K3LH

Published Juni 12, 2012 by nopriastor1111

I.  PENDAHULUAN

 

  1. A.   Deskripsi

 

Unit kompetensi ini berlaku untuk melakukan keselamatan dan kesehatan kerja, meliputi menerapkan prosedur kesehatan dan keselamatan kerja di tempat kerja, membuat prosedur kondisi darurat yang sesuai, dan melakukan partisipasi pengaturan pemeliharaan keselamatan dan kesehatan kerja semua orang di tempat kerja.  Unit ini merupakan unit yang sangat penting untuk semua kualifikasi pembenihan tanaman.

Unit kompetensi ini berkaitan dengan semua unit–unit kompetensi di bidang pembenihan tanaman.

 

  1. B.   Sub Kompetensi

 

Ruang lingkup kompetensi melakukan keselamatan dan kesehatan kerja ini meliputi:

  1. Menerapkan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja.
  2. Membuat prosedur kondisi darurat yang sesuai.
  3. Melakukan partisipasi pengaturan pemeliharaan keselamatan dan kesehatan kerja semua orang di tempat kerja.

 

  1. C.   Tujuan Akhir Pembelajaran

 

Setelah mempelajari unit kompetensi ini peserta diklat mampu melakukan keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan persyaratan bila disediakan sarana, prasarana, dan bahan yang dibutuhkan.

 

 

 

  1. II.    Kegiatan Pembelajaran

 

Menerapkan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja

 

 

  1. A.   Tujuan Pembelajaran

 

Setelah mengikuti kegiatan ini peserta diklat mampu mengenal konsep dan ruang lingkup keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja.

 

  1. B.   Uraian Materi

 

  1. 1.    Beberapa pengertian/istilah yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja
    1. a.    Keselamatan dan kesehatan kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja adalah keselamatan dan kesehatan yang berhubungan erat dengan mesin, peralatan kerja, bahan dan proses pengolahan, landasan kerja serta lingkungan serta cara-cara melakukan pekerjaan. Sasaran program K3 adalah segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, maupun di dalam air. Tempat-tempat kerja tersebar pada segenap kegiatan ekonomi, seperti pertanian, industri, pertambangan, perhubungan, pekerjaan umum jasa dan lain-lain.

  1. b.    Tempat kerja

Tempat kerja adalah setiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya baik di darat, di dalam tanah, dipermukaan air, didalam air, maupun di udara yang menjadi kewenangan suatu badan usaha atau perusahaan.  Dalam bidang pertanian, maka yang sebut dengan tempat kerja adalah tempat dimana kegiatan pertanian biasa dilaksanakan, dalam hal ini termasuk laboratorium, bengkel pertanian, dan lapangan.

  1. c.    Perusahaan

Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang memperkerjakan pekerja dengan tujuan untuk mencari laba atau tidak, baik milik swasta maupun milik negara.

  1. d.    Tenaga kerja

Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam atau diluar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi standar kebutuhan masyarakat.

  1. e.    Tujuan dan sasaran keselamatan dan kesehatan kerja

Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja ditempat kerja dengan melibatkan semua unsur-unsur yang terdapat dalam suatu instansi atau perusahan dimana kegiatan kerja dilakukan. Sedangkan sasaran keselamatan dan kesehatan kerja adalah semua personil dari suatu instansi atau perusahaan termasuk didalamnya adalah pihak manajer, tenaga kerja dan orang-orang yang terkait dengan kegaiatan perusahaan tersebut.

  1. f.     Prosedur keselamatan dan kesehatan kerja

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja No:Per.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam pasal 2 :

Ayat (1) dinyatakan bahwa setiap perusahaan yang memperkerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit dan akibat kerja wajib menerapkan sistem manajemen K3.

Ayat (2) Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja wajib dilaksanakan oleh pengurus, pengusaha dan seluruh tenaga kerja sebagai satu kesatuan.

  1. g.    Penerapan prosedur K3

Setiap perusahaan wajib melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

  • Menerapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan sistem manajemen K3
  • Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan K3
  • Menerapkan kebijakan K3 secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang diperlukan mencapai kebijakan, tujuan dan sasaran K3
  • Mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja K3 serta melakukan tindakan perbaikandan pencegahan
  • Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan sistem K3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja K3.

 

 

  1. 2.    Prosedur di tempat kerja dan instruksi-instruksi bekerja untuk mengendalikan resiko diikuti dengan taat azas

 

2.1. Prosedur dan instruksi-instruksi yang harus dilakukan atau disiapkan

Dalam melaksanakan pekerjaan, kecelakaan bisa saja terjadi. Untuk menghindari dan meminimalkan terjadinya kecelakaan perlu dibuat instruksi-intruksi kerja. Instruksi-instruksi kerja yang dibuat disesuaikan dengan keadaan peralatan yang dipakai. Ada beberapa hal yang harus dilakukan atau disiapkan oleh perusahaan untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja antara lain :

  1.         a.    Pada setiap laboratorium atau bengkel atau ruangan dibuatkan tata tertib yang harus dipatuhi oleh semua orang yang akan masuk ke dalam lab atau ruangan. Di dalam tata tertib tersebut perlu dijelaskan hal-hal yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, serta ancaman sanksi yang akan dikenakan jika melanggar tata tertib.
  2.         b.    Setiap alat yang dioperasikan dengan menggunakan mesin harus dibuatkan instruksi kerjanya. Instruksi kerja tersebut langsung ditempelkan pada alat atau di tempat-tempat tertentu sedemikian rupa, sehingga setiap operator alat yang akan menggunakan alat tersebut harus membaca petunjuk pengoperasian alat. Hal ini untuk menghindari terjadinya kesalahan prosedur dalam pengoperasian alat. Selain itu juga dengan adanya petunjuk pengoperasian maka siapapun yang akan mengoperasikan alat tersebut dapat terhindar dari kecelakaan yang dapat menyebabkan kecelakaan pada operator sendiri atau kerusakan alat.
  3.         c.    Pada setiap ruangan agar dibuatkan poster-poster tentang keselamatan kerja dan label-label yang menunjukkan bahaya kecelakaan yang mungkin saja terjadi. Pembuatan label dan poster tersebut harus dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dibaca bagi setiap orang.

 

Gambar 1.  Poster keselamatan kerja

 

Sedangkan untuk bahan-bahan berbahaya seperti bahan kimia, pestisida dan sebagainya, pemasangan lebel dan tanda dengan menggunakan lambang atau tulisan peringatan pada wadah adalah suatu tindakan pencegahan yang sangat penting. Aneka label dan pemberian tanda diberikan sesuai dengan sifat-sibat bahan yang ada. Beberapa label dan pemberian tanda dapat dipakai dengan menggunakan lambang yang sudah dikehui secara umum.

 

Gambar 2. Lambang-lambang gambar bahaya

 

 

2.2.   Dasar-dasar keselamatan kerja dan resiko

Mengingat sangat bervariasinya perkakas, mesin, bahan kimia berbahaya dan cara kerja yang digunakan dalam bidang pertanian (teknologi benih), maka tidak semuanya akan dibicarakan, baik dalam kaitan dengan pemilihan perkakas, mesin dan bahan kimia berbahaya, tetapi prinsip-prinsip umum akan diuraikan.

 

2.2.1.  Syarat-syarat umum

Semua perkakas, mesin dan bahan-kimia berbahaya yang digunakan dalam pertanian (teknologi benih) harus:

  1. Memenuhi syarat keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana ditentukan dalam standar internasional atau nasional dan rekomendasi, apabila tersedia.
  2. Digunakan hanya untuk pekerjaan yang telah dirancang atau dikembangkan, kecuali jika suatu penggunaan tambahan yang diusulkan telah dinilai oleh seorang yang kompeten yang telah menyimpulkan bahwa penggunaan aman.
  3. Digunakan atau dioperasikan hanya oleh para pekerja yang telah dinilai berkompeten dan/atau memegang sertifikat ketrampilan yang sesuai.

 

Perkakas, mesin dan peralatan harus mempunyai desain dan konstruksi yang baik, dengan mempertimbangkan prinsip kesehatan, keselamatan dan ergonomik, dan mereka harus dipelihara dengan kondisi yang baik.

 

Setiap perkakas, mesin dan peralatan harus secara rutin diperiksa berdasarkan suatu penilaian yang lengkap dari semua kriteria terkait harus digunakan saat pemilihan suatu mesin. Hal ini membantu untuk menciptakan suatu lingkungan kerja yang sehat dan produktif serta memastikan bahwa mesin tersebut tepat untuk tujuan yang dimaksudkan.

 

Pengusaha, pembuat atau agen harus menyediakan instruksi dan informasi yang jelas dan menyeluruh tentang semua aspek pemeliharaan dan penggunaan yang aman dari perkakas, peralatan dan bahan-kimia berbahaya bagi operator/pengguna. Ini harus meliputi syarat-syarat untuk alat keselamatan kerja.

 

Peralatan harus dirancang agar gampang dan aman dalam pemeliharaan dan sedikit perbaikan di tempat kerja. Para pekerja harus dilatih untuk melakukan pemeliharaan dan perbaikan kecil pada mesin dan peralatan mereka. Jika ini tidak bisa dilakukan, seorang yang kompeten harus mudah dihubungi dari tempat kerja.

 

Fasilitas untuk perbaikan dan pemeliharaan peralatan dan perkakas harus disediakan, disarankan penyediaan dekat dengan tempat berteduh atau fasilitas perumahan.

 

Dalam tempat perbaikan (bengkel lapangan), harus disediakan fasilitas bengkel dengan perkakas pemeliharaan yang sesuai, agar pekerjaan pemeliharaan dan reparasi dilaksanakan dalam kondisi aman, tanpa terganggu oleh kondisi cuaca yang buruk.

 

2.2.2.  Peralatan tangan

Penggunaan peralatan tangan banyak digunakan untuk jenis-jenis pekerjaan yang ringan dan memerlukan spesifikasi kerja tertentu. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan peralatan tangan, yaitu :

  1. Peralatan tangan untuk memotong dan memisahkan benda harus dibuat dari baja berkualitas baik yang menjaga sisi pemotongan dan efektivitasnya dengan pemeliharaan minimum.
  2. Bagian atas dari suatu alat untuk memotong dan memisahkan harus dipasang dengan aman pada tangkai dengan suatu alat efektif, sebagai contoh baji, paku keling atau baut.
  3. Tangkai harus memberikan suatu genggaman yang kuat dan harus terbuat dari kayu berkualitas baik atau bahan lain yang sesuai untuk maksud ini.
  4. Spesifikasi perkakas, seperti ukuran, panjang tangkai dan berat, harus sesuai untuk memenuhi kebutuhan dari pekerjaan dan keadaan fisik dari pemakai.
  5. Jika tidak digunakan, perkakas bersisi tajam harus diberi sarung dengan alat yang sesuai.

 

      2.2.3.  Mesin mesin portable

  1. Kendali mesin seperti gergaji rantai, gergaji sikat dan pemotong rumput harus ditempatkan dengan nyaman dan fungsi mereka ditandai dengan jelas.
  2. Posisi dan dimensi dari tangkai harus nyaman bagi operator dalam semua sikap kerja normal.
  3. Tingkat kebisingan, getaran dan emisi buangan yang berbahaya harus serendah mungkin sejalan dengan keadaan teknologi. Bahan bakar dan minyak pelumas yang digunakan harus yang dapat dihancurkan secara biologis (ramah lingkungan) dapat mengurangi bahaya polusi dengan gas buangan dan tumpahan.
  4. Mesin-mesin harus seringan mungkin untuk menjaga keseimbangan antara ukuran mesin dan kekuatan yang diperlukan untuk pekerjaan dengan satu tangan, serta menghindari kelelahan operator dan kerusakan pada sistem otot rangka yang lainnya.
  5. Semua alat pelindung harus pada tempatnya dan secara teratur diperiksa terhadap kerusakan timbul. Alat penyetop mesin harus mempunyai aksi positif dan ditandai dengan jelas.

 

2.2.4.  Permesinan Otomatis atau Mesin Konvensional

  1. Mesin harus dilengkapi dengan alat penahan goncangan, tempat duduk dapat disetel sepenuhnya untuk pengemudi dan dipasang dengan sabuk pengaman yang sesuai dengan syarat-syarat ISO 8797 atau semacamnya secara nasional.
  2. Ruang operator harus dirancang dan ditempatkan sehingga sesuai dengan ukuran badan operator yang kemungkinan besar menggunakan mesin seperti itu.
  3. Cara-cara masuk dan keluar dari mesin, seperti anak tangga, tangga dan pintu, harus dirancang untuk menyediakan tumpuan tangan dan kaki dengan suatu ketinggian dan jarak yang nyaman.
  4. Mesin harus dilengkapi dengan struktur perlindungan berguling, sesuai dengan ISO 3471 dan ISO 8082 atau suatu standar nasional yang sesuai.
  5. Kabin harus tempat operator bekerja harus memenuhi persyaratan :

(i)   Dilindungi dari obyek yang jatuh, sesuai dengan ISO 8083 atau suatu standar nasional yang sesuai:

(ii)  Dilengkapi dengan struktur yang melindungi operator setidaknya memenuhi syarat-syarat ISO 8084 atau semacamnya secara nasional.

  1. Mesin harus dilengkapi dengan suatu alat penyetop yang tidak dapat kembali sendiri, mudah dicapai, dan ditandai dengan jelas dari posisi kerja normal operator.
  2. Untuk mesin-mesin yang menggunakan sistem transmisi atau kopling, maka jika tidak dipakai, persneling harus dalam keadaan tersambung.
  3. Rem parkir harus mampu untuk menjaga mesin dan beban lajunya pada saat diooperasikan pada lahan yang miring.
  4. Pipa pembuangan harus dilengkapi dengan penangkap percikan. Mesin yang dilengkapi dengan turbochargers tidak memerlukan penangkap percikan.

 

2.3.   Pakaian/peralatan pelindung yang dibutuhkan untuk bekerja diidentifikasi dan digunakan sesuai peraturan perusahaan yang berlaku

 

2.3.1.  Pakaian Kerja

Pakaian kerja yang dipakai bagi pekerja dalam bidang pertanian untuk di lapangan harus memenuhi beberapa kriteria, secara umum adalah sebagai berikut :

  1. Pakaian kerja harus dibuat dari bahan yang menjaga badan pekerja tetap kering dan berada pada temperatur yang nyaman. Untuk bekerja di daerah yang beriklim panas dan kering, pakaian yang sesuai harus digunakan untuk menghindari radiasi panas yang berlebihan dan memudahkan pengeluaran keringat. Pakaian pelindung yang sesuai harus disediakan jika ada suatu resiko radiasi UV atau potensi bahaya biologik, seperti tumbuhan beracun, infeksi dan binatang.
  2. Pakaian harus mempunyai warna yang kontras dengan lingkungan pertanian untuk memastikan bahwa para pekerja kelihatan dengan jelas.
  3. Penggunaan alat pelindung diri harus dianggap sebagai suatu upaya terakhir, bila pengurangan resiko dengan cara-cara teknik atau organisatoris tidak mungkin dilakukan. Hanya dalam keadaan ini alat pelindung diri yang berhubungan dengan resiko spesifik tersebut digunakan.
  4. Alat pelindung diri untuk pekerjaan bidang pertanian di lapangan harus memiliki fungsi yang spesifik.
  5. Bila pekerjaan dilakukan dengan menggunakan bahan kimia berbahaya, alat pelindung diri harus disediakan sesuai keselamatan dalam penggunaan bahan kimia di tempat kerja.
  6. Alat pelindung diri harus memenuhi standar internasional atau nasional.

 

2.3.2.  Alat Pelindung Diri

Ada beberapa jenis alat pelindung diri untuk bidang pekerjaan pertanian di lapangan sesuai dengan jenis pekerjaanya antara lain:

  1. Sarung tangan

Dipergunakan untuk berbagai kegiatan bila menggunakan bahan-bahan kimia beracun, seperti mencampur pestisida, mencapur pupuk dan sebaginya. Untuk jenis ini sarung tangan yang dipakai adalah sarung tangan yang terbuat dari karet yang tidak tembus oleh bahan-bahan cairan. Sedangkan untuk pekerjaan di laboratorium biasanya menggunakan sarung tangan yang terbuat dari serat asbes yang tahan panas.

  1. Sepatu lapangan

Dipergunakan jika jenis pekerjaan yang digunakan adalah jenis pekerjaan lapangan. Alat ini digunakan untuk melindungi kaki pada saat bekerja di lapangan dari gigitan serangga atau pekerjaan lain yang berbahaya di lapangan. Jenis sepatu yang digunakan adalah jenis sepatu boot, baik yang terbuat dari karet atau karet

 

 

 

 

Gambar 3. Sepatu lapangan

  1. Topi pengaman (Helmet)

Dipergunakan untuk melindungi kepala dari kemungkinan benda-benda jatuh di lapangan. Misalnya pada saat memanen buah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Pelindung kepala (Helmet)

 

 

  1. Penutup muka

Dipergunakan untuk jenis pekerjaan di lapangan, jika kondisi lapangan berdebu. Hal ini untuk melindungi muka dari debu-debu yang berterbangan pada saat bekerja.

 

Gambar 5. Pelindung muka

 

  1. Pelindung atau penutup mata

Dipergunakan untuk melindungi mata pada saat bekerja di lapangan, baik dari terik matahari maupun dari benda-benda yang berbahaya di lapangan seperti halnya debu, ataupun pada saat bekerja dilaboratorium. Ada beberapa jenis alat pelindung mata sesuai dengan kondisi lapangan.

 

Gambar 6. Pelindung mata

  1. Alat pelindung mulut (masker)

Dipergunakan untuk melindungi mulut dan hidung dari bahan-bahan berbaya saat bekerja di lapangan dengan menggunakan pestisida, gas beracun atau debu.

 

Gambar 7. Masker pelindung mulut (masker)

 

 

Gambar 8. Masker pelindung mulut saat menggunakan pestisida

 

 

2.4.   Pekerjaan dilaksanakan berdasarkan rekomendasi yang aman

Sebelum peralatan dipergunakan, untuk menjamin agar tidak terjadi kecelakaan atau hambatan pada saat kegiatan dilaksanakan, maka alat-alat yang akan dipergunakan harus dilakukan pengecekan terlebih dahulu. Pengecekan dilakukan untuk memastikan bahwa alat-alat tersebut berfungsi sesuai dengan rancangan dan dibuat memenuhi syarat-syarat keselamatan kerja. Pengujian peralatan tersebut harus dilakukan oleh lembaga atau institusi yang memiliki kewenangan menguji dan memiliki sertifikasi untuk peralatan yang menggunakan mesin dan memiliki sensitifitas tinggi. Sedangkan untuk peralatan manual biasa, jika memungkinkan operator dalpat melakukannya sendiri. Pengujian peralatan dilakukan secara reguler (priodik), dan hasil pengujian peratalan seharusnya dilaporkan kepada perusahaan untuk dilakukan pengambikan tindakan yang semestinya. Bagi peralatan yang memenuhi standar keselamatan kerja perlu dibuatkan sertifikasi peralatan. Sedangkan untuk peralatan yang rusak agar disarankan untuk diperbaiki agar alat tersebut dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

 

2.5.   Resiko pekerjaan diidentifikasi dan tindakan diambil untuk mengurangi resiko

Lingkup kerja bidang pertanian, khususnya teknologi benih terbagi dalam dua kategori, yaitu di laboratorium dan di lapangan. Kedua jenis resiko kedua pekerjaan ini juga berbeda, karena karakteristiknya juga berbeda, dan untuk itu resiko pekerjaan dibedakan menjadi dua, yaitu resiko pekerjaan di laboratorium dan resiko pekerjaan di lapangan.

 

2.5.1.  Resiko pekerjaan di laboratorium

Ada beberapa jenis pekerjaan yang dilaksanakan di laboratorium, seperti halnya analisa benih atau pekerjaan-pekerjaan lain yang menggunakan peralatan mesin di laboratorium. Ada beberapa jenis resiko di laboratorium antara lain kebakaran, terkena bahan-bahan kimia.

  1. Kebakaran

Kebakaran adalah suatu hal yang sangat tidak diinginkan terjadinya. Bagi tenaga kerja kebakaran dapat menimbulkan penderitaan dan malapetaka, khususnya terhadap mereka yang tertimpa kedelakaan tersebut dapat berupa kehilangan pekerjaan dan hal yang paling fatal dapat menyebabkan kematian.

Kebakaran terjadi apabila tiga unsur terdapat bersama-sama  unsur-unsur tersebut adalah oksigen, bahan yang mudah terbakar dan panas. Tanpa oksigen kebakaran tidak akan terjadi, dan tanpa bahan yang mudah terbakar tak mungkin kebakaran terjadi dan tanpa panas kebakaran juga tak akan terjadi.

 

Gambar 9. Unsur-unsur terjadinya kebakaran

 

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya kebakaran, yaitu:

(i)   Nyala api dan bahan yang pijar

Jika suatu benda padat ditempatkan dalam nyala api, suhunya akan naik, kemudian terbakar dan menyala terus menerus sampai habis. Kemungkinan terbakar atau tidak tergantung dari :

  • Sifat bahan padat tersebut yang mungkin sangat mudah, agak mudah dan sukar terbakar
  • Ukuran zat, jika jumlah bahan sedikit tidak cukup untuk menimbulkan panas agar terjadi kebakaran, maka kebakaran tidak akan terjadi.
  • Keadaan zat padat
  • Cara menyalakan

 

(ii)     Penyinaran

Terbakarnya bahan-bahan yang mudah terbakar oleh benda pijar atau nyala api tidak perlu karena terjadinya persentuhan. Semua sumber panas akan memancarkan gelombang elektromagnetis yaitu sinar infra merah. Jika gelombang elektromagnetis ini mengenai benda, maka pada benda tersebut akan dilepaskan energi yang berubah menjadi panas. Akibatnya benda yang disinari akan bertambah panas dan bila panas tersebut sampai pada titik nyala maka benda tersebut akan terbakar.

 

(iii)    Peledakan uap atau gas

Setiap campuran gas atau uap yang mudah terbakar dengan udara akan menyala, jika terkena benda pijar atau nyala api dan kebakaran akan terjadi. Besar kecilnya kebakaran sangat tergantung pada jumlah (volume) gas atau uap.

 

(iv)    Percikan api

Percikan api yang bertemperatur cukup tinggi menjadi sebab terbakarnya campuran gas, uap atau debu dan udara yang dapat menyala. Biasanya  percikan api tidak dapat menyebabkan benda pada terbakar sendiri. Oleh karena tidak cukupnya energi dan panas yang ditimbulkan. Percikan api dapat ditimbulkan oleh hubungan arus pendek, ataupun oleh terjadinya kelistrikan statis, yaitu akibat pergesekan dua buah benda yang bergerak dan udara

 

(v)     Terbakar sendiri

Kebakaran yang terjadi sendiri disebabkan oleh karena pada seonggokan bahan bakar mineral yang padat atau zat-zat organik. Kebanyakan minyak mudah terbakar, terutama minyak tumbuh-tumbuiah. Banyaknya panas yang terjadi ditentukan oleh luas permukaan yang bersinggungan dengan udara.

 

(vi)    Reaksi kimia

Reaksi-reaksi kimia dapat menghasilkan cukup panas dan akibatnya dapat menyebabkan terjadi kebakaran. Forfor kuning teroksidasi santa cepat bila bersinggungan dengan udara. Natrium dan kalium akan bereaksi hebat bila tercampur dengan air dan akan melepaskan gas hidrogen yang mudah terbakar jika suhu udara diatas 40oC. Asam nitrat yang mengenai bahan-bahan organik akan menyebabkan terjadinya nyala api.

 

(vii)   Kebakaran karena listrik

Kebanyakan peralatan laboratorium yang digunakan dalam bidang pertanian khususnya teknologi benih banyak menggunakan listrik sebagai sumber tenaganya. Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan keselamatan kerja listrik, yaitu pada pedoman keselamatan kerja listrik.

 

PEDOMAN KESELAMATAN KERJA LISTRIK

 

Pedoman keselamatan kerja listrik menyangkut tenaga kerja, organisasi dan cara kerja, bahan dan peralatan listrik, dan pedoman pertolongan terhadap kecela­kaan.

 

  1.           I.    Pakaian kerja

Pakaian kerja bagi para tenaga kerja yang bertalian dengan kelistrikan harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

  • Cukup kuat dan tahan gesekan.
  • Baju kemeja berlengan panjang dan berkancing pada ujung lengan.
  • Celana panjang.
  • Ø Ujung kaki celana dapat dilipat dan dikancing.
  • Sepatu bersol karet, tidak berpaku dan memiliki sifat isolator.
  • Topi helm terbuat dari plastik, kuat, dan memiliki sifat isolator yang sesuai dengan tegangan yang bersangkutan.
  • Sarung tangan panjang, lemas, kuat, dan memiliki daya isolator yang sesuai.
  • Sarung tangan untuk bekerja dan penghantar adalah lemas, kuat, dan tahan ge­sekan terhadap kawat penghantar.

 

  1.         II.    Pedoman instalasi dan syarat-syarat perlengkapan lis­trik

a.   Pemasangan peralatan listrik

(1)  Pemasangan transformator-transformator, panel-panel. sakelar-sakelar, mo­tor-motor dan alat-alat listrik lainnya di tempat kerja harus dilaksanakan sedemikian sehingga tidak terdapat bahaya kontak dengan bagian-bagian yang bertegangan.

(2)  Manakala ruangan dan persyaratan pelayanan memungkinkan, alat-alat dan pesawat-pesawat listrik harus ditempatkan dalam ruangan terpisah yang ukurannya memadai dan hanya orang-orang yang kompeten boleh masuk ke dalam ruangan tersebut.

(3)  Jika alat-alat atau pesawat listrik terpaksa ditempatkan di tempat keria dalarn ruangan produksi, pagar pengaman untuk melindungi bagian-bagian atau penghantar yang bertegangan harus dibuat. Pagar pengaman berfungsi pencegahan kecelakaan. Rangka pagar dapat terbuat dari kayu, besi pipa., besi siku, kawat baja, besi pelat berlobang atau piastik. Dalam hal ini. kayu kering atau plastik memiliki sifat yang lebih baik, oleh karena zat-zat tersebut tidak menghantar listrik. Namun begitu, kayu memiliki kerugian oleh karena mudah terbakar. Rangka besi harus disertai hubungan ke tanah secara tepat.

(4)  Perlu dipasang papan tanda larangan masuk bagi mereka yang tidak ber­kepentingan dan disertai peringatan “Awas bahaya listrik:”. Tanda peri­ngatan dipasang pada tempat masuk ke ruangan, sedangkan huruf jelas dan rnudah dibaca.

(5)  Terdapat kesesuaian dalam banyak hal mengenai norma-norma bagi pagar pengaman untuk mesin dan pesawat listrik.

(6)  Petugas-petugas perawatan peralatan listrik harus tahu benar bahaya-­bahaya yang bertalian dengan suatu instalasi listrik dan peralatan lain­lainnya,

(7)  Bahaya-bahaya akibat listrik harus dipertimbangkan pada perencanaan pembuatan tutup pengaman bagi panel listrik.

(8)  Pemasangan instalasi listrik harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Peraturan Instalasi Listrik (PULL) dan peraturan-peraturan lain tentang keselamatan kerja listrik.

(9)  Macam pemasangan instalasi listrik di perusahaan-perusahaan dan tempat­tempat kerja tergantung dari konstruksi bangunan ukuran dan pembagi­an beban, penempatan mesin-mesin, pesawat dan alat-alat listrik, keadaan ruang kerja seperti berdebu, panas, lembab, dan lain-lain

 

b. Sakelar

(1)  Apapun tipe sakelar, yaitu tombol tekan, tuas, putar atau otomatis, harus memenuhi syarat keselamatan, Sakelar-sakelar untuk keperluan motor-motor, pesawat-pesawat listrik, instalasi cahaya dan tenaga, harus ditutup.

(2)  Tidak boleh dipakai sakelar tuas yang terbuka, oleh karena bagian­-bagian terbuka yang bertegangan akan menimbulkan bahaya tekanan arus listrik dan dapat mengakibatkan Ioncatan api, bila sakelar di­putuskan arusnya.

Sakelar tuas harus tertutup dan tutup serta poros pegangan (handel) harus dihubungkan ke tanah

(3)  Sakelar-sakelar tuas harus dipasang sedemikian sehingga bagian-bagi­annya yang dapat digerakkan dalam keadaan tidak ada hubungan tidak bertegangan.

(4)  Bila dipakai sakelar pemisah untuk tegangan tinggi. sakelar harus di­pasang di luar batas capai tangan dan pelayanannya dilakukan dengan menggunakan tongkat pengaman.

(5)  Bila pernasangan seperti tersebut p ada i tak dimungkinkan, sakelar tersebut harus tertutup atau dipagar secara tepat agar tidak membaha­yakan, sedangkan pelayanannya tetap dilaKukan dengan  memakai tongkat pengaman,

(6)  Untuk keperluan pemakaian secara umum, dianjurkan agar dipakai sakelar putar dan tombol tekan, oleh karena bagian yang bertegangan berg is di tempat tertutup.  Sakelar-sakelar yang dapat menimbulkan loncatan api harus dipasang da­lam peta penghubung.

(7)  Setiap sakelar harus disertai suatu petunjuk untuk posisi tertutup atau terbuka.

 

 

 

c. Sekring dan pengaman otomatis

 

(1)  Instalasi atau pesawat listrik diamankan dengan penggunaan sekring atau pengaman otomatis.

(2)  Sekring dan pengaman otomatis memutuskan arus, manakala terjadi arus lebih sebagai akibat kesalahan hubungan tanah, hubungan pendek dan beban lebih.

(3)  Pengaman arus lebih yang ditempatkan pada setiap bagian instalasi yang diamankan harus memiliki jenis dan ukuran yang sesuai, yaitu memu­tus arus apabila arus yang lebih dari batas yang ditentukan melaluinya.

(4) Pemasangan sekring pada mesin-mesin dan peralatan listrik tidak hanya ditentukan oleh kekuatan arus, tetapi juga oleh tenaga listrik yang ter­sedia dari transformator atau generator, kemungkinan terjadinya hubung­an tanah, beban lebih dan hubungan pendek yang membahayakan.

(5)  Pengaman dengan sekring melindungi, baik mesin dan peralatan, maupun tenaga kerja.

(6)  Pemakaian sekring harus disesuaikan terhadap kuat arus yang tertera pa­da sekring.

(7)  Dalam pemasangan sekring, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut

  • Sebelum pemasangan, kabel-kabel yang bersangkutan harus bebas arus dan tegangan.
  • Setiap kerusakan pada sekring harus diikuti dengan pemeriksaan segera terhadap faktor penyebabnya seperti adanya hubungan pendek atau beban lebih.
  • Sekring yang putus harus diganti dengan macam dan ukuran yang sama.
  • Dilarang penggunaan sekring yang telah rusak dan diperbaiki.
  • Pengaman otomatis dipakai untuk jaringan instalasi tegangan tinggi, untuk arus yang besar, dan juga untuk instalasi tegangan rendah.
  • Pengaman otomatis terdapat dalam macam dan ukuran yang berbeda-beda.
  • Bekerjanya pengaman otomatis ada yang bersifat sesaat dan ada pula yang disertai perlengkapan perlambatan waktu.
  • Menurut bekerjanya pengaman otomatis tergantung kepada jenis termis dan jenis magnetis.
  • Pengaman otomatis jenis termis bekerja atas dasar peningkatan suhu, maka tergantung kepada suhu ruangan.
  • Pengaman otomatis jenis magnetis bekerja atas dasar kuat arus yang me­lalui jaringan instalasi.
  • Ahli listrik memilih dan menetapkan macam dan ukuran pengaman oto­matis untuk dipasang.
  • Perawatan terhadap pengaman otomatis dilakukan oleh tenaga ahli yang berpengalaman.

 

  1.        III.    Pencegahan Kebakaran

Untuk menghidari terjadinya kebakaran, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain:

a.   Penyimpanan

Dalam pengorganisasian usaha-usaha keselamatan kerja terhadap bahaya kebakaran, perhatian yang sermat harus diberikan tehadap lokasi dan desin gudang. Aneka bahan, khususnya zat-zat yang dapat terbakar merupakan sumber utama terjadinya kebakaran.  Dalam perencanaan gudang atau tempat penyimpanan bahan, baik sifat maupu bentuk bahan harus diperhatikan. Zat-zat cair yang memiliki titik nyata lebih kecil dari 32oC harus ditempatkan dalam wadah atau tangki yang tertutup dan disimpan dalam tangki dan ditempatkan ditempat yang terpisah atau diluar gudang dan jauh dari bahan-bahan lai yang mudah terbakar.

 

b.   Pengolahan

Jika proses produksi memungkinkan penggantian bahan yang kurang berbahaya ditinjau dari segi kebakaran, maka resiko dapat dikurangi atau ditiadakan. Jumlah bahan yang mudah terbakar sedapat mungkin dikurangi dalam penggunaannya di proses produksi. Zat-zat padat yang mudah terbakar harus diletakakn tersusun rapi dan aman, agar kegiatan-kegiatan dalam pekerjaan tidak terhalang. Bahan-bahan cair yang mudah terbakar harus disalurkan ke tempat kerja melalui pipa-pipa penyalur atau drum-drum yang dilengkapi dengan pompa tangan. Perlu dilakukan pengaturan agar bahan cair tidak tumpah ke sekitar, misalnya dengan penempatan drum-drum pada landasan yang menampung bahan tertumpah.

 

c.   Meniadakan sumber-sumber terjadinya awal mula kebakaran

Þ    Pada semua proses pemanasan harus terdapat pemisah yang tepat antara bahan-bahan yang mudah terbakar dan alat pemanas.

Þ    Pemanasan lebih dari semestinya tanpa disengaja harus dicegah dengan pengendalian proses secar tepat.

Þ    Segala kegiatan pengeringan harus dilengkapi dengan ventilasi mekanis yang memadai dan sebaiknya diserta dengan sistem kontrol di antara pemanasan dan ventilasi.

Þ    Bahan-bahan yang dapat terbakar sendiri harus selalau diamati agar tidak ada kenaikan suhu.

Þ    Semua pemasangan jaringan listrik dan peralatan listrik  harus memenuhi standar atau ketentuan-ketentuan yang berlaku

Þ    Perawatan mesin harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi panas akibat gesekan.

Þ    Disiplin dan pendidikan dan pelatihan harus dilakukan kepada pekerja.

 

  1.       IV.    Terkena Bahan-bahan Kimia

Dalam bekerja di bidang pertanian, khususnya teknologi benih penggunaan bahan-bahan kimia tidak bisa dihindarkan, terutama dalam memberikan perlakuan tertentu kepada benih atau dala proses kegiatan menghasilkan benih.

 

Untuk menghindari bahaya dari bahan-bahan kimia tersebut ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain bacalah etiket kemasan bahan kimia yang ada. Kenali sifat-sifat bahan kimia tersebut, apakah bahan tersebut dapat menyebabkan gangguan atai iritasi terhadap tubuh atau tidak, dan gunakan alat pelindung baik untuk tangan, muka ataupun hidung agar terhindar dari bahaya bahan kimia.  Penggunaan bahan kimia berbahaya harus dikurangi jika mungkin, sesuai dengan anjuran ILO penggunaannya tidak dapat dihindarkan, maka harus digunakan dalam batas-batas yang aman, baik terhadap manusia atau hasil produksi.

 

  1.    V.    Keracunan Pestisida

Pestisida adalah bahan kimia yang dipergunakan untuk membasmi hama dan penyakit tanaman. Sifat pestisida tersebut sangat berbahaya terhadap kesehatan karena dapat menyebabkan sakit atau bahkan kematian. Ada beberapa jenis insektisida berdasarkan bentuk, cara kerja dan susunan kimia dan cara penggunaan. Ada insektisida yang disemprotkan dalam bentuk aerosol maupun dibakar (fumigant), dioleskan dan sebagainya. Keracunan insektisida dapat terjadi melalui bebera cara, seperti melalui kulit, mulut atau melalui hisapan udara di hidung. Keracunan melalui kulit dapat dengan mudah terjadi jika kulit terbuka. Oleh sebab itu dalam proses pembuatan dan penyemprotan insektisida harus dilakukan secara hati-hati dan menggunakan peralatan pelindung agar insektisida tidak terkena tubuh, seperti penggunaan masker, sarung tangan, pakaian yang tertutup, dan sebagainya.

 

Agar terhindar dari bahaya keracunan terhadap pestisida ada beberapa hal yang perlu dipahami antara lain :

  • Semua pestisida adalah racun yang berbahaya dan harus dihindari. Oleh sebab itu harus dijauhkan dari makanan, minuman dan hewan ternak.
  • Jangan mencampur pestisida melebih takaran yang ditentukan oleh pabrik pembuatnya.
  • Perhatikan tanda-tanda peringatan pada kaleng kemasan, cara penyimpanan dan cara pencampurannya, dan penggunaan.
  • Alat-alat untuk mencampur dan penyimpan insektisida harus diletakkan terpisah dari gudang dan dijauhkan dari jangkauan anak-anak.
  • Hindari kontak langsung antara tubuh kita dengan insektisida. Kontak dengan insektisida tidak boleh lebih dari 8 jam setiap harinya, karena dapat terjadi penyerapan melalui kulit.
  • Hindari makan, minum dan merokok sewaktu menyemprot insektisida
  • Setelah menyemperot dengan insektisida, cucilah pakaian dan tubuh badan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun.
  • Jangan menyemperotkan insektisida berlawanan dengan arah angin, dn laranglah orang-orang atau anak-anak yang lalu lalang saat penyemprotan insektisida dilakukan.
  • Jika alat penyemperot pestisida tersumbat jangan sekali-kali ditiup atau dihisap dengan menggunakan mulut.
  • Gunakan pakaian pelindung badan saat melakukan penyemperotan

 

2.5.2.  Resiko pekerjaan di lokasi kerja

 

Berbagai cara kerja digunakan di dalam bidang pertanian, dan pekerjaan terdiri dari banyak tugas berbeda. Oleh karena pedoman ini tidak bisa menyediakan uraian syarat-syarat keselamatan kerja yang lengkap untuk tiap-tiap variabel yang mungkin digunakan. Dalam hal ini dipilih atas dasar teknik dan metoda yang umum digunakan di seluruh dunia, dan kegiatan melibatkan resiko yang paling tinggi untuk keselamatan dan kesehatan kerja para pekerja di bidang pertanian.

 

a.   Perencanaan dan pengorganisasi kerja

Semua kegiatan pertanian harus secara menyeluruh direncanakan dan diorganisir terlebih dulu untuk mencegah pemborosan dan untuk memastikan tingkatan dan kontrol yang tepat terhadap pelaksanaan kerja yang aman dan kemajuan pekerjaan. Perencanaan dan pengorganisasian pekerjaan didasarkan pada suatu rencana manajemen bidang pertanian yang harus menunjukkan

  • Jenis pekerjaan yang diperlukan
  • Tujuan dari pekerjaan
  • Lokasi tempat kerja
  • Jadwal waktu untuk kegiatan
  • Spesifikasi produk atau hasil lain
  • Spesifikasi untuk metoda kerja
  • Orang yang bertanggung jawab untuk melaksanakan dan mengawasi kegiatan
  • Suatu rencana darurat dalam cuaca buruk atau terdapat masalah dengan peralatan

 

Untuk setiap tugas metoda terbaik dan paling aman yang tersedia harus dipilih. Penggunaannya harus dilakukan dengan metoda yang distandardisasi dan telah disetujui. Sejauh dapat dipraktekkan, pekerjaan manual dan mesin-mesin konvensional perlu didukung dengan mesin, terutama sekali untuk mengurangi mengangkat dan membawa muatan berat dan untuk mengurangi potensi bahaya yang timbul dari penanganan mesin bertenaga dan dipegang dengan tangan.

 

Kebutuhan prasarana harus dinilai sebelum bekerja, dengan memperhatikan lokasinya, kemampuan lalu lintas jalan, dan kebutuhan akan instalasi tambahan. Semua ini harus direncanakan sesuai dengan fasilitas pengangkutan yang digunakan oleh personil, material dan hasil.

 

Lokasi fasilitas perlindungan dan penyimpanan untuk perkakas, material dan peralatan harus ditentukan dan dipersiapkan dengan baik sebelumnya, dalam rangka mengurangi beban kerja dan meningkatkan produktivitas dengan menghindari membawa beban yang berat dengan jarak yang panjang.

 

Alat-alat yang tepat untuk pengangkutan personil, perkakas, peralatan dan bahan ke dan dari tempat kerja harus disediakan dan dirawat dalam keadaan yang baik.

 

b.   Pemeriksaan dan perencanaan lokasi

Lingkungan yang berbeda dimana kegiatan pertanian dilakukan memberikan situasi berbeda. Adalah penting untuk mengevaluasi faktor-faktor lingkungan yang mempunyai dampak terhadap keselamatan kerja sebagai bagian dari proses perencanaan.

 

Sebelum memulai kegiatan pertanian pada lokasi kerja baru seseorang yang ditugaskan oleh manajemen perlu melakukan suatu penilaian resiko, sebagai cara mengidentifikasi setiap karakteristik yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja. Kedua resiko baik resiko alami atau yang disebabkan oleh manusia harus diperhatikan. Penilaian resiko perlu dipertimbangkan khususnya:

  • Topografi lapangan;
  • Cara kerja dan peralatan yang digunakan;
  • Pohon berbahaya, seperti pohon beracun, pohon busuk atau mati dan resiko lokasi kerja lain;
  • Konsultasi dengan pihak yang bertanggung jawab atas pohon hidup atau pohon mati yang dapat dipertahankan dengan aman sebagai habitat alami:
  • Jaringan telepon atau listrik, jalan, jalur pendakian atau ski atau infrastruktur lain.

 

Resiko yang diidentifikasi harus ditandai pada peta dan di lapangan, misalnya dengan suatu pita atau penghalang, apabila dapat dipraktekkan.

 

c.   Pengorganisasian pekerjaan

Tugas dan tanggung-jawab para pekerja dan penyelia harus disebutkan dengan jelas. Instruksi yang jelas harus diberikan kepada para pekerja bila mungkin, secara tertulis, dan setidaknya secara lisan. Intruksi ini harus meliputi:

  • Spesifikasi pekerjaan:
  • Lokasi tempat kerja;
  • Mesin dan perkakas yang diperlukan:
  • Resiko yang teridentifikasi dan aturan keselamatan kerja yang berkaitan:
  • Alat pelindung diri yang diperlukan:
  • Informasi tentang prosedur pertolongan pada kecelakaan yang memerlukan pengungsian:
  • Kebutuhan untuk berhubungan dengan pekerja lain, termasuk dengan kontraktor.

 

Cara kerja, peralatan dan perkakas harus aman dan mematuhi prinsip ergonomik. Jika cara kerja alternatif tersedia, cara yang menyebabkan paling sedikit resiko bagi keselamatan dan kesehatan kerja harus dipilih. Kegiatan ini harus dilaksanakan sesuai dengan pedoman ini. Untuk mengurangi posisi kerja dan beban kerja yang kurang baik dan lama pada pekerjaan tertentu, pekerja harus diusahakan untuk melakukan rotasi pekerjaan di antara anggota dalam kelompok mereka. Ini harus didukung oleh pelatihan pada tugas berbeda dan dengan organisasi.

 

Tidak boleh ada orang bekerja di lokasi yang sangat terpencil sehingga bantuan disaat darurat tidak dapat di peroleh. Di beberapa operasi dimana penebangan, penyaradan atau pemuatan dilaksanakan maka harus ada tim sekurang-kurangnya 2 pekerja yang dapat saling melihat atau mendengar satu sama lain. Pengecualian terhadap ketentuan ini dapat dibuat untuk pekerja yang disediakan dengan radio 2 jalur atau telepon genggam atau peralatan komunikasi lain yang efektif.

 

Pengusaha harus mengadakan pengarahan terhadap pekerja sebelum melaksanakan pekerjaan, memberi tahu mereka hasil penilaian resiko dan memberi arahan tentang bagaimana mengatasi bahaya yang telah diidentifikasi tersebut.

 

Pengawasan atas pekerjaan yang sedang berlangsung harus di percayakan ke orang yang terlatih dan kompeten. Jika pekerjaan menjadi tidak aman karena kondisi cuaca yang buruk atau gelap, pekerjaan harus dihentikan sampai kondisi berubah yang memungkinkan operasi yang aman.

 

Bila pekerjaan dalam keadaan gelap tidak dapat di hindarkan, lokasi kerja harus disiapkan dengan pencahayaan yang cukup untuk menjaga standar keselamatan yang normal. Dalam menghadapi bahaya yang tidak diduga atau tugas tidak dapat dilaksanakan dengan cara yang aman, seperti yang akan dijelaskan dalam, maka pekerjaan harus dihentikan dan berkonsultasi dengan supervisor yang kompeten tentang bagaimana melanjutkannya.

 

Apabila beberapa petugas kontraktor atau pekerja mandiri bekerja pada lokasi yang sama, maka harus dibuat pengaturan untuk menjamin koordinasi dan penugasan serta komunikasi tanggung jawab untuk pengawasan.

 

Setiap pekerjaan yang menimbulkan ancaman terhadap keselamatan pengunjung, termasuk masyarakat umum, harus dilarang masuk tanpa ijin dengan tanda-tanda yang dapat ditunjukkan seperti bahaya, penebangan pohon atau dilarang masuk, operasi perkayuan.

 

Bila pekerjaan yang berbahaya dilaksanakan di sepanjang jalan umum, maka jalan tersebut setidaknya ditutup dalam jarak yang aman selama pekerjaan. Panjang jalan yang ditutup harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari otoritas jalan raya atau polisi.

 

d.   Perlindungan dari cuaca yang tidak menguntungkan dan potensi bahaya biologi

Operasi bidang pertanian di lapangan umumnya dilakukan dalam kondisi cuaca yang tidak menguntungkan dan adanya potensi bahaya biologi. Dalam keadaan seperti ini, harus diambil langkah khusus untuk:

  • Mencegah penyakit yang disebabkan cuaca panas.
  • Perlindungan para pekerja dari radiasi ultraviolet yang berlebihan.
  • Perlindungan pekerja dari cuaca atau kondisi iklim yang dapat menyebabkan kecelakaan atau penyakit, seperti hujan, petir, salju, dan temperatur rendah.
  • Meminimalkan ketidaknyamanan yang disebabkan gigitan atau sengatan serangga, sepanjang hal tersebut dapat dilaksanakan.

 

Para pekerja harus dapat mengenali gejala-gejala penyakit yang berhubungan dengan panas dan cara mengatasi setiap kondisi. Untuk menghindari penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas, maka aturan kerja harus dikembangkan dan dijalankan dengan baik yang memungkinkan para pekerja untuk beristirahat di tempat yang teduh.

 

Bagi para pekerja harus disediakan pakaian kerja yang baik untuk melindungi tubuh dan kepala dalam menghadapi kondisi cuaca buruk, sesuai dengan standar nasional dan internasional. Pakaian kerja di buat dari katun umumnya enak dipakai untuk bekerja di iklim panas. Namun harus dicatat, bahwa baju katun tidak memberi perlindungan yang memadai dari radiasi ultraviolet di daerah-daerah beriklim tropis dan sub tropis, dan penahan sinar matahari dapat digunakan sebagai tambahan.

 

Para pekerja harus dilengkapi dengan penolak serangga efektif, jika diperlukan, waktu memilih dan menggunakan penolak serangga, haruslah dicatat bahwa aplikasi unsur tersebut dalam periode lama dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata yang serius, terutama sekali bila berkombinasi dengan cahaya matahari yang intensif.

 

Apabila memungkinkan, pekerjaan harus dilaksanakan pada saat iklim paling baik bagi pekerja. Musim dari setahun dan waktu kerja sehari-hari dapat mempunyai pengaruh yang besar dalam mengurangi paparan berlebihan terhadap cahaya matahari, temperatur yang ekstrim.

 

  1. C.   Tugas

 

Bagaimana dengan tempat kerja untuk bidang pertanian, apakah sama satu industri dengan industri lainnya? Bandingkan!

  1. Tulisan atau laporan hasil observasi kondisi tempat kerja industri benih yang ditugaskan
  2. Lembar jawaban hasil tes formatif
  3. Foto-foto saat observasi kondisi tempat kerja industri benih yang ditugaskan
  4. Bahan presentase hasil observasi kondisi tempat kerja industri benih yang ditugaskan
  5. Daftar pertanyaan untuk kegiatan observasi kondisi tempat kerja industri benih yang ditugaskan

 

  1. D.   Tes Formatif

 

  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan keselamatan kerja ?
  2. Apa sasaran dalam pelaksanaan K3 ?
  3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tempat kerja ?
  4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tenaga kerja ?
  5. Bilamana suatu perusahaan wajib melaksanakan K3 menurut ketentuan undang-undang ?

 

 

 

 

Kompetensi Dasar 2 :  Membuat prosedur kondisi darurat yang sesuai

 

  1. A.   Tujuan Pembelajaran

 

Setelah mengikuti kegiatan ini peserta diklat mampu membuat prosedur kondisi darurat yang sesuai

 

  1. B.   Uraian Materi

 

1.   Penanganan kondisi darurat di lapangan dan penanganannya

Banyak resiko pekerjaan yang akan terjadi di lapangan yang dihadapi oleh pekerja dalam bidang pertanian, khususnya bidang teknologi benih dari hal-hal yang kecil seperti terlukanya anggota tubuh, digigit hewan berbisa dan buas, keracuan bahan kimia dan pestisida dan lain-lain yang mungkin saja terjadi.

 

Biasanya bila bekerja di lapangan lokasinya jauh dari pemukiman atau tempat berobat jika kecelakaan terjadi. Oleh sebab itu maka menghidari dan mengatasi terjadinya kecelakan di lapangan, maka kepada setiap pekerja harus dibekali dengan kemampuan untuk memberikan pertolongan pertama pada saat terjadinya kecelakaan.

  • Umumnya para pekerja bidang pertanian di lapangan bekerja dalam kelompok kecil di lokasi terpisah, tiap-tiap pekerja harus dilatih dalam PPPK. Pelatihan ini harus meliputi perawatan luka terbuka, dan resusitasi. Dalam area di mana pekerjaan melibatkan resiko keracunan oleh bahan kimia atau asap, ular, serangga atau laba-laba penggigit atau bahaya spesifik lain, maka pelatihan pertolongan pertama harus diperluas melalui konsultasi dengan orang atau organisasi yang berkualitas.
  • Pelatihan pertolongan pertama harus dilakukan secara berulang pada interval yang teratur untuk memastikan bahwa keterampilan dan pengetahuan tidak menjadi ketinggalan jaman atau dilupakan.
  • Ketetapan tentang fasilitas PPPK dan personil yang terlatih harus ditetapkan hukum dan peraturan.
  • Alat atau kotak PPPK yang dirawat dengan baik harus siap tersedia di tempat kerja dan dilindungi terhadap pencemaran oleh kelembaban dan kotoran. Wadah ini harus ditandai dengan jelas dan tidak berisi apapun selain peralatan PPPK.
  • Semua operator harus diberitahukan tentang lokasi peralatan PPPK dan prosedur untuk memperoleh persediaan.

 

2.   Manajemen resiko

Untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan di pekerjaan, ada beberapa hal yang harus dipahami oleh semua pihak, antara lain:

  • Pengusaha harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk mengidentifikasi secara sistematis resiko keselamatan dan kesehatan kerja yang mungkin mempengaruhi atau timbul dari kegiatan pekerjaan dibidang pertanian khususnya teknologi benih.
  • Identifikasi harus meliputi potensi bahaya dan resiko yang nyata dan berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja, kecelakaan dan situasi keadaan darurat.
  • Untuk masing-masing kegiatan dan tugas harus dilaksanakan suatu evaluasi resiko. Setiap resiko harus diidentifikasi dan dicatat.
  • Prosedur harus dipelihara untuk mengevaluasi resiko dan pengaruh dari potensi bahaya yang teridentifikasi, dengan memperhatikan frekwensi di mana keselakaan paling sering terjadi.
  • Berdasarkan hasil evaluasi resiko, perusahaan harus menetapkan tujuan untuk menurunkan resiko sampai tingkat serendah mungkin, dan memikirkan dan melaksanakan tindakan pencegahan yang sesuai. Tindakan ini harus meliputi aplikasi pemeriksaan lokasi rutin dan perencanaan seperti halnya prinsip organisasi pekerjaan.
  • Para manajer, penyelia dan pekerja harus terlibat dalam identifikasi resiko dan pengaruhnya terhadap keselamatan, kesehatan atau lingkungan kerja.

 

3.   Pelaporan, pencatatan, penyelidikan dan pemberitahuan penyakit dan kecelakaan kerja

 

3.1.   Ketentuan Umum

Pelaporan, pencatatan, pemberitahuan dan penyelidikan tentang kecelakaan dan penyakit akibat kerja harus dikerjakan untuk:

(a) menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang kecelakaan dan penyakit akibat kerja pada tingkat perusahaan dan nasional;

(b) mengidentifikasi permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja utama yang timbul dari kegiatan kehutanan:

(c)  menentukan prioritas tindakan:

(d) meningkatkan cara efektif yang berkaitan dengan kecelakaan dan penyakit akibat kerja:

(e) memantau keefektifan yang diambil untuk menjamin tingkat kepuasan keselamatan dan kesehatan kerja.

 

Para pekerja dan wakil mereka harus diberi informasi yang tepat oleh pengusaha mengenai pengaturan untuk pelaporan, pencatatan dan pemberitahuan informasi tentang kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

 

3.2.   Kejadian-kejadian untuk pelaporan dan pemberitahuan

Hal yang harus dilaporkan dan diberitahukan, yaitu:

(a) semua kecelakaan fatal.

(b) kecelakaan kerja yang menyebabkan hilangnya waktu kerja, selain dari kerugian tidak bermakna.

(c)  semua penyakit akibat kerja yang termasuk dalam daftar nasional atau yang tercakup oleh definisi penyakit yang mempengaruhi setiap orang, apakah yang dipekerjakan atau usaha mandiri.

 

Untuk maksud manajemen keselamatan dan kesehatan kerja internal, pencatatan pada tingkat perusahaan diperluas dari syarat-syarat yang ditetapkan di atas yang meliputi kecelakaan selama perjalanan pulang pergi, kecelakaan dan kejadian berbahaya yang tidak menyebabkan hilangnya waktu kerja.

 

3.3.   Praktek pelaporan, pencatatan, pemberitahuan dan penyelidikan

Pelaporan, pencatatan, pemberitahuan dan penyelidikan tentang kecelakaan dan penyakit akibat kerja harus mengikuti prosedur standar untuk memastikan pengumpulan informasi yang dapat dipercaya.Semua kecelakaan dan penyakit akibat kerja harus dilaporkan secara tertulis dengan menggunakan suatu format standar. Informasi mengenai kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang harus diberitakan dan format standar pemberitahuan yang disarankan harus ditetapkan oleh hukum dan peraturan nasional. Penggolongan jenis informasi spesifik yang harus digunakan untuk pencatatan dan pemberitahuan pada tingkat perusahaan dan nasional harus mematuhi versi terbaru dari standar internasional yang diadopsi, khususnya mengenai kegiatan ekonomi (ISIC), jabatan (ISCO), ketenagakerjaan (ICSE) dan kecelakaan dan penyakit akibat kerja (lihat acuan dan bacaan lebih lanjut di bagian belakang buku).

 

Kecelakaan dan penyakit akibat kerja harus diberitahukan kepada yang disyaratkan oleh hukum dan peraturan, antara lain kepada:

(a) keluarga korban kecelakaan, yang harus diberitahukan secepat mungkin.

(b) otoritas yang kompeten.

(c)  otoritas ganti-rugi yang sesuai (sebagai contoh jaminan sosial atau penjamin asuransi).

(d) badan/instansi yang menyusun statistik keselamatan dan kesehatan kerja kerja nasional.

(e) badan/instansi lain yang terkait.

 

 

 

  1. C.   Tugas

 

Coba teliti dan amati penerapan program K3 yang dilaksanakan oleh suatu industri benih ?

  1. Tulisan atau laporan hasil observasi penerapan program K3 di industri benih yang ditugaskan
  2. Lembar jawaban hasil tes formatif
  3. Foto-foto hasil observasi penerapan program K3 di industri benih yang ditugaskan
  4. Bahan presentase hasil observasi penerapan program K3 di industri benih yang ditugaskan
  5. Daftar pertanyaan untuk kegiatan observasi penerapan program K3 di industri benih yang ditugaskan

 

  1. D.   Tes Formatif

 

  1. Apa gunanya membuat petunjuk pengoperasian pada setiap alat ?
  2. Apakah persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh setiap mesin, perkakas dan bahan kimia berbahaya yang digunakan dalam bidang pertanian agar K3 terlaksana dengan baik ?
  3. Pekerjaan dalam bidang pertanian khususnya di lapangan memiliki resiko yang tinggi terhadap terjadinya kecelakaan, oleh sebab itu kepada pekerja di lapangan harus dibekali kemampuan untuk penanganan darurat. Jelaskan bekal apa yang harus diberikan!
  4. Untuk meminimalkan dampak terjadinya kecelakaan, maka setiap orang yang berhubungan dengan pelaksanaan K3 harus melaksanakan manajemen resiko.  Apa point-point yang harus dipahami oleh setiap personil ?

 

 

 

Kompetensi Dasar 3 :    Melakukan partisipasi pengaturan pemeliharaan keselamatan dan kesehatan kerja semua orang di tempat kerja

 

  1. Tujuan Pembelajaran

 

Setelah mengikuti kegiatan ini peserta diklat mampu melakukan partisipasi pengaturan pemeliharaan keselamatan dan kesehatan kerja semua orang di tempat kerja

 

  1. B.   Uraian Materi

 

Pengusaha harus membuat dan memelihara catatan tentang kecelakaan dan penyakit akibat kerja seperti yang ditentukan oleh otoritas yang kompeten. Catatan kecelakaan dan penyakit akibat kerja harus siap tersedia dan dapat diperoleh kembali pada setiap waktu.

 

1.   Pelayanan kesehatan

Keberadaan tenaga kerja atau pekerja di suatu perusahaan khususnya bidang pertanian adalah merupakan aset bagi perusahaan tersebut, sehingga segala sesuatu yang menyangkut pekerja termasuk kesehatan pekerja adalah merupakan tanggung jawab perusahaan dimana pekerja itu bekerja.  Untuk itu kesehatan pekerja adalah merupakan hal utama yang tidak boleh terlupakan.

 

Pelayanan kesehatan bagi para pekerja harus dilakukan secara berkala, hal ini bertujuan untuk memperoleh data base tentang kesehatan pekerja, sehingga pihak perusahaan akan memperoleh data yang akurat untuk peningkatan layanan kesehatan pekerjanya. Kepedulian terhadap kesehatan pekerja harus dilakukan karena hal ini telah diatur dalam undang-undang K3.

 

Untuk memelihara keselamatan dan kesehatan kerja yang baik, semua pekerja harus bekerjasama untuk melakukan pemeriksaan kesehatan berkala. Pelayanan kesehatan kerja harus disediakan oleh para profesional yang berkualitas untuk permasalahan spesifik yang berhubungan dengan pekerjaan kehutanan. Mereka juga memperhatikan perkembangan dan keselamatan dan kondisi-kondisi kerja, peralatan dan organisasi pekerjaan dalam pekerjaan kehutanan.

 

2.   Perawatan Kesehatan

Perawatan kesehatan untuk para pekerja dan keluarganya harus disediakan jika pelayanan kesehatan masyarakat tidak tersedia dalam areal dimana para pekerja dan keluarganya tinggal.

 

Tingkat keselamatan dan kesehatan kerja yang memuaskan dicapai bila sejumlah prinsip yang berhubungan erat dengan K3 telah diterapkan secara nasional di perusahaan dan tempat kerja. Prinsip-prinsip ini meliputi pemenuhan hukum dan peraturan, dan kebijakan yang menyangkut dengan K3 dalam bidang pekerjaan, khususnya di bidang pertanian.

 

Didefinisikan dengan jelas tentang sifat dan tingkat bahaya resiko yang terdapat dalam pekerjaan bidang pertanian, demikian juga pembagian tanggung jawab bagi masing-masing pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan K3, yaitu pihak manajemen, penyelia dan pengawasan dan tenaga kerja (pekerja).

 

Diakui bahwa perusahaan yang bergerak dalam bidang pertanian sangat bervariasi dalam hal ukuran, lingkup, stabilitas ekonomi dan budaya. Meski demikian, perbedaan ini mestinya tidak menjadi suatu pertimbangan untuk melemahkan aplikasi prinsip umum yang penting bagi promosi kondisi kerja yang mencegah atau mengurangi resiko kecelakaan atau penyakit.

 

3.   Kerangka perundang-undangan dan Tugas-tugas Umum

Kerangka perundang-undangan dan tugas-tugas dan wewenang pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan K3. Kebijakan, hukum dan peraturan nasional tentang keselamatan dan kesehatan kerja harus ditetapkan dengan berkonsultasi dengan organisasi pengusaha dan para pekerja yang diakui. Hukum dan peraturan harus cukup fleksibel dan ditinjau ulang pada interval yang sesuai untuk memudahkan penyesuaiannya terhadap perkembangan teknologi, situasi dan standar-standar baru. Menetapkan tujuan perlindungan lebih tepat daripada menyarankan upaya-upaya pencegahan khusus, adalah satu cara dalam memperoleh fleksibilitas tersebut. Peraturan atau hukum harus ditambah dalam praktek dengan standar-standar teknis, kode praktek atau petunjuk kewenangan, yang konsisten dengan kondisi-kondisi dan praktek nasional. Otoritas yang kompeten harus menjamin bahwa semua pekerja bidang pertanian mendapat manfaat perlindungan dari peraturan dengan efektif seperti yang berlaku di sektor industri lain.  Otoritas yang kompeten harus menjamin bahwa semua para pekerja bidang pertanian, tanpa memandang pada status pekerjaan mereka mendapat manfaat dan tingkat perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja yang sama, dan subyek terhadap syarat-syarat yang sama untuk pencegahan.

 

Otoritas yang kompeten harus memikirkan dan memelihara suatu kebijakan nasional; dan mengadopsi peraturan atau hukum untuk menjamin keselamatan dan kesehatan kerja para pekerja yang dipekerjakan dalam kegiatan pertanian dan untuk melindungi orang-orang pada, atau di dalam daerah sekitar, tempat kerja bidang pertanian dari semua resiko yang mungkin muncul sebagai hasil kegiatan pekerjaan.

 

Hukum dan peraturan harus menempatkan tanggung-jawab khusus pada pengusaha, orang-orang yang mempunyai kendali terhadap tempat kerja, pabrikan, para perancang, para pemasok bahan, para pekerja dan kontraktor.

 

Hukum atau peraturan nasional hendaknya menyatakan bahwa:

(a)  pengusaha mempunyai tanggung jawab utama terhadap keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan di bidang pertanian. Pengusaha bertanggung jawab untuk menerapkan dan memelihara sistem dan cara kerja yang aman dan tanpa resiko bagi kesehatan;

(b)  pengusaha harus memberi semua instruksi dan pelatihan yang perlu untuk menjamin bahwa para pekerja berkompeten untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka dengan aman.

(c)  pengusaha harus membuat suatu sistem dimana kecelakaan, kejadian berbahaya dan penyakit akibat kerja dilaporkan, dicatat dan diselidiki, dan memastikan bahwa penyesuaian yang perlu dibuat untuk mencegah atau mengurangi timbulnya kecelakaan, kejadian berbahaya dan penyakit akibat kerja di masa datang.

(d)  orang-orang yang memegang kendali atau penanggung jawab utama seperti pemilik perusahaan, kontraktor utama, para manajer dan penyelia harus memastikan bahwa tempat kerja tersebut adalah aman dan tanpa resiko bagi kesehatan.

(e)  manufaktur, para perancang dan pemasok peralatan dan bahan pertanian harus bertanggung jawab untuk memastikan bahwa produk mereka dirancang dan dibuat sehingga aman dan tanpa resiko bagi kesehatan, bila digunakan dengan tepat.

(f)   para pekerja harus bekerja sama dengan pengusaha mereka untuk memastikan pemenuhan tugas-tugas yang secara hukum dibebankan pada pengusaha.

(g)  para pekerja harus diwajibkan untuk mengambil semua langkah-langkah yang sesuai untuk menjamin keselamatan diri mereka dan orang lain yang mungkin mendapat resiko sebagai akibat dari tindakan atau kelalaian mereka waktu bekerja.

(h)  upaya-upaya yang diambil untuk memastikan bahwa ada kerjasama yang erat antara pengusaha dan para pekerja dalam mempromosikan keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan kehutanan. Upaya-upaya tersebut harus meliputi:

  • pembentukan panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja dengan wakil pengusaha dan para pekerja, yang mempunyai tugas-tugas dan wewenang yang dirumuskan dengan baik.
  • penunjukan dari delegasi keselamatan pekerja yang dipilih dengan kekuasaan dan tanggungjawab yang baik.
  • penunjukan oleh pengusaha bagi orang-orang yang berkualitas sesuai dan berpengalaman sesuai untuk mempromosikan dan memberikan saran tentang keselamatan dan kesehatan kerja.
  • pelatihan untuk anggota delegasi keselamatan dan panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja.

(i)    kontraktor harus diwajibkan untuk mematuhi semua paragraf di depan yang bisa diterapkan sesuai statusnya dan ketentuan kontrak yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan.

(j)    pengusaha harus berperan serta dengan semua pihak-pihak terkait dalam penetapan suatu sistem rehabilitasi bagi para pekerja yang telah terluka dalam kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan atau yang sudah menderita penyakit akibat kerja.

 

Peraturan atau hukum harus menetapkan tingkat ketrampilan yang diperlukan untuk pelaksanaan yang aman dari pekerjaan pertanian untuk berbagai kategori pekerja dan menjelaskan prosedur untuk menguji ketrampilan ini dan mensertifikasinya sebagai hal yang memadai.

 

Otoritas yang kompeten harus mendukung penetapan dan pengoperasian suatu sistem pelatihan yang menyediakan kebutuhan sektor pertanian. Perhatian khusus harus diberikan untuk mendapatkan pelatihan bagi usaha mandiri, kontraktor, petani yang  bekerja di lapangan.

 

Hukum dan peraturan tentang K3 harus:

(a) menyediakan cakupan tentang ganti-rugi pekerja dalam peristiwa kecelakaan dan penyakit akibat kerja, dan ganti-rugi bagi pewaris dalam peristiwa kematian yang berhubungan dengan pekerjaan.

(b) menetapkan jenis kecelakaan dan penyakit akibat kerja dalam lingkup ganti-rugi.

(c)  memperluas cakupan bagi semua para pekerja dalam kehutanan, tanpa memandang pada status pekerjaan mereka.

(d) mengidentifikasi otoritas yang bertanggung jawab untuk mengatur ganti-rugi pekerja.

 

Badan-badan atau organisasi yang bertanggung jawab melakukan pembayaran bagi para pekerja harus dikonsultasikan saat menyusun standar teknis, hukum dan peraturan. Tingkat asuransi harus dihubungkan dengan catatan ganti-rugi keselamatan dan kesehatan kerja perusahaan di bawah sistem bonus yang menyediakan suatu perangsang keuangan, menyiapkan sistem ini tidak digunakan untuk mengurangi keinginan para pekerja untuk melaporkan kecelakaan dan masalah kesehatan yang berhubungan dengan pekerjaan. Hukum dan peraturan harus menentukan konsep dan istilah yang berkaitan dengan kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta menjelaskan kategori atau jenis kecelakaan dan penyakit akibat kerja, kecelakaan selama perjalanan pulang-pergi, peristiwa dan kejadian berbahaya yang perlu dilaporkan, dicatat, diberitahukan, diselidiki dan dipantau; juga harus mengindikasikan masing­-masing prosedur yang harus digunakan. Untuk definisi konsep-konsep dan penetapan aturan pada tingkat nasional dan perusahaan untuk pelaporan, pencatatan, pemberitahuan dan penyelidikan kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan penyimpanan dari statistik terkait, ketentuan dari pencatatan dan pemberitahuan kecelakaan dan penyakit akibat kerja : An ILO code of practice, (Geneva, ILO, 1966) harus diterapkan.

 

Kewenangan pihak-pihak yang yang kompeten harus:

(a) menyediakan pelayanan pengawasan yang cukup dalam rangka memberikan saran dalam mengatur dan menegakkan aplikasi ketentuan hukum dan peraturan.

(b) menetapkan hukuman yang sesuai untuk pelanggaran hukum dan peraturan.

(c)  menjelaskan hak-hak dan tugas-tugas pengawasan dalam menegakkan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja.

(d) menyediakan pelayanan pengawasan dengan sumber daya yang diperlukan untuk memenuhi tugas mereka.

(e) membuat suatu sistem pemantauan untuk memastikan bahwa pengawasan dilaksanakan secara efektif.

 

4.   Tugas-tugas pengawas ketenagakerjaan

Pengawasan ketenagakerjaan harus memantau kepatuhan dan menegakkan semua hukum dan peraturan terkait di tempat kerja. Pengawasan ketenagakerjaan harus bertujuan mendukung upaya-upaya pekerja dan pengusaha sendiri untuk memperbaiki tingkat keselamatan dan kesehatan kerja. Pekerjaan bidang pertanian sering dilaksanakan di dalam tempat kerja terpencil yang tersebar dan sering berpindah tempat, dan pekerjaan biasanya dikerjakan oleh kelompok-kelompok kecil pekerja. Faktor-faktor ini membuat penegakan hukum dan peraturan menjadi lebih sulit dibanding beberapa sektor industri. Banyak potensi bahaya yang mungkin dihubungkan dengan lingkungan yang tidak ramah dibanding syarat-syarat yang tidak cukup yang berkaitan dengan perilaku lalai. Banyak praktek kerja didasarkan pada suatu pendapat tentang apa aman itu dan apa yang tidak. Hukum dan peraturan tidak bisa diharapkan memenuhi setiap variabel, tapi hukum harus menyediakan dasar yang kuat untuk praktek pekerjaan yang aman dan sehat.

 

Hak-hak, prosedur dan tanggungjawab dari pengawas keselamatan dan kesehatan kerja harus dikomunikasikan pada mereka semua yang mungkin terpengaruh. Sifat tindakan penegakan, terutama keadaan yang bisa mendorong kearah tuntutan di pengadilan, adalah penting sekali.

 

Adapun tugas-tugas pengawas ketenagaan kerja adalah :

  • melaksanakan pemeriksaan tempat kerja secara berkala, yang idealnya dihadiri wakil pekerja dan pengusaha.
  • memberi saran pada pengusaha dan para pekerjanya mengenai pelaksanaan kegiatan yang aman, terutama sekali tentang pemilihan dan penggunaan cara kerja yang aman serta alat pelindung diri yang sesuai.
  • menindak lanjuti suatu pemeriksaan, temuan-temuan harus diberitahu kepada personil terkait sehingga tindakan perbaikan mungkin dilakukan dengan segera. Temuan-temuan ini harus dibahas oleh panitia keselamatan dan kesehatan kerja setempat, jika mereka ada, atau dengan wakil organisasi pekerja.
  • memantau syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja perusahaan pada sektor pertanian dalam rangka memberikan umpan balik untuk pengembangan dan perbaikan upaya keselamatan lebih lanjut.
  • berperan serta, bekerjasama dengan organisasi pengusaha dan pekerja yang diakui, dalam perumusan dan pembaharuan aturan keselamatan dan upaya keselamatan tambahan untuk diadopsi pada tingkat nasional dan perusahaan.
  • melakukan pengawasan pekerjaan dan penilaian kepatuhan terhadap peraturan dan syarat-syarat harus tidak dilihat sebagai hal yang eksklusif pada pengawas yang ditunjuk secara hukum. Pengusaha dan mereka yang mempunyai status sama harus memperkenalkan suatu prosedur perusahaan dalam rangka mengidentifikasi dan memperbaiki ketidakpatuhan dan/atau menentukan standar baru dalam keadaan di mana hal ini telah dilalaikan atau dilewatkan, sehingga memastikan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja menjadi suatu tujuan manajemen yang dinamis dan profil yang tinggi.

 

 

5.   Tugas-tugas dan tanggung jawab pengusaha

  • Pengusaha bertanggung jawab untuk keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan. Mereka harus berusaha keras untuk mengurangi bahaya pada, atau di daerah sekitar tempat kerja bidang pertanian sampai pada tingkat serendah mungkin.
  • Pengusaha harus memastikan kepatuhan terhadap semua hukum, peraturan dan kode praktek yang relevan dengan keselamatan dan kesehatan kerja. Mereka harus mengembangkan dan menerapkan syarat-syarat mereka sendiri, jika hukum dan peraturan belum diberlakukan.
  • Pengusaha harus memulai dan memelihara suatu budaya keselamatan kerja di perusahaan, mencakup sistem moral dan penghargaan serta perangsang material untuk semua personil terlibat.
  • Bila mungkin, pengusaha harus membentuk panitia dengan wakil para pekerja dan manajemen atau membuat susunan lain untuk partisipasi para pekerja dalam mempromosikan kondisi kerja aman.
  • Pengusaha harus membentuk dan memelihara suatu kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dan sistem manajemen yang terkait pada tingkat perusahaan.
  • Pengusaha harus secara sistematik mengidentifikasi potensi bahaya dan pengaruhnya terhadap keselamatan dan kesehatan kerja yang mungkin disebabkan atau timbul dari kegiatan bidang pertanian; menyertakan para manajer, para penyelia dan para pekerja dalam prosedur identifikasi ini apabila sesuai.
  • Pengusaha harus menugaskan para pekerja hanya terhadap tugas-tugas yang sesuai dengan umur, bentuk badan, status kesehatan dan ketrampilan mereka.
  • Pengusaha dan pihak commissioning yang memberikan pelayanan harus mempromosikan stabilitas dan tingkat keluar masuk yang rendah dari pekerja dan kontraktor mereka.
  • Pengusaha harus memastikan bahwa semua pekerja, dan juga kontraktor serta para pekerjanya:

(a)  cukup dididik dan dilatih dalam tugas yang diberikan pada mereka dan memegang sertifikat keterampilan yang sesuai.

(b)  diberitahukan tentang semua resiko keselamatan dan kesehatan kerja yang diidentifikasi dalam masing-masing kegiatan mereka.

(c)  diinstruksikan dengan tepat tentang bahaya yang berhubungan dengan pekerjaan dan lingkungan mereka dan juga dilatih tentang tindakan pencegahan yang perlu untuk menghindari kecelakaan dan gangguan kesehatan.

(d)  diberikan kesadaran terhadap hukum, peraturan, syarat-syarat, kode praktek, instruksi dan nasihat yang berkaitan dengan pencegahan kecelakaan dan penyakit.

(e)  diberitahukan tentang tanggung jawab mereka secara individu dan bersama untuk keselamatan dan kesehatan kerja.

(f)   diinstruksikan dengan cukup tentang penggunaan dan efek perlindungan dan pemeliharaan alat pelindung diri.

 

Pengusaha harus memelihara prosedur untuk menjamin dan meningkatkan kompetensi para pekerja melalui identifikasi kebutuhan pelatihan dan penyediaan pelatihan yang sesuai. Khusus dalam operasi yang berbahaya pengusaha harus memastikan bahwa hanya orang­orang yang ditugaskan untuk melaksanakan pekerjaan yang ada di tempat kerja.

 

Alat pelindung diri dan pakaian pelindung yang ditetapkan harus disediakan dan dipelihara oleh pengusaha, tanpa biaya bagi para pekerja, seperti yang ditetapkan hukum dan peraturan.

 

Pengusaha harus merencanakam pemeriksaan reguler pada interval yang sesuai oleh seorang berkompeten terhadap semua peralatan, perkakas, mesin, alat pelindung diri dan tempat kerja di bawah pengendalian pengusaha sesuai dengan peraturan, syarat atau kode praktek terkait.

 

Pengusaha harus menyediakan supervisi yang akan memastikan bahwa para pekerja dan kontraktor melaksanakan pekerjaan dengan memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja mereka, dan memastikan bahwa personil supervisi tersebut kompeten dan mempunyai kewenangan dan sumber daya yang perlu untuk melaksanakan tugas-tugas mereka secara efektif.

 

Pada lokasi yang tersebar dan di mana kelompok-kelompok kecil para pekerja beroperasi di tempat yang terisolasi, pengusaha harus membangun suatu sistem pengecekan yang dapat memastikan bahwa semua anggota dari suatu kelompok, termasuk operator peralatan bergerak, sudah kembali ke kemah atau basis yang dekat dengan pekerjaan.

 

6.   Tugas-Tugas para manajer dan para penyelia 

Para manajer dan para penyelia harus menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja perusahaan, melalui pemilihan peralatan yang aman, cara kerja dan organisasi kerja serta pemeliharaan tingkat ketrampilan yang tinggi. Mereka harus berusaha mengurangi resiko dan potensi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja dalam kegiatan di mana mereka bertanggung jawab, sampai pada tingkat serendah mungkin. Para manajer dan para penyelia harus memastikan bahwa para pekerja dan kontraktor menerima informasi yang cukup tentang peraturan, kebijakan, prosedur dan syarat keselamatan dan kesehatan kerja sesuai  yakin bahwa informasi ini dipahami.

 

Para manajer dan para penyelia harus memberikan tugas kepada bawahan mereka dengan cara yang jelas dan tepat. Para manajer dan penyelia harus yakin bahwa para pekerja itu memahami dan melaksanakan syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja.

 

Para manajer dan para penyelia harus memastikan bahwa pekerjaan direncanakan, diorganisir dan dilaksanakan dengan cara sedemikian rupa untuk memperkecil resiko kecelakaan dan terpajannya para pekerja pada kondisi-kondisi yang mungkin merusak kesehatan  pekerja.

 

Dalam konsultasi dengan para pekerja, para manajer dan para penyelia harus menilai kebutuhan akan instruksi tambahan, pelatihan atau pendidikan lebih lanjut bagi para pekerja dengan memantau kepatuhan terhadap syarat-syarat keselamatan kerja.

 

Bila para manajer atau penyelia melihat ketidak-patuhan terhadap peraturan atau kode praktek keselamatan dan kesehatan kerja oleh seorang pekerja di bawah pengawasan mereka, mereka harus segera mengambil tindakan yang tepat. Jika tindakan seperti itu gagal, maka masalah harus dirujuk pada tingkat manajemen yang lebih tinggi dengan segera.

 

Para penyelia harus bertanggung jawab terhadap pemantauan kepatuhan kontraktor dan para pekerjanya terhadap syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja seperti yang ditetapkan dalam kontrak mereka. Dalam hal ketidakpatuhan, para penyelia harus memberikan nasihat dan instruksi yang tepat pada kontraktor dan para pekerja mereka. Jika tindakan penyelia tidak efektif, masalah tersebut harus dilaporkan segera pada manajemen senior.

 

7.   Tugas-tugas dan tanggung-jawab kontraktor

  • Kontraktor yang mempekerjakan para pekerja harus dianggap seperti pengusaha untuk maksud kode ini. Ketentuan yang menyangkut tanggung-jawab dan tugas-tugas pengusaha.
  • Kontraktor harus terdaftar atau memegang lisensi bila disyaratkan oleh hukum atau peraturan atau bila terdapat skema sukarela yang diakui.
  • Kontraktor dan para pekerja mereka harus disyaratkan untuk memegang sertifikat ketrampilan yang sesuai.
  • Kontraktor harus mematuhi semua hukum dan peraturan mengenai pekerjaan, ganti rugi pekerja, pengawasan tenaga kerja dan keselamatan dan kesehatan kerja.
  • Kontraktor harus sadar dan beroperasi sesuai dengan kebijakan dan strategi pihak komisioning untuk promosi keselamatan dan kesehatan kerja dan harus mematuhi dan bekerjasama dengan upaya dan syarat-syarat terkait.

 

8.   Hak dan tanggung-jawab para pekerja

  • Semua pekerja harus bekerjasama erat dengan pengusaha untuk mempromosikan keselamatan dan kesehatan kerja.
  • Para pekerja atau wakil mereka harus mempunyai hak dan tugas berperan serta dalam semua hal yang terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja, khususnya dengan berperan serta dalam panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja.
  • Para pekerja mempunyai hak untuk memperoleh informasi yang tepat dan menyeluruh dari pengusaha mereka tentang resiko keselamatan dan kesehatan kerja serta upaya yang berkaitan dengan fungsi mereka. Informasi ini harus diberikan dalam format dan bahasa yang dimengerti oleh para pekerja.
  • Para pekerja harus memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja mereka sendiri dan orang-orang lain yang mungkin terpengaruh oleh tindakan atau kelalaian mereka di tempat kerja.
  • Para pekerja harus mematuhi semua upaya keselamatan dan kesehatan kerja yang ditentukan.
  • Para pekerja harus menggunakan dan memelihara semua alat pelindung diri dan pakaian pelindung.
  • Para pekerja dilarang mengoperasikan atau mengganggu perkakas, mesin dan peralatan yang mereka tidak berwenang untuk mengoperasikan, memelihara atau menggunakannya.
  • Para pekerja harus melaporkan setiap kecelakaan atau gangguan kesehatan yang timbul selama atau dalam hubungan dengan pekerjaan kepada manajer atau penyelia yang bertanggung jawab pada akhir shift.
  • Para pekerja harus melaporkan segera kepada penyelia langsung mereka tanpa prasangka, setiap situasi yang mereka percaya menimbulkan bahaya yang mendadak dan serius bagi hidup dan kesehatan mereka terhadap orang lain atau lingkungan kerja.
  • Para pekerja yang sudah pindah dari suatu situasi kerja yang menurut pertimbangan mereka menimbulkan bahaya yang mendadak dan serius bagi hidup atau kesehatan mereka harus dilindungi dari akibatnya sesuai dengan kondisi-kondisi praktek dan nasional.
  • Para pekerja mempunyai hak untuk pemeriksaan kesehatan yang sesuai oleh orang praktisi medis yang disetujui, tanpa biaya sendiri, jika terdapat alasan-alasan yang dipercaya bahwa suatu kegiatan atau suatu situasi kerja mungkin telah menyebabkan gangguan terhadap kesehatan. Pemeriksaan kesehatan ini harus diberikan tanpa tergantung pada pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi penyakit akibat kerja, yang harus dikerjakan secara teratur dengan partisipasi yang kooperatif dari para pekerja.

 

9.   Tugas-Tugas Para Pabrikan dan Pabrikan Bahan dan Peralatan

  • Pembuat dan penyalur perkakas, mesin, peralatan dan bahan yang dibuat dan dijual untuk digunakan di pertanian harus menjamin bahwa semua perkakas, peralatan dan mesin

(a) dalam rancangan dan konstruksi yang baik, dengan mempertimbangkan prinsip keselamatan, kesehatan dan ergonomi.

(b) mematuhi syarat-syarat keselamatan kerja nasional dan internasional terkait yang dimuat dalam standar internasional.

(c)  diuji dan disertifikasi sesuai dengan hukum atau peraturan.

  • Pembuat dan para pemasok harus menyediakan instruksi dan informasi yang menyeluruh dan dapat dimengerti

(a) tentang bahaya keselamatan dan kesehatan kerja yang berkaitan dengan penggunaan perkakas, mesin, peralatan dan bahan.

(b) tentang penggunaan yang aman dari perkakas , peralatan dan bahan; (c) tentang semua aspek pemeliharaan.

(d) tentang alat pelindung diri yang diperlukan saat menggunakan perkakas spesifik, mesin, peralatan dan bahan khusus.

(e) tentang kebutuhan akan pelatihan untuk mengoperasikan perkakas, peralatan dan mesin serta untuk menggunakan bahan dengan aman.

  • Pembuat harus secara terus-menerus memperbaiki dengan upaya-upaya teknis dan organisatoris, aspek keselamatan dan kesehatan kerja dari perkakas, mesin, peralatan dan bahan-kimia berbahaya yang dibuat untuk digunakan di kehutanan, dengan mempertimbangkan temuan riset ergonomik terbaru, dalam rangka mengurangi potensi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja menjadi serendah mungkin. Khususnya, perancangan gergaji rantai harus diperbaiki lebih lanjut dalam rangka mengurangi bahaya kesehatan.

 

Pembuat harus mempertimbangkan potensi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja yang timbul dari penggunaan perkakas, mesin dan peralatan saat peralatan baru sedang dirancang, perbaikan atau penyesuaian yang dibuat terhadap peralatan yang ada.

 

 

 

 

  1. C.   Tugas

 

Coba amati dan cermati kegiatan para pabrikan peralatan dan bahan dalam pelaksanaan K3 di industri benih!

 

  1. D.   Tes Formatif

 

  1. Agar pelaksanaan K3 di suatu perusahaan atau instansi dapat berjalan dengan baik diperlukan adanya pengawas ketenagakerjaan. Apa tugas ketenagakerjaan dalam pelaksanaan K3 ?
  2. Pengusaha merupakan orang yang paling bertanggung jawab terhadap pelaksanaan K3 diperusahaannya. Jelaskan tugas dan tanggung jawab pengusaha dalam pelaksanaan K3 ?
  3. Pekerja merupakan salah satu komponen yang sangat penting di suatu perusahaan, karena pekerja adalah orang yang selalu mengalami kecelakaan dalam pelaksanaan pekerjaan. Jelaskan hak dan tanggung jawab pekerja dalam pelaksanaan K3 di perusahaan ?

 


  1. III.    EVALUASI

 

  1. A.   Penilaian Aspek Kognetif

 

NO.

BUTIR SOAL

Perhatikan pernyataan di bawah ini!

(1)  Keselamatan dan kesehatan kerja adalah keselamatan dan kesehatan yang berhubungan erat dengan mesin, peralatan kerja, dan bahan.

(2)  Keselamatan dan kesehatan kerja adalah keselamatan dan kesehatan yang berhubungan erat dengan proses pengolahan, landasan kerja dan lingkungan serta cara-cara melakukan pekerjaan.

Dari pernyataan tersebut di atas, maka:

  1. (1) dan (2) benar
  2. (1) dan (2) salah
  3. (1) benar dan (2) salah
  4. (1) salah dan (2) benar
Segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, maupun di dalam air merupakan:

  1. kualitas program K3
  2. sasaran program K3
  3. materi program K3
  4. distribusi program K3
Perhatikan pernyataan di bawah ini!

(1)  Setiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja untuk keperluan suatu usaha dimana terdapat sumber-sumber bahaya baik di darat, di dalam tanah, dipermukaan air, didalam air, maupun di udara yang menjadi kewenangan suatu badan usaha atau perusahaan.

(2)  Tempat dimana kegiatan pertanian biasa dilaksanakan, seperti laboratorium, dan lapangan.

Dari pernyataan tersebut, maka:

  1. (1) dan (2) benar
  2. (1) dan (2) salah
  3. (1) benar dan (2) salah
  4. (1) salah dan (2) benar
Komponen-komponen yang harus ada sehingga K3 wajib dilakukan adalah, kecuali:

  1. tempat kerja
  2. perusahaan
  3. tenaga kerja
  4. alat dan bahan kerja
Peraturan Menteri Tenaga Kerja yang mengatur tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah:

  1. No:Per.15/MEN/1996
  2. No:Per.05/MEN/1995
  3. No:Per.25/MEN/1996
  4. No:Per.05/MEN/1996
Perhatikan pernyataan di bawah ini!

  1. Setiap perusahaan yang memperkerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang wajib menerapkan sistem manajemen K3.
  2. Setiap perusahaan yang memiliki potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit dan akibat kerja wajib menerapkan sistem manajemen K3.

Dari pernyataan tersebut, maka:

  1. (1) dan (2) benar
  2. (1) dan (2) salah
  3. (1) benar dan (2) salah
  4. (1) salah dan (2) benar
Di bawah ini merupakan hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan peralatan tangan yaitu, kecuali:

  1. harus terbuat dari besi
  2. tangkai harus memberikan suatu genggaman yang kuat
  3. panjang tangkai dan berat, harus sesuai dengan kebutuhan dan keadaan fisik dari pemakai
  4. terbuat dari baja berkualitas baik
Di bawah ini adalah kriteria umum pakaian kerja yang dipakai bagi pekerja dalam bidang pertanian untuk di lapangan, kecuali:

  1. harus dibuat dari bahan yang menjaga badan pekerja tetap kering dan berada pada temperatur yang nyaman
  2. harus sesuai dengan permintaan desain pekerja
  3. harus mempunyai warna yang kontras dengan lingkungan pertanian
  4. harus memiliki fungsi yang spesifik dan memenuhi standar internasional atau nasional
Resiko pekerjaan dalam lingkup kerja bidang pertanian  terbagi dalam kategori:

  1. laboratorium
  2. lapangan
  3. laboratorium dan lapangan
  4. bengkel
Bahan kimia yang dipergunakan untuk membasmi hama dan penyakit tanaman disebut:

  1. fungisida
  2. herbisida
  3. pestisida
  4. sianida
Yang tidak termasuk ke dalam perencanaan dan pengorganisasian pekerjaan pada suatu rencana manajemen bidang pertanian adalah:

  1. inventaris alat rusak
  2. rencana darurat dalam cuaca buruk atau terdapat masalah dengan peralatan
  3. jadwal waktu untuk kegiatan
  4. lokasi tempat kerja
Perhatikan pernyataan di bawah ini!

a.   Pelatihan pertolongan pertama harus dilakukan minimal satu kali untuk memastikan bahwa keterampilan dan pengetahuan tidak menjadi ketinggalan zaman atau dilupakan.

b.   Identifikasi harus meliputi potensi bahaya dan resiko yang nyata dan berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja, kecelakaan dan situasi keadaan darurat.

Dari pernyataan tersebut, maka:

  1. (1) dan (2) benar
  2. (1) dan (2) salah
  3. (1) benar dan (2) salah
  4. (1) salah dan (2) benar
Perhatikan pernyataan di bawah ini!

a.   Satu operator harus diberitahukan tentang lokasi peralatan PPPK dan prosedur untuk memperoleh persediaan.

b.   Identifikasi hanya meliputi potensi bahaya dan resiko yang nyata menyebabkan kecelakaan kerja, kecelakaan dan situasi keadaan darurat.

Dari pernyataan tersebut, maka:

  1. (1) dan (2) benar
  2. (1) dan (2) salah
  3. (1) benar dan (2) salah
  4. (1) salah dan (2) benar
Hukum atau peraturan nasional hendaknya menyatakan bahwa:

a.   pengusaha harus memberi semua instruksi dan pelatihan yang perlu untuk menjamin bahwa para pekerja berkompeten untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka dengan aman

b.   hanya pemilik perusahaan, dan para manajer yang memastikan bahwa tempat kerja tersebut adalah aman dan tanpa resiko bagi kesehatan

c.   para pekerja disarankan untuk mengambil semua langkah-langkah yang sesuai untuk menjamin keselamatan diri mereka yang mungkin mendapat resiko sebagai akibat dari tindakan atau kelalaian mereka waktu bekerja

d.   para pekerja bekerja untuk memastikan pemenuhan tugas-tugas yang secara hukum dibebankan pada pengusaha

Hukum dan peraturan tentang K3 harus, kecuali:

  1. menyediakan cakupan tentang ganti-rugi pekerja dalam peristiwa kecelakaan dan penyakit akibat kerja, dan ganti-rugi bagi pewaris dalam peristiwa kematian yang berhubungan dengan pekerjaan
  2. menetapkan jenis kecelakaan dan penyakit akibat kerja dalam lingkup ganti-rugi
  3. mengidentifikasi otoritas yang bertanggung jawab untuk mengatur ganti-rugi pekerja
  4. menetapkan hukuman yang sesuai untuk pelanggaran hukum dan peraturan

 

 

 

 

  1. B.   Penilaian Aspek Performansi

 

NO.

KOMPETENSI DASAR

KRITERIA KEBERHASILAN

HASIL

YA

TDK

1.

Menerapkan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja
  1. Tersedianya tata tertib di laboratorium dan lapangan
  2. Pengoperasian alat sesuai petunjuk
   

2.

Membuat prosedur kondisi darurat
  1. Pemahaman penanganan kondisi darurat di lapangan
  2. Pemahaman manajemen resiko
  3. Pemahaman pelaporan, pencatatan, penyelidikan dan pemberitahuan penyakit, dan kecelakaan kerja
   

3.

Melakukan partisipasi pengaturan pemeliharaan keselamatan dan kesehatan kerja
  1. Pemahaman perundang-undangan dan tugas-tugas umum
  2. Pemahaman tugas-tugas, hak, dan kewajiban perusahaan dan tenaga kerja
   

 


  1. C.   Penilaian Aspek Sikap

 

NO.

KOMPETENSI KECAKAPAN HIDUP NON INSTRUKSIONAL

SKOR PEROLEHAN

BELIEVE

(PREFERENSI OLEH PESERTA)

EVALUATION

(OLEH FASILITATOR)

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

1.

Disiplin

2.

Kerjasama

3.

Inisiatif

4.

Tanggung Jawab

5.

Kebersihan

6.

Kejujuran

7.

Ketekunan

 

Catatan :

  1. Penetapan skor dilakukan dengan pendekatan Fish Bean Analysis, dimana : Attitude = ∑ B x E
  2. Penetapan skor berdasarkan preferensi peserta dan fasilitator, dimana:
  • B = Believe, dinilai oleh peserta dan E = Evaluation, dinilai oleh fasilitator, masing-masing dengan kisaran 5 s.d 1
  • Skor 5 merupakan skor tertinggi/terbaik dan 1 merupakan nilai terendah (5 = sangat baik, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = kurang baik, dan 1 = tidak baik)

 

  1. D.   Kunci Jawaban Penilaian Aspek Kognetif

 

  1. a
  2. b
  3. c
  4. d
  5. d
  6. a
  7. a
  8. b
  9. c
10. c 11. a

12. d

13. b

14. a

15. d

 

  1. IV.  PENUTUP

 

Setelah peserta menyelesaikan semua kompetensi dasar dan dinyatakan kompeten oleh fasilitator, peserta dapat mengikuti sertifikasi kompetensi.  Proses sertifikasi  akan dilakukan melalui uji kompetensi yang dilakukan oleh eksternal evaluator dari industri yang relevan, apabila berhasil peserta akan mendapatkan sertifikat oleh industri tersebut sebagai tanda bahwa peserta sudah kompeten sesuai dengan standar dunia industri/ usaha.

 

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPTK) Pertanian Cianjur dapat memfasilitasi dalam menyediakan assessor.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mohamad, Kartono., 1989. Pertolongan Pertama. PT Gramedia, Jakarta.

 

Suma’mur, P.K.,  1991. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. CV Haji Masagung, Jakarta.

 

Anonim, 2005. Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Agronomi (Pembenihan). Departemen Pendidikan Nasional.

 

Werner, David., 1989. Apa yang Anda Kerjakan Bila Tidak Ada Dokter. Yayasan Essentia Medica. Jakarta.

 

Annonim,  1994. Agro Pesticides, Properties and Functions in Integrated Crop Protection. United Nation, Bangkok.

 

ILO, 1998. Safety and Health in Forestry Work. International Labour Organization, Geneva Swiss.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: