PEMANFAATAN AGENSI HAYATI Aspergiluus sp. YANG TERDAPAT PADA LIMBAH DAUN BAMBU MENJADI EFFECTIVE MICROORGANISM BAMBOO (EMB) SEBAGAI DEKOMPOSER PUPUK ORGANIK ALTERNATIF

Published Juli 5, 2012 by nopriastor1111

PEMANFAATAN AGENSI HAYATI Aspergiluus sp. YANG TERDAPAT PADA LIMBAH DAUN BAMBU MENJADI EFFECTIVE MICROORGANISM BAMBOO (EMB) SEBAGAI DEKOMPOSER PUPUK ORGANIK ALTERNATIF

Oleh :
RATRI Y. ANGGRAINI
MISAEL MEMBILONG

PEMERINTAH PROVINSI PAPUA
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLARAGA PAPUA
SMK NEGARI 7 JAYAPURA
2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Siswa untuk memenuhi persyaratan lomba Karya Tulis dan Karya Inovasi Teknologi Pertanian. Kegiatan merupakan percobaan yang sederhana
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga kepada Departemen Pertanian,. Kepada Lembaga Penelitian dan Pengembangan. Bapak kepala Dinas P dan P Kota Jayapura Khususnya Kabid Sekolah Menengah dan Kejuruan.
Tidak lupa penulis menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi pada Bapak kepala Sekolah SMK anegeri 7 Jayapura, Bapak Ketua Jurusan Tanaman, Bapak Pembimbing , Bapak/Ibu Guru yang telah memberi masukan dan dorongan serta teman-teman ku dan semua pihak yang telah membantu penulis baik langsung maupun tidak.
Penulis menyadari bahwa Karya Inovasi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran dari baik dewan juri maupun bapak / ibu guru, serta pembaca demi menyempurkan Karya Ilmiah Siswa tersebut. semoga Karya Ilmiah saya dapat bermanfaat bagi kita.
Jayapura, 01 Juni 2011
Penyusun KIS

Ratri Y. Anggraini Misael Membilong

DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Batasan Masalah 2
1.3 Tujuan 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4
2.1 Pupuk Organik 4
2.2 Pengertian Dekomposer 9
2.3 Hubungaan Antara Dekomposer dengan Mikroorganisme 10
BAB III METODE PERCOBAAN 14
3.1 Waktu dan Tempat 14
3.2 Alat dan Bahan 14
3.3 Prosedur Kerja 15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 17
BAB V PENUTUP 18
5.1 Kesimpulan 18
5.2 Saran 18
DAFTAR PUSTAKA
Lampiran 1. Daftar gambar Proses Pembuatan EMB 21
Lampiran 2. Alat dan Bahan 23

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pupuk sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan produksi pertanian. Tanaman yang tidak dipupuk tidak akan menghasilkan produksi yang tinggi walaupun menggunakan varietas unggul dan mengikuti kaidah-kaidah pertanian yang baik. Secara garis besar pupuk terdiri atas pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik berasal dari bahan tumbuhan yang sengaja dilapukkan baik secara alamiah maupun buatan menggunakan organisme pengurai (dekomposer), sedangkan pupuk anorganik berasal dari bahan kimiawi yang dibuat di pabrik.
Penggunaan pupuk anorganik atau pupuk kimia dalam jangka waktu lama menurut para ahli pertanian menyebabkan tanah menjadi “sakit”, miskin hara dan tidak subur, sehingga penggunaan pupuk tersebut pada masa mendatang akan semakin berkurang, sebaliknya pengunaan pupuk organik semakin digalakan dan ditingkatkan karena telah terbukti bahwa penggunaan pupuk tersebut dapat menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah. Bahkan pabrik pupuk nasional telah memproduksi pupuk organik atau campuran pupuk kimia dan pupuk organik.
Dalam skala kecil pembuatan pupuk organik dapat dilakukan oleh petani karena tersedia bahan-bahan organik yang cukup banyak di Papua termasuk limbah tanaman pangan seperti jerami, jagung, kedelai, atau limbah perkebunan seperti pod kakao (kulit buah), limbah kelapa sawit dan limbah pertanian lainya. Pembuatan pupuk organik membutuhkan waktu yang lama, karena bahan organik tersebut harus mengalami pelapukkan terlebih dahulu secara alamiah. Namun dengan menggunakan dekomposer, bahan-bahan organik tersebut lebih cepat mengalami pelapukan dan hanya beberapa hari saja pupuk organik tersebut sudah dapat digunakan untuk memupuk tanaman.
Dekomposer atau organisme pengurai di alam seperti aspergillus cukup tersedia. Kapang jenis ini memiliki kemampuan yang handal untuk menguraikan bahan-bahan organik seperti limbah pertanian. Aspergillus banyak terdapat di alam terutama di daun bambo. Dengan teknik tertentu kapang ini dapat dikumpulkan dari alam dan dapat dijadikan sebagai dekomposer. Prinsip dalam mengumpulkan aspergillus tersebut sebagai decomposer adalah bagaimana mempertahankan dan meningkatkan kemampuan agar cepat dalam proses penguraian menjadi pupuk organik. Salah satu antara lain makanan yang diperlukan oleh aspergillus tersebut sehingga bisa berkembangbiak.
Aspergillus tersebut dapat dipreservasi menggunakan gula aren (gula merah). Dengan media tersebut aspergillus dapat dipertahakan dan dapat dijadikan dekomposer. Pengumpulan aspergillus di alam dan dipreservasi dengan menggunakan gula aren dapat dibuat effective Microorganisme bamboo (EMB). EMB tersebut kemungkinan dapat digunakan sebagai decomposer sebagai alternative pembuatan pupuk organik terutama pada daerah yang sulit dijangkau untuk memperoleh sumber pupuk buatan. Selain itu bahan baku cukup tersedia di lokasi.

1.2. Batasan Masalah
Dekomposer komersial yang dijual di pasar tergolong cukup mahal sehingga petani tidak mampu untuk membeli produk tersebut. Selain itu, khusus daerah yang terisolir seperti Papua, produk dekomposer tersebut sangat sulit diperoleh. Sedangkan dekomposer alam seperti aspergillus cukup tersedia sehingga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan Effective Microorganism Bamboo (EMB). Oleh karena itu perlu dilakukan percobaan untuk membuat EMB yang meliputi kegiatan proses pengumpulan Aspergillus yang diperoleh dari daun bambu yang kering dan kegiatan selanjutnya adalah pembuatan Effective Microorganism Bamboo (EMB).
1.3. Tujuan
Tujuan dari pecobaan ini adalah untuk mengambil microorganisme dari tumpukan daun bambu yang sudah gugur, dan membuatnya menjadi larutan Effective Microorganisme Bamboo (EMB) yang berfungsi sebagai bahan pembuat pupuk organik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pupuk Organik
Menurut Sutanto Rachman (2002) pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota (sampah) (Suriadikarta dkk, 2006).
a. Jenis Pupuk
a) Pupuk Kandang
Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Hewan yang kotorannya sering digunakan untuk pupuk kandang adalah hewan yang bisa dipelihara oleh masyarakat, seperti kotoran kambing, sapi, domba, dan ayam. Selain berbentuk padat, pupuk kandang juga bisa berupa cair yang berasal dari air kencing (urine) hewan. Pupuk kandang mengandung unsur hara makro dan mikro. Pupuk kandang padat (makro) banyak mengandung unsur fosfor, nitrogen, dan kalium. Unsur hara mikro yang terkandung dalam pupuk kandang di antaranya kalsium, magnesium, belerang, natrium, besi, tembaga, dan molibdenum. Kandungan nitrogen dalam urine hewan ternak tiga kali lebih besar dibandingkan dengan kandungan nitrogen dalam kotoran padat. Pupuk kandang terdiri dari dua bagian, yaitu:
1. Pupuk dingin adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan secara perlahan oleh mikroorganime sehingga tidak menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran sapi, kerbau, dan babi.
2. Pupuk panas adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan mikroorganisme secara cepat sehingga menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran kambing, kuda, dan ayam. Pupuk kandang bermanfaat untuk menyediakan unsur hara makro dan mikro dan mempunyai daya ikat ion yang tinggi sehingga akan mengefektifkan bahan – bahan anorganik di dalam tanah, termasuk pupuk anorganik. Selain itu, pupuk kandang bisa memperbaiki struktur tanah, sehingga pertumbuhan tanaman bia optomal (Parnata, dkk., 2004).
b) Pupuk Hijau
3. Pupuk hijau adalah pupuk organik yang berasal dari tanaman atau berupa sisa panen. Bahan tanaman ini dapat dibenamkan pada waktu masih hijau atau setelah dikomposkan. Sumber pupuk hijau dapat berupa sisa-sisa tanaman (sisa panen) atau tanaman yang ditanam secara khusus sebagai penghasil pupuk hijau, seperti sisa–sisa tanaman, kacang-kacangan, dan tanaman paku air (Azolla). Jenis tanaman yang dijadikan sumber pupuk hijau diutamakan dari jenis legume, karena tanaman ini mengandung hara yang relatif tinggi, terutama nitrogen dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya. Tanaman legume juga relatif mudah terdekomposisi sehingga penyediaan haranya menjadi lebih cepat. Pupuk hijau bermanfaat untuk meningkatkan kandungan bahan organik dan unsur hara di dalam tanah, sehingga terjadi perbaikan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, yang selanjutnya berdampak pada peningkatan produktivitas tanah dan ketahanan tanah terhadap erosi (Parnata, dkk., 2004). Pupuk hijau digunakan dalam:
1. Penggunaan tanaman pagar, yaitu dengan mengembangkan sistem pertanaman lorong, dimana tanaman pupuk hijau ditanam sebagai tanaman pagar berseling dengan tanaman utama.
2. Penggunaan tanaman penutup tanah, yaitu dengan mengembangkan tanaman yang ditanam sendiri, pada saat tanah tidak ditanami tanaman utama atau tanaman yang ditanam bersamaan dengan tanaman pokok bila tanaman pokok berupa tanaman tahunan.
c) Kompos
Menurut Djuarni, dkk., (2006) kompos merupakan sisa bahan organik yang berasal dari tanaman, hewan, dan limbah organik yang telah mengalami proses dekomposisi atau fermentasi. Jenis tanaman yang sering digunakan untuk kompos di antaranya jerami, sekam padi, tanaman pisang, gulma, sayuran yang busuk, sisa tanaman jagung, dan sabut kelapa. Bahan dari ternak yang sering digunakan untuk kompos di antaranya kotoran ternak, urine, pakan ternak yang terbuang, dan cairan biogas. Tanaman air yang sering digunakan untuk kompos di antaranya ganggang biru, gulma air, eceng gondok, dan azola. Beberapa kegunaan kompos adalah:
1. Memperbaiki struktur tanah.
2. Memperkuat daya ikat agregat (zat hara) tanah berpasir.
3. Meningkatkan daya tahan dan daya serap air.
4. Memperbaiki drainase dan pori – pori dalam tanah.
5. Menambah dan mengaktifkan unsur hara.
Kompos digunakan dengan cara menyebarkannya di sekeliling tanaman. Kompos yang layak digunakan adalah yang sudah matang, ditandai dengan menurunnya temperatur kompos (di bawah 400 c) (Djuarni, dkk., 2006).
d) Humus
Humus adalah material organik yang berasal dari degradasi ataupun pelapukan daun-daunan dan ranting-ranting tanaman yang membusuk (mengalami dekomposisi) yang akhirnya mengubah humus menjadi (bunga tanah), dan kemudian menjadi tanah. Bahan baku untuk humus adalah dari daun ataupun ranting pohon yang berjatuhan, limbah pertanian dan peternakan, industri makanan, agro industri, kulit kayu, serbuk gergaji (abu kayu), kepingan kayu, endapan kotoran, sampah rumah tangga, dan limbah-limbah padat perkotaan. Humus merupakan sumber makanan bagi tanaman, serta berperan baik bagi pembentukan dan menjaga struktur tanah. Senyawa humus juga berperan dalam pengikatan bahan kimia toksik dalam tanah dan air. Selain itu, humus dapat meningkatkan kapasitas kandungan air tanah, membantu dalam menahan pupuk anorganik larut-air, mencegah penggerusan tanah, menaikan aerasi tanah, dan juga dapat menaikkan fotokimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik toksik. Kandungan utama dari kompos adalah humus. Humus merupakan penentu akhir dari kualitas kesuburan tanah, jadi penggunaan humus sama halnya dengan penggunaan kompos (FNCA, 2006) .
e) Pupuk Organik Buatan
Menurut Subba Rao (1982) pupuk organik buatan adalah pupuk organik yang diproduksi di pabrik dengan menggunakan peralatan yang modern. Beberapa manfaat pupuk organik buatan, yaitu:
1. Meningkatkan kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
2. Meningkatkan produktivitas tanaman.
3. Merangsang pertumbuhan akar, batang, dan daun.
4. Menggemburkan dan menyuburkan tanah.
Pada umumnya, pupuk organik buatan digunakan dengan cara menyebarkannya di sekeliling tanaman, sehingga terjadi peningkatan kandungan unsur hara secara efektif dan efisien bagi tanaman yang diberi pupuk organik tersebut (Subba Rao, 1982).
b. Manfaat Pupuk Organik
Berbagai hasil penelitian mengindikasikan bahwa sebagian besar lahan pertanian intensif menurun produktivitasnya dan telah mengalami degradasi lahan, terutama terkait dengan sangat rendahnya kandungan karbon organik dalam tanah, yaitu 2%. Padahal untuk memperoleh produktivitas optimal dibutuhkan karbon organik sekitar 2,5%. Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi lahan. Sumber bahan untuk pupuk organik sangat beranekaragam, dengan karakteristik fisik dan kandungan kimia yang sangat beragam sehingga pengaruh dari penggunaan pupuk organik terhadap lahan dan tanaman dapat bervariasi. Selain itu, peranannya cukup besar terhadap perbaikan sifat fisika, kimia biologi tanah serta lingkungan. Pupuk organik yang ditambahkan ke dalam tanah akan mengalami beberapa kali fase perombakan oleh mikroorganisme tanah untuk menjadi humus. Bahan organik juga berperan sebagai sumber energi dan makanan mikroba tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tersebut dalam penyediaan hara tanaman. Penambahan bahan organik di samping sebagai sumber hara bagi tanaman, juga sebagai sumber energi dan hara bagi mikroba. Bahan dasar pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman sedikit mengandung bahan berbahaya. Penggunaan pupuk kandang, limbah industri dan limbah kota sebagai bahan dasar kompos berbahaya karena banyak mengandung logam berat dan asam-asam organik yang dapat mencemari lingkungan. Selama proses pengomposan, beberapa bahan berbahaya ini akan terkonsentrasi dalam produk akhir pupuk. Untuk itu diperlukan seleksi bahan dasar kompos yang mengandung bahan-bahan berbahaya dan beracun (B3). Pupuk organik dapat berperan sebagai pengikat butiran primer menjadi butir sekunder tanah dalam pembentukan pupuk. Keadaan ini memengaruhi penyimpanan, penyediaan air, aerasi tanah, dan suhu tanah. Bahan organik dengan karbon dan nitrogen yang banyak, seperti jerami atau sekam lebih besar pengaruhnya pada perbaikan sifat-sifat fisik tanah dibanding dengan bahan organik yang terdekomposisi seperti kompos (Kloepper, 1993). Pupuk organik memiliki fungsi kimia yang penting seperti:
1. Penyediaan hara makro (nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur) dan mikro seperti zink, tembaga, kobalt, barium, mangan, dan besi, meskipun jumlahnya relatif sedikit.
2. Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah.
3. Membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang meracuni tanaman seperti aluminium, besi, dan mangan.
2.2 Pangertian Dekomposer
Di dalam tanah hidup berbagai jasad renik (mikroorganisme) yang melakukan berbagai kegiatan bagi kehidupan mahkluk hidup lainnya atau dengan perkataan lain menjadikan tanah memungkinkan bagi kelanjutan makhluk –makhluk alami. Hal ini sesuai dengan pernyataan pada id.shvoong.com., (2011) populasi mikrobiologi yang mendiami tanah, bersama dengan berbagai bentuk binatang dan berbagai jenis tanaman tingkat lebih tinggi membentuk suatu system kehidupan yang tidak terpisahkan dari bahan mineral dan sisa –sisa bahan organic yang ada dalam tanah.
Komposisi kuantitatif populasi dalam tanah dan kualitatif alam lingkungannya dapat dikatankan adalah sangat tergantung pada sumber dan kondisi alami dari tanah itu dan komposisi relative dari unsure- unsure organic dan anorganik.
Decomposer adalah makhluk hidup yang berfungsi untuk menguraikan makhluk hidup yang telah mati, sehingga materi yang diuraikan dapat diserap oleh tumbuhan yang hidup disekitar daerah tersebut. Beberapa jenis cacing tanah antara lain: Pheretima, Periony dan Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan. Cacing memiliki banyak kegunaan antara lain: membantu menghancurkan bahan organic yang dapat mempengaruhi kesuburan suatu tanah, Bahan Pakan Ternak, Bahan Baku Obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit, Bahan Baku Kosmetik dan bahan baku makanan untuk beberapa jenis cacing yang dapat dikonsumsi dan bermanfaat bagi manusia.
2.3 Hubungan Antara Dekomposer dengan Mikroorganisme
Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil (biasanya kurang dari 1 mm) sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat bantuan. Mikroorganisme seringkali bersel tunggal (uniselular) meskipun beberapa protista bersel tunggal masih terlihat oleh mata telanjang dan ada beberapa spesies multisel tidak terlihat mata telanjang. Hal ini sesuai dengan pernyataan pada id.shvoong.com., (2011) ilmu yang mempelajari mikroorganisme disebut mikrobiologi. Orang yang bekerja di bidang ini disebut mikrobiologi.
Decomposer adalah makhluk hidup yang berfungsi untuk menguraikan makhluk hidup yang telah mati, sehingga materi yang diuraikan dapat diserap oleh tumbuhan yang hidup disekitar daerah tersebut. Beberapa jenis cacing tanah antara lain: Pheretima, Periony dan Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan. Cacing memiliki banyak kegunaan antara lain: membantu menghancurkan bahan organic yang dapat mempengaruhi kesuburan suatu tanah, Bahan Pakan Ternak, Bahan Baku Obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit, Bahan Baku Kosmetik dan bahan baku makanan untuk beberapa jenis cacing yang dapat dikonsumsi dan bermanfaat bagi manusia.
Beberapa kemajuan telah tercapai oleh para pakar yang mempelajari tentang populasi mikroorganisme didalam tanah, diantara mereka beberapa orang mencurahkan perhatiannya pada komposisi kuantitatif populasi mikroorganisme didalam tanah. Golongan – golongan utama yang menyusun populasi mikrobiologis tanah terdiri dari golongan flora dan fauna, golongan flora meliputi bekteri, aktinomisetes, fungi, dan ganggang, sedangkan golongan fauna meliputi protozoa, binatang yang berderajat agak lebih tinggi, nematoda, dan cacing tanah.
a. Bakteri
Bakteri yang hidup dalam tanah memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, sehubungan dengan kemampuannya dengan me ngikat N2 dari udara dan mengubah amonium menjadi nitrat.
b. Aktinomisetes
Tiga genus dari aktinomisetes yang baik berada dalam tanah, yaitu species nokardia, yang sangat berhubungan dengan bekteri, terutama pada mycobakteria, crynebakteri, specis yang termasuk genus streptomyces dan micromonospora adalah lebih rapat hubungannya pada fungi.

c. Fungi(ganggang)
Termasuk ke dalamnya golongan- golongan besar antara lain golongan fikomisetes, askomisetes, hipomisetes atau cendawan imperfekti dan basidiomisetes.
d. Algae(ganggang)
Algae merupakan tanaman mikroskopis, tanaman tingkat rendah yang mempunyai klorofil dengan jaringan tubuh yang tidak berderferensiasi, tidak membentuk akar, batang dan daun.
e. Protozoa
Protozoa adalah sejenis binatang yang paling rendah derajatnya, uniseluler, dengan ukuran yang beragam 3 sampai 1000 mikron.
f. Cacing tanah
Cacing tanah ( terutama cacing hujan ) dari yang terkecil hingga yang terbesar , yang menghuni tanah tanah perkarangan , sawah tegalan , tanah tanah hutan dan lain lainnya .
Banyak sekali spesiesnya ada yang bermanfaat bagi penyuburan tanah dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Dapat mempercepat pelapukan sisa sisa tanaman.
2. Kotoran cacing dapat meningkatkan kesuburan tanah atau kadar NPK pada tanah yang di huninya
3. Lorong lorong yang dibuatnya dalam tanah ( terutama pada lapisan top soil ) memungkinkan masuknya udara sehat ke dalam tanah dan terdesaknya kelebihan zat CO2 ke luar dalam tanah.

Kesuburan salah satu modal bagi suksesnya pembangunan pertanian yang berkelanjutan di indonesia. Usaha yang dapat di lakukan untuk memperbaiki dan memulikan kesuburan tanah agar tetap terjaga salah satunya adalah menerapkan teknologi yang ramah lingkungan dengan menambah bahan organik melalui pengunaan pupuk organik padat (kompos, bokasi) yang kaya akan bermacam macam microorganisme yang menguntukan bagi tanaman (Anonymous, 2005).
Dari sekian banyak microorganisme, ada lima golongan yang dapat bekerja secara efectife dalam memfermentasikan bahan organik. Microorganisme yang dimaksud adalah : Bacteri fotosintetik, Lactobacillus Sp, Streptomyces Sp, ragi (yeast), dan Actinomycetes (Indriyani, 2003).
Aspergillus Sp dan Bacillus Sp, merupakan salah satu jenis kapang yang memproduksi asam laktat sebagai hasil penguraian gula dan karbohidrat lain yang bekerja sama dengan bakteri fotosintetik dan ragi, asam laktat ini merupakan bahan sterilisasi yang kuat dan dapat menekan microorganisme berbahaya serta dapat menguraikan bahan organik dengan cepat (Indriyani, 2004).
Umumnya kapang tumbuh pada media yang mengandung banyak karbon seperti monosakarida (glukosa), dan polisakarida (amilosa). Aspergillus banyak terdapat pada bahan makanan seperti roti, nasi dan kentang, serta berkembang dengan baik ditanaman. Bahkan aspergillus dapat tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang tidak memiliki sumber nutrisi seperti pada dinding yang lembab dan bahan yang berkulit (Fardiaz, 2003).

BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Waktu dan Tempat
Pelaksanaan percobaan pembuatan larutan Effective Microorganisme Bamboo (EMB) dilakukan selama 7 hari, yang dimulai dari tanggal 19 sampai 25 Februari 2011, sedangkan tempat pelaksanaanya dilakukan di laboratorium hama dan penyakit SMK Negeri 7 Jayapura, pengamatan mikroorganisme dilakukan di laboratorium universitas Cenderawasih Jayapura Papua.
3.2. Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan Effective Microorganisme Bamboo (EMB) ini adalah timbangan analitik, mikroskop. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan Effective Microorganism Bamboo (EMB) ini adalah :
1. Kapang yang terdapat pada tumpukan daun Bamboo yang sudan melapuk.
2. Nasi
3. Gula Merah
4. Air
5. Peti/kotak kayu dengan ukuran 40 cm x 60 cm
6. Botol Kaca
7. Toples
8. Karung
9. Saringan
10. Corong Plastik

3.3. Prosedur Kerja
Pembuatan Effective Microorganism Bamboo (EMB) dilakukan melalui beberapa tahapan, sebagai berikut :
 Mikroorganisme yang diperoleh berasal dari daun bambu. Daun bamboo yang dipilih adalah daun bambu yang mempunyai mikroorganisme yang cukup banyak.
 Daun bambu yang yang mengandung mikroorganisme tersebut dimasukan ke dalam kotak kayu yang berukuran 40 x 60 cm. Daun bambo tersebut diisi sekitar separuh dari volume kotak.
 Nasi hangat dikepak beberapa bulatan dan diletakan pada daun bambu yang berada dalam kotak kayu dengan tujuan agar mikroorganisme yang berada di daun bamboo tersebut dapat pindah ke kepalan nasi tersebut.
 Kepalan nasi berada di dalam kotak tersebut selama 3 hari. Kotak kayu tersebut diletakan pada tempat yang gelap dan selalu ditutup rapat untuk menghindari kontaminasi mikroorganisme dari luar.
 Setelah 3 hari buka kotak yang berisi nasi yang di tutupi daun bambu, kemudian ambil kepalan nasi tersebut dan perhatikan kalau terdapat benang putih menempel pada permukaan nasi, itu adalah kapang, tetapi bila terdapat warna kuning / oranye berati itu adalah bakteri, dan ini harus di buang.
 Letakan nasi yang sudah ditempeli oleh kapang kedalam wadah / toples kaca, tiap toples di isi satu kepalan nasi dan berikan gula merah sebanyak 35 gram tiap toples, kemudian tambahkan air sampai menutupi nasi yang kurang lebih 200 ml / liter air, dan setelah itu tutup yang rapat dan letakan di tempat yang teduh dengan tidak terkena sinar matahari langsung / cahaya, setelah itu disimpan selam 4 hari
 Setelah 4 hari buka penutup wadah / toples secara perlahan kemudian lihat ciri – cirinya adalah terdapat banyak buih – buih atau gelembung – gelembung serta berbau alkhol didalam larutan yang terdapat didalam toples, setelah itu barulah ambil saringan, dan saringlah larutan EMB yang sudah jadi dan masukan kedalam botol dengan mengunakan corong plastik, kemudian simpan di tempat yang teduh dan kering.
 Agar menjaga aspergillus tetap hidup, tambahkan gula merah kedalam larutan secukupnya, ini berfungsi sebagai makanan untuk kapang yang ada dalam botol EMB.
 Untuk mengetahui dan memastikan dalam larutan terdapat aspergillus maka dianalisa di laboratorium Universitas Cenderawasih Jayapura menggunakan media Potato Dekstrose Agar (PDA).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Effective Microorganisme Bamboo (EMB) merupakan larutan yang memiliki kandungan aspergillus sebagai dekomposer untuk pembuatan pupuk organik. Dari hasil pengamatan di laboratorium menunjukkan bahwa aspergillus tersebut (Gambar 1). Gambar bawah merupakan hifa sedangkan gambar atas merupakan miselium atau kumpulan dari hifa.. Dari gambar tersebut menunjukkan bahwa aspergillus berkembang dan berpotensi untuk digunakan sebagai dekomposer untuk pembuatan pupuk organik.

Gambar 1. Foto aspergillus yang terdapat dalam EMB hasil analisis dari laboratirium Biologi (UNIVERSITAS CENDERAWASIH PAPUA).
BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan bahwa kapang aspergillus yang terdapat didaun bambu dapat dikumpulkan dan memilki potensi untuk dimanfaat sebagai Effective Microorganism Bamboo (EMB). Hasil analisa laboratorium menunjukkan bahwa aspergillus berkembang. Disarankan bahwa EMB tersebut dapat diujicoba untuk pembuatan pupuk organik menggunakan bahan organik seperti rumput atau jerami.

5.2 Saran
Penggunaan pupuk organik saja, tidak dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan ketahanan pangan. Oleh karena itu sistem pengelolaan hara terpadu yang memadukan pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik perlu digalakkan. Sistem pertanian yang disebut sebagai LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) menggunakan kombinasi pupuk organik dan anorganik yang berlandaskan konsep good agricultural practices perlu dilakukan agar degredasi lahan dapat dikurangi dalam rangka memelihara kelestarian lingkungan. Pemanfaatan pupuk organik dan pupuk anorganik untuk meningkatkan produktivitas lahan dan produksi pertanian perlu dipromosikan dan digalakkan. Program-program pengembangan pertanian yang mengintegrasikan ternak dan tanaman (crop-livestock) serta penggunaan tanaman legum baik berupa tanaman lorong (alley cropping) maupun tanaman penutup tanah (cover crop) sebagai pupuk hijau maupun kompos perlu diintensifkan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2003. Materi Pembuatan Pupuk Organik. Tim Lembaga Pertanian Sehat.
Djuarni, Nan.Ir, M.Sc., Kristian.,Setiawan,Budi Susilo.(2006). Cara Cepat Membuat Kompos.
Fardiaz S. 2003. Mikrobiologi Pangan Jilid 1.
FNCA Biofertilizer Project Group. 2006. Biofertilizer Manual. Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA). Japan Atomic Industrial Forum, Tokyo.
Indriyani , 2005. Membuat Kompos Secara Kilat. Swadaya. Jakarta.
Parnata, Ayub.S. (2004). Pupuk Organik Cair. Jakarta:PT Agromedia Pustaka.
Subba Rao, N.S. 1982. Biofertilizer in Agriculture. Oxford and IBH Publishing Co., New Delhi.
Suriadikarta, Didi Ardi., Simanungkalit, R.D.M. (2006).Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Jawa Barat:Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
Sutanto, Rachman. (2002). Pertanian organik: Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Jakarta:Kanisius.

LAMPIRAN 1.
DAFTAR GAMBAR
PROSES PEMBUATAN

LAMPIRAN 2.
ALAT
YANG DIGUNAKAN

BAHAN
YANG DIGUNAKAN

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: