kompetensi dalam kompetensi kepribadian meliputi :

  1. Kepribadian yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
  2. Kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru.
  3. Kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemamfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
  4. Kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadappeserta didik dan memiliki perilaku yang disegani.
  5. Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputibertindak sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

B. Kompetensi Pedagogik

Kemampuan pemahaman terhadappeserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Sub kompetensi dalam kompetensi Pedagogik adalah :

  1. Memahami peserta didik secara mendalam yang meliputi memahami peserta didik dengan memamfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.
  2. Merancang pembelajaran,teermasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran yang meliputi memahmi landasan pendidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
  3. Melaksanakan pembelajaran yang meliputi menata latar (setting) pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
  4. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan denga berbagai metode,menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level), dan memamfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
  5. Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya meliputi memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.

C. Kompetensi Profesional

Adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulummata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya. Sub kompetensi dalam kompetensi Profesional adalah :

  1. Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi yang meliputi memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah, memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar, memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait, dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Menguasai struktur dan metode keilmuan yang meliputi menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan dan materi bidang studi.

D. Kompetensi Sosial

adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar

Kode etik Guru dan Dosen
Kode etik adalah pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan di dalam melaksanakan tugas dan kehidupan sehari-hari.

Isi Pokok Kode Etik Guru dan Dosen :
1. Kewajiban beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Menjunjung tinggi hukum dan peraturan yang berlaku
3. Mematuhi norma dan etika susila
4. Menghormati kebebasan akademik
5. Melaksanakan tridarma perguruan tinggi
6. Menghormati kebebasan mimbar akademik
7. Mengukuti perkembangan ilmu
8. Mengembangkan sikap obyektif dan universal
9. Mengharagai hasil karya orang lain
10. Menciptakan kehidupan sekolah/kampus yang kondusif
11. Mengutamakan tugas dari kepentingan lain
12. Pelanggaran terhadap kode etik guru dan dosen dapat dikenai sanksi akademik, administrasi dan moral.