laporan prakrin 2013 di departemen bioteknologi

Published September 14, 2013 by nopriastor1111

LEMBAR PENGESAHAN
Judul :
Nama :
NIS :
Jurusan : AGRIBISNIS TANAMAN PANGGAN & HORTIKULTURA
Lokasi : Departemen Agribisnis tanaman dan Kehutanan Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Pertanian
Cianjur, 26 Oktober 2013
Menyetujui dan Mengesahkan,
Kepala Departemen Agroindustri Pembimbing Lapangan

Ir. Atat Budiarta S., MP
19600305 199002 1 001
Krisnadi, SP
19670617 200701 1 001

Mengetahui,
Kepala Bidang Fasilitasi Peningkatan kompetensi

Ir. Caturto Priyo Nugroho, MM
19620422 198803 1 001
KATA PENGANTAR
Dengan rahmat Allah yang maha kuasa, akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan hasil praktek kerja insdurtri (Prakerin) yang dimulai pada tanggal 26 Agustus sampai dengan tanggal 26 Oktober 2013. Laporan ini memuat tentang kegiatan yang penulis lakukan selama prakerin di PPPPTK. Kegiatan prakerin ini merupakan suatu program sekolah dalam perluasan dan pengembangan kompetensi siswa, terutama kompetensi di bidang Departeman Agribisnis Tanaman. Selain itu juga menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal dunia usaha dan juga menambah wawasan serta pengetahuan.
Dalam penulisan laporan ini melibatkan banyak pihak, sehingga penulis dalam hal ini mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan dan dorongan kepada :
1. Ir. Siswoyo, M.Si selaku Kelapa PPPPTK Pertanian Cianjur.
2. Ir. Catur Priyo Nugroho, MM selaku Kepala Bidang Fasilitas Peningkatan Kompetensi PPPPTK Pertanian Cianjur
3. Ir. Graito, MT, Selaku Kepala Departeman Agribisnis Tanaman PPPPTK Pertanian Cianjur
4. Karyanto, SP selaku Pembimbing Lapangan di Unit Produksi Roti Departemen Agroindustri di PPPPTK Pertanian Cianjur.
5. Ricky Nelson Affar, ST selaku Kepala Sekolah SMK Negeri 7 Jayapura
6. Ir. Lily Mariana Salman, M.Si selaku Koordiantor Prakerin Departemen Agroindustri di PPPPTK Pertanian Cianjur.
7. Nopri Astor Bunga, SP, Selaku Pembimbing Sekolah SMK Negeri 7 Jayapura
8. Kedua orang tua penulis yang selalu memberikan dukungan moril dam materiil serta doa.
9. Teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan semangat dan keluarga besar PPPPTK Pertanian Cainjur.

Dalam penulisan laporan ini diharapkan bermanfaat bagi penulis dan para pembaca.
Cianjur, 26 Oktober 2013
Penulis

DAFTAR ISI
Hlm
LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………………………… i
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….. ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………….. iv

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………….
1.2 Tujuan……………………………………………………………………………………..
1.3 Manfaat……………………………………………………………………………………

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jenis-jenis tanaman herbal…………………………………………………………………..
2.2 Pemeliharaan……………………………………………………………………………………
2.2.1 Pengairan…………………………………………………………………………………
2.2.2 Pemupukan………………………………………………………………………………
2.2.3 Penyiangan……………………………………………………………………………….

BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN
3.1 Waktu dan tempat…………………………………………………………………….
3.2 Persiapan…………………………………………………………………………………
3.2.1 Nama Alat……………………………………………………………………….
3.2.2 Nama Bahan…………………………………………………………………….
3.2.3 Metode Kerja……………………………………………………………………

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil………………………………………………………………………………………
4.2 Pembahasan…………………………………………………………………………….
4.2.1 Jenis-jenis tanamah herbal…………………………………………………
4.2.2 Persiapan Lahan……………………………………………………………….
4.2.3 Penanaman……………………………………………………………………….
4.2.4 Pemeliharaan…………………………………………………………………….

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan………………………………………………………………………………
5.2 Saran……………………………………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Dalam mengahadipi abad 21 yang ditandai oleh liberalisasi perdagangan diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang benar-benar siap dalam menghadapi persaingan global yang makin terbuka.
Selaras dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasioal tentang relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan maka proses pendidikan di sekolah menengah kejuruan (SMK) harus memperhatikan lingkungan dan kebutuhan dunia kerja khususnya dunia usaha atau dunia industri.
Dunia kerja pada masa mendatang secara selektif akan menyaring calon tenaga kerja yang benar-benar profesional dan ahli pada bidangnya karena dengan persaingan global akan makin terbuka lebar kesempatan bagi tenaga kerja asing untuk memasuki dan menguasahi dunia kerja di Indonesia. Oleh karena itu salah satu tatantangan bagi para lulusan SMK adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum memasuki dunia kerja mauapun dunia industri.
Kegiatan praktek kerja industri (Prakerin) merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh siswa program keahlian teknologi hasil pertanian di SMK Negeri 7 Jayapura sebagai salah satu syarat menyelesaikan program praktek kerja industri. Kegiatan prakerin yang dilaksankan ini meningkatkan kemampuan diri untuk berwirausaha serta memliki sifat kemandirian bagi lulusannya.

1.2 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktek Kerja Industri (Prakerin) dilaksanakan mulai dari tanggal 26 Agustus 2013 sampai dengan tanggal 26 Oktober 2013. Kegiatan Prakerin dilaksanakan di PPPPTK Pertanian Cianjur pada Departemen Agroindustri yang beralamat di Jl. Jangari Km. 14 PO BOX 138 Cianjur, Jawa Barat 43202.
1.3 Maksud dan Tujuan
1.3.1 Maksud
a. Siswa dapat membandingkan teori yang diperoleh di sekolah dengan yang ada di lapangan
b. Siswa lebih berpengalaman di dunai industri
c. Siswa menjadi lebih displin dan bertanggung jawab dalam melaksankan tugas

1.3.2 Tujuan
a. Memperoleh pengalaman yang riil di industri yang relevan.
b. Mempercepat waktu penyesuaian bagi lulusan SMK dalam memasuki dunia indstri atau dunai kerja
c. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

1.4 Metode Pakarein
a. Observasi, melakukan pengamatan secara intensif pada kegiatan produksi yang dialami.
b. Wawancara, dengan menanykan secara langsung kepada instruktur dan teknisi lapangan tentang produksi di PPPPTK Pertanian Cianjur.
c. Diskusi, melakukan diskusi bersama pembimbing guna menambah keterangan dan informasi tentang tekik produksi.

1.5 Hasil Dan Manfaat Yang Diharapkan
1.5.1 Hasil
Hasil yang diharapkan dalam mengikuti magang ini adalah agar siswa menjadi terampil dan profesional dalam bidang teknologi hasil pertanian baik dari segi manajemennya maupun dari segi teknologinya serta diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan mengelola keahlian yang didapatnya.

1.5.2 Manfaat
Manfaat yang diharapkan :
a. Semoga siswa dapat mengembangkan dan menetapkan segala sesuatu yang diperoleh dalam mengikuti magang ini.
b. Untuk mengembangkan keterampilan di sekolah masing – masing khususnua di SMK Negeri 7 Jayapura
c. Untuk meningkatkan kompetnsi dan menularkan pada siswa – siswa yang lain pada jurusan teknologi hasil pertanian SMK Negeri 7 Jayapura
d. Untuk mengelola dan mengolah potensi sumber daya alam (SDA) yang ada di daerah masing-masing.

BAB II
KEADAAN UMUM PPPPTK PERTANIAN CIANJUR

2.1 Sejarah Singkat
Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Pertanian Cianjur atau VEDCA (Vocational Education Develoment Center For Agriculture) dulu merupakan unit pelaksanaan teknis (UPT) di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional yang pendirinya mengacu kepada Keputusan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 0529/0/1990, tentang organisasi dan tata kerja Pusat Pengembangan Penataran Guru yang secara resmi mulai beroperasi pada tanggal 09 maret 1991.
VEDCA merupakan suatu lembaga sebagai Pusat Pelatihan Guru Pertanian seluruh Indonesia yang secara umum memiliki peran fungsi dan tugas pokok sbb:
1) Menjadi lembaga pemikir (Think Thank) bagi Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, dalam pengembangan pendidikan menengah kejuruan pertanian.
2) Menjadi lembaga pelayan, Pembina dan pembimbing dalam peningkatan mutu lembaga pelaksanaan pendidikan.
3) Sebagai pelaksana dan pengembang program pendidikan dan latihan dalam bidang kejuruan pertanian.
4) Mengembangkan lembaga VEDCA agar mampu melaksanakan peran, fungsi dan tugas di atas sesuai atau relevan dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta tuntutan masyarakat.
5) Mengembangkan pendidikan Diploma III (DIII) berdasarkan naskah kerjasama Universitas Jenderal Soedirman Nomor: 540/J 23/KS/2002 dan Nomor: 1697a/C5/PP/2002, tanggal 27 Agustus 2002. Vedca dengan Universitas jenderal soedirman Nomor: 1955/C.17/MN/2002 dan Nomor: 5409/J 23/KS/2002, tanggal 20 Agustus 2002.

Pada tanggal 13 Februari 2007, PPPG Pertanian di refungsionalisasi dan berubah namanya menjadi Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan atau PPPPTK Pertanian sesuai dengan pertauran Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 8 tahun 2002. Kedudukan PPPPTK Pertanian atau Vedca kini menjadi unit pelaksana teknis di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional bidang pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan, yang bertanggung jwab penuh kepada Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Tugas PPPPTK Pertanian melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan di bidang pertanian dan menyelenggraka fungsi penyusunan program pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan, mengelola data dan informasi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, memfasilitasi dan melaksanakan peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dan melaksanakan unsur administrasi PPPPTK. Sebagai sub sistem Dirjen PMPTK/Depdiknas, maka PPPPTK Pertanian harus memiliki Visi yang mendukung ketercapaian dari Visi Dirjen PMPTK “Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang profesional dan bermartabat” dan Visi Depdiknas “Terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional untuk membentuk insan Indonesia cerdas komprehensif.”
Visi Tahun 2025 : “Meraih kualitas hidup yang lebih baik melalui pembentukan insan profesional” Makna dari pernyataan tersebut adalah “insan yang memiliki pengetahuan, keterampilan yang didukung oleh sifat dan kepribadian yang menggandrungi keunggulan, bersemangat juang tinggi, mandiri, pantang menyerah, selalu ingin berubah menjadi lebih baik, berwawasan global, inovatif, kreatif, dan produktif untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik.” Pencapaian Visi tahun 2025 dilakukan melalui lima (5) tahap. Pada periode tahun 2010 – 2014 merupakan tahap ke dua (2). Visi Tahun 2014 : “Terselenggaranya layanan prima pendidikan dan pelatihan dalam membentuk insan profesional”
Makna dari pernyataan tersebut adalah “insan yang memiliki pengetahuan, keterampilan yang didukung oleh sifat dan kepribadian yang menggandrungi keunggulan, bersemangat juang tinggi, mandiri, pantang menyerah, selalu ingin berubah menjadi lebih baik, berwawasan global, inovatif, kreatif, dan produktif untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik.” Pencapaian Visi tahun 2025 dilakukan melalui lima (5) tahap. Pada periode tahun 2010 – 2014 merupakan tahap ke dua (2). Visi Tahun 2014 : “Terselenggaranya layanan prima pendidikan dan pelatihan dalam membentuk insan profesional”
Yang dimaksud dengan layanan diklat yang prima adalah :
• Mutu pengelolaan, berstandar internasional dengan menggunakan standar manajemen ISO yang selalu ditingkatkan secara terus menerus (Continous improvment)
• Materi diklat Relevan dengan kebutuhan peningkatan kompetensi PTK dan relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah, serta mengandung muatan yang berkaitan dengan kesepakatan global
• Akses layanan merata untuk seluruh wilayah/daerah di Indonesia
• Tersedia bagi seluruh unsur pendidikan (PTK dan asosiasi profesi)
• Layanan dalam proses diklat dilakukan secara cepat, tepat, dan memuaskan pelanggan
Misi tahun 2014 :
1. Meningkatkan mutu dan relevansi layanan diklat.
2. Meningkatkan pemerataan dan perluasan akses layanan diklat
3. Meningkatkan sistem pengelolaan lembaga yang menjamin
Tata nilai
Aspek manusia merupakan tata nilai yang dianut dan disepakati oleh seluruh anggota organisasi, yang harus dijadikan motto bagi seluruh anggota organisasi dalam bekerja dan berhubungan satu sama lainnya. Tata nilai yang telah dianut dan akan terus dipertahankan adalah “Versatile, dedicate, and care”. Tata nilai ini memiliki nilai-nilai yang luhur, namun didalam implementasinya masih banyak yang belum sesuai dengan makna dari nilai-nilai tersebut. Oleh karena itu mulai tahun 2010 ini nilai-nilai tersebut harus menjadi fokus perhatian yang harus dikembangkan dalam bentuk program dan kegiatan yang realistis dan terukur.

PPPPTK Pertanian telah sepakat menggunakan nilai-nilai lembaga sebagai berikut berikut :
“Versatile-Dedicate-Care” atau disingkat “VEDCA”
Makna yang terkandung pada nilai-nilai tersebut adalah :
Versatile :
• Cakap : Bekerja iklas, cerdas, berhasil dan tuntas
• Profesional : Kompeten, jujur, menggandrungi keunggulan
Dedicate :
• Loyal : Konsisten terhadap pekerjaan
• Disiplin : Tepat waktu dan taat peraturan
• Tanggung jawab : Memiliki komitmen terhadap pekerjaan
Care :
Peduli : Tanggap terhadap kondisi, kebutuhan dan kepentingan lembaga dan masyarakat

2.2 Prestasi Penting yang pernah Diraih
Potensi sumber daya yang ada saat ini menghasilkan berbagai prestasi penting bagi PPPPTK Pertanian atau Vedca, diantaranya Sertifikat ISO 9001 Versi 2000, tentang Manajemen Mutu, kemudian pada tanggal 20 Agustus 2004, diperoleh juga ISO 17025 tentang Manajemen Mutu Laboratorium Pengujian, kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 210/KE/P/M.PAN/12/2006 tanggal 14 Desember 2006, PPPPTK Pertanian atau Vedca dianugerahi Piala Citra dari Presiden Republik Indonesia atas prestasi tinggi sebagai lembaga pelayanan publik.

2.3 Sumber Daya Manusia
Saat ini, lembaga ini didukung oleh sumber daya manuisai yang secara kuantitas maupun kualitas sangat mendukung pengembangan program PPPPTK Pertanian atau Vedca. Untuk dapat menjalankan tugasnya PPPPTK Pertanian dilengkapi fasilitas sumber daya manusia yang terdiri dari sekitar 100 widyaiswara dan instruktur, 80 teknisi dan 90 tanaga pendukung.

2.4 Fasilitas Pendukung
Fasilitas pendukung yang dimiliki anatar laian penginapan berkapasitas 250 orang, sedangkan areal lahan terdiri dari 50 ha tanah darat dan 5 ha tanah sawah. Disamping itu terdapat juga fasilitas sarana ibadah, tempat dan peralatan praktek, lahan uji coba, kandang, kolam, bengkel, sarana olah raga, ruang baljar, laboratorium, ruang pertemuan, ruang makan, transportasi, hiburan/pemancingan, green house, perpustakaan, teleconference point/internet.
Saat ini, Vedca merupakan lembaga di lingkunan departemen pendidikan nasional yang bertanggung jwab secara teknis dalam pengembangan/peningkatan mutu pendidikan menengah kejuruan pertanian, terutama meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan pelatihan kejuruan, layanan jasa konsultan serat produk-produk yang berhubungan dengan aspek teknis pada sub sektor pertanian tanaman hortikultura, sub sektor perikanan dan kelautan, sub sektor pengolahan hasil pertanian, alat mesin pertanian dan aspek-aspek ekonomi dalam agribisnis.

2.5 Aktifitas Yang Telah Dilaksankan
1. pengembangan kurikulum sekolah menengah kejuruan pertanian.
2. pengembangan bahan ajar/bahan latihan yang diperlukan dalam pendidikan dan latihan kejuruan pertanian.
3. pengembangan program dan asistensi peninkatan mutu sekolah kejuruan pertanian.
4. pelatihan manajrial bagi para pengelola sekolah menengah kejuruan.
5. pelatihan kependidikan dan kejuruan bagi para pengelola dan pelaksana sekolah menengah kejuruan pertanian.
6. pendidikan dan pelatihan agribisnis bagi masyarakat umum dan deprtemen lainnya diluar departemen pendidikan nasional.
7. produksi berbagai hasil pertanian (tanaman, ternak, ikan) dan hasil olahannya.
8. pengembangan/inovasi teknologi kependidikan dan latihan serta hal-hal yang berkaitan dengan sektor pertanian dan
9. pelaksanaan pendidikan diploma bidang Akuakultur/budidaya perairan, nautika perikanan laut, kultur jaringa, dan teknologi benih/penangkaran benih, agribisnis ruminasia, pengendalian mutu agroindustri dan rancang bangun peralatan pertanian, teknologi herbal, agrbisnis sutera alam dan teknik komputer jaringan.

2.6 Unit Kerja PPPPTK Pertanian
1. Departemen Agribisnis tanaman dan kehutanan
2. Departemen Agribisnis Peternakan
3. Departemen Agribisnis Perikanan Budidaya
4. Departemen Agroindustri dan Teknik Kimia
5. Departemen Alat Mesin Pertanian Departemen Perikanan Tangkap
6. Departemen Manajemen dan teknologi Pendidikan
7. Laboratorium Pengujian Mutu Agroindustri
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pupuk Kasting
Pupuk organik dihasilkan dari proses pengomposan atau perombakan bahan organik pada kondisi lingkungan yang lembab oleh sejumlah mikroba atau organisme pengurai. Salah satu pengurai adalah cacing tanah. Penguraian oleh cacing tanah lebih cepat dibanding mikroba. Kemampuan cacing tanah mengurai bahan organisnik 3-5 kali lebihncepat. Itulah sebabnya cacing tanah sangat potensisial sebagai penghasil pupuk organik. Bahkan mutu pupuk organiknya lebih baik. Cacing yang digunakan untuk pengkomposan adalah Lumbricus rubellus.
Bahan organik merupakan sumber makanan utama bagi cacing tanah. Setelah bahan orgasnik dimakan maka dihasilkan pupuk organik. Pupuk organik tersebut lebih dikenal sebagai kasting (bekas cacing). Kasting merupakan partikel-partikel tanah berwarna kehitaman yang ukurannya lebih kecil dari partikel tanah biasa sehingga lebih cocok untuk pertumbuhan tanaman (Palungkun, 1999).
Kasting mengandung berbagai bahan atau komponen yang bersifat biologis maupun kimiawi yang sanagt berguna untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Komponen biologis yang terkadung dalam kasting diantaranya hormon pengatur. tumbuh seperti gibrelin, sitokinin dan auksin. Kasting bersifat netral dengan ph 6,5-7,4 dan rata-ratanya adalah 6,8.

Tabel 1. Komposisi komponen kimiawi pada kasting
Komponen Kimiawi Komposisi (%)
Nitrogen (N) 1,1 – 4,0
Fosfor (P) 0,3 – 3,5
Kalium (K) 0,2 – 2,1
Belerang (K) 0,24 – 0,63
Magnesium (M) 0,3 0,6
Besi (Fe) 0,4 – 1,6
Sumber : Palungkun, 1999

Dilihat dari kadungan unsurnya, kasting jauh lebih baik dari pada pupuk organik karena hampir seluruh unsur hara yang dibutuhkan tanaman tersedia di dalamnya. Kasting mampu meningkatkan dan memperbaiki kualitas produksi tanaman.
Cacing tanah yang digunakan untuk pembuatan pupuk kasting bermacan-macam, tergantung keadaan lokasi dan tujuan yang ingin dicapai. Hartenstein dan Bisesi (1989) dalam Yulipriyanto, H. (1993) menyatakan bahwa sebagian besar cacing tanah “vermicomposting” terdapat di daenah beriklim sedang. Bebenapa cacing tanah yang sudah dikenal sebagai penghasil pupuk kasting antana lain: Lumbicus rubellus, Eisenia foetida dan Periong excavafus. Minnich (1977) dalam Yulipriyanto, H. (1993), memberikan beberapa contoh cacing tanah yang digunakan untuk pengomposan sebagai berikut:
• Cacing tanah menah atau “red worm”, terdiri dari spesies Lumbricus rubellus dan Eisenia foetida atau “brandling worm”. Cacing tanah ini rnsnpunyai ciri-ciri tidak tahan hidup di kebuh dan daerah pertanian dalam jangka waktu lama, cepat berkembang biak baik pada tumpukan bahan kompos maupun pada limbah kandang, tetapi beberapa diantaranya ada yang mati apabila bahan organik mulai panas karena aktivitas mokroorganisme yang meningkat.
• Cacing tanah Allolobophora caliginosa dan Lumbricus terrestis atau ‘night clawer. Cacing tanah ini akan menyerang tumpukan bahan kompos dan limbah kandang dari bawah. Cacing tanah ini tidak dapat berkembang dengan cepat pada tumpukan bahan kompos yang temperatumya tinggi, karena akan mudah terbunuh pada proses pemanasan. Cacing tanah lainnya masih banyak yang belum diidentifikasi, antara lain dari genus Pheretima.

Menurut Gaur (1982) dalam Yulipriyanto, H. (1993), untuk memperoleh cacing tanah yang akan dipakai dalam pengomposan, dilakukan perbanyakan terlebih dahulu. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perbanyakan cacing tanah antara lain lokasi dan cara-cara penanganan delama berlangsungnya kegiatan perbanyakan cacing tanah. Lokasi perbanyakan cacing tanah dapat dipilih pada tanah kebun agar mudah beradaptasi. Lingkungan tempat perkernbangbiakan harus sesuai dengan persyaratan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidupnya, baik faktor fisik, kimia maupun biologinya. Komponen penyusun media tumbuh untrk perkembangbiakan dapat menggunakan berbagai jenis bahan organik. Bahan penyusun tersebut harus memenuhi peresyaratan antana lain mengandung berbagai vitamin, mineral, protein dan karlcohidrat yang cukup. Dengan demikian bahan-bahan organik seperti kotoran sapi, kuda atau kambing dapat digunakan sebagai media tumbuh. Dapat pula diberi tambahan bahan lain seperti serbuk gergaji, jenami atau karton. Bahan-bahan media tumbuh harus porous, agar oksigen dapat bebas masuk dan gas-gas yang berbahaya mudah keluar (Gaur, 1982 dalam Yulipriyanto, H. 1993). Dinyatakan pula bahwa komposisi media tumbuh dapat terdiri dari 55% serbuk gergaji, 35o/o sekam padi dan 10% dedak. Ketebalan media tumbuh untuk pemeliharaan cacing tanah dapat dipilih dari 5-10 cm. Perbandingan antara jumlah cacing tanah dengan jumlah bahan-bahan media bermacan-macam, diantananya ada yang menggunakan 50 individu cacing tanah untuk setiap liter media, 2000 individu cacing tanah untuk setia satu neter persegi luas beclengan dengan ketebalan 5-10 cm. Disamping itu ada pula yang menggunakan bectengan dari kayu berukuran panjang, lebar dan tinggi 60 x 45 x20 cm, yang berisi 20 liter media dengan diberi 1 kg cacing tanah.
Selama penguraian bahan organik oleh cacing tanah, dilakukan pemberian makanan tambahan yang disebut sebagai pakan, berupa bahan-bahan organik yang mengandung karbohidrat, protein, mineral dan vitamin (Anonim, 1982). Dinyatakan pula bahwa pemberian pakan bahan organik yang mengandung 1% nitrogen dan selulosa.
menurutGaur (1982), memberikan pakan berupa kotoran ayam selama perbanyakan cacing tianah yang besarnya sama dengan bobot cacing tanah yang ada dalam media. Pengendalian temperatur dan pH selama berlangsungnya penguraian bahan organik (media tumbuh) adalah penting, agar cacing tanah tidak keluar dari wadah media. Dengan demikian cacing tanah tersebut dapat menguraikan media secara optimal. Cacing tanah dapat dipanen atau dipisahkan dari media untuk keperluan pengomposan setelah penguraian 1-2 bulan (Yulipriyanto. H, 1993)

Karakteristik Gacing Tanah tergolong dalam kelompok binatang avertebrata (tidak bertutang belakang), sehingga sering disebut binatang lunak. Binatang ini sering dijumpai di tempat-tempat lembab. Seluruh tubuhnya tersusun atas segmen-segmen yang berbentuk cincin, sehingga digolongkan dalam .Phylum Annelida’ (Rony Palungkun, 1999). Ciri-ciri Phylum Annelida adalah sebagai berikut:
1) Tubuhrrya simetris bilateral, sitindris dan bersegmen-segmen serta pada permukaan tubuh terdapat sederetan dinding tipis atau sekat-ekat.
2) Saluran pencemaan makanan dan mulut terletak pada bagian depan (muka), sedangkan anus di bagian belakang
3) Mempunyai rongga tubuh (coelom) yang berkembang dengan baik
4) Bernapas dengan kulit dan insang
5) Mempunyai peredaran darah tertutup dan darahnya mengandung haemoglobin.

Karakteristik fisik yang dimiliki oleh cacing tanah (Lumbicus rubellus) adalah:
1) Panjang tubuh antara 8-4 cm dan jumlah segmen 95-100 segmen
2) Wama tubuh bagian punggung (dorsal) coklat menah sampai ungu kemerah-merahan, wama tubuh bagian ventral krem dan bagian ekor kekuning-kuningan, bentuk tubuh dorsal membulat dan vertikal pipih.
3) Klitelum terfetak pada segmen ke-27-32, Jumlah segmen pada klitelum antara 6-7 segmen.
4) kelamin jantan terletak pada segmen ke-14 dan lubang kelamin betina pada segmen ke-13.
5) Gerakannya lamban dan kadar air tubuh berkisar 70-78%.
Cacing tanah bersifat hermaphrodite, artinya pada setiap ekor cacing tanah terdapat alat kelamin jantan dan betina. Meskipun bersifat demikian, untuk menghasilkan kokon yang berisi telur-telur anak-anak cacing tanah, selalu diperlukan dua ekor cacing tanah untuk berkopulasi, saling menukar sperma, masing-masing akan memproduksi telur dan
akan menetas satu atau lebih cacing tanah. Perkawinan dapat dilakukan satiap waktu, bila kondisinya mendukung (Edwards dan Lofly, 1977 dalam Yulipriynto, H. 1993). Pada waktu mengadakan kopulasi, tubuh cacing tanah saling melekatkan diri melalui bagian permukaan venbal dengan arah yang saling berhwanan. Pada waktu kopulasi, lendir disekresikan sedemikian rupa sehingga tubuh cacing tanah menjadi tertutup oleh lendir dari segmen ke-9 sampai ujung posterior dari klitelum. Proses pembuahan telur berlangsung dalam cincin lendir, pada akhirnya cincin tersebut akan meluncur ke depan pitu ke bagian ujung anterior cacing tanah. Ketika lepas ujung cincin lendir tersebut, akan menutup dan membentuk kapsul yang dinamakan kokon (Yulipriyanto, H. 1993).

2.2 Pengaruh Bahan Organik Terhadap Sifat Fisik Tanah
Menurut larson dan clapp dalam Diana Mustafa (1996), bahwa bahan organik mempengaruhi isi tanah melalui kegiatannya menurunkan densitas agregat tanah dan meningkatakjanb ukuran agregat. Slama prose oksidasi bahan organik ini, unsur-unsur seperti N,P, S dan sejumlah unsur-unsur lainnya dilepaskan dan menempati bagian di dalam profil tanah. Kondisi ini sulit dipenihu dengan pengguanaan pupuk anorganik (Diana, 1996). Sisa bahan organik yang terdekompsisi dapat mncegah partikel tanah dari proses pengumpalan, sehingga dapat memelihra \strukutr tanah yang terbuka atau remah (Johnston, 1991).
Pengaurh bahan organik sangat penting terhadap agregat menjadi penting, katrena ukuran, pengaturan dan stabilitas agregat tanah memiliki pengaruh yang luas dalam sifat fisik tanah dan peertumbuhan tanaman. Pengaruh bahan organik terhadap agregat menjadi penting, karean ukuran, pengaturan dan stabiltitas “agregat” tanah memlilki pengaruh yang luas dalam sifat fisik tanah dan pertumbuhan tanaman.
Mikrooraginsme tanah memegang perannan pemnting dalam pembenrtukan dan stabilitas agrgat, sehingga memberikan pengaruh yang baik pada produksi tanaman. Ukuran, bentuk dan stabilitas agregat tanah telah mengontrol distribusi ukuran pori (Lynch dan Bragg, 1985).

2.3 Pengaruh Bahan Organik Terhadap Fisiologi Tumbuhan
Menurut Sudarkoco (1992), bahwa bahan organik memberi pangaruh langsung atau tidak langsung terhadap pertumbuhan tanaman. Hadirnya bahan organik berpengaruh langsung terhadap fisiologi tumbuhan antara lain :
1) Senyawa humus dapat berperan sebagai zat tumbuh sepeeti auksin sehingga meningkatkan kapasitas perkecambahan (Kononovora, 1966 dalam Louisiana Susan, 1995).
2) Meningkatkan permeabfilitas membmn tanaman sehingga meningkatkan pengambilan hara (Lieke, 1935 dalam Sudarkoco, 1992:29′).
3) Konsentrasi yang rendah dari asam humik dapat mengubah metabolisme karbohidrat dari tanaman dan pada saat yang sama mendorong akumulasi gula terlarut, sehingga meningkatkan tekanan osmotik tanaman. Dalam kondisi kelembaban yang rendah, hal tersebut akan mendorong resistensi yang besar terhadap kelayua (Flaig, 1960 dalam Louisiana Susan, 1995).
4) Kombinasi senyawa-senyawa organik seperti asam asetat, propionat, butirat dan valenat telah terbukti meningkatkan pertumbuhan akar, namun jika berdiri sendiri tidak ada pengaruhnya (Wallace dan Mritehand, 1980 dalam Tan, 1991).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pupuk Organik Kasting
Pupuk organik kasting atau sering disebut dengan istilah kasting merupakan pupuk organik hasil eksresi cacing tanah. Pada dasamya proses pembuatan kasting tedadi dalam tubuh cacing tanah dan setelah keluar dari tubuhnya merupakan proses fermentasi. Didalam tubuh cacing tanah terdapat bakteri-bakteri yang membantu dekomposisi bahan organik menjadi senyawa yang lebih sederhana dan siap diserap oleh tanaman (Rao, 1982 dalam Diana Mustafa, 1996).
Menurut Gaur (1982), proses penguraian sisa-sisa bahan organik oleh cacing tanah untuk menghasilkan kompos disebut dengan istilah “vermicomposting”. Pendapat tersebut menggambarkan bahwa peranan cacing tanah adalah sangat penting dalam membantu mempercepat perombakan bahan organik. Cacing tanah dapat merombak bahan organik karena cacing tanah menggunakan bahan organik sebagai makanannya. Dengan demikian tidak menutup kemungkinan bahwa dimasa mendatang, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai pengolah limbah dalam skala besar.
Para ahli lain yang menggunakan istilah ‘vermicomposting” antara lain Minnich (1977) dalam Yulipriyanto, H. (1993) dan Albanell et al. (1988), sedangkan Edwards et al. (1985) dalam Yutipriyanto, H. (1993) memberi istilah Vermicultur untuk cacing tanah yang berperan sebagai pengurai bahan organik disebut waste decomposef (Lee, K.E. 1985). Dalam “vermikomposting’, yang melakukan penguraian bahan organik sebenamya bukan hanya cacing tanah, melainkan juga mikroorganisme, baik bakteri, fungi maupun aktinomisetes (Gaur, 1980). Cacing tanah dalam menguraikan bahan organik, dilakukan dengan cana mengaduk dan memakan bahan organik serta rnembuat liang-liang dalam masa bahan organik (Galli et al., 1983).
Hasil biodegradasi bahan organik merupakan suatu bahan yang mempunyai nilai pupuk tinggi, dinamakan vermicompos atiau kasting (Lee, K.E. 1983). Disamping itu beliau juga menyatrakan bahwa di dalam kasting mengandung substansi semacam hormon, humus dan sejumlah mikroorganisme yang meng untungkan bagi pertumbuhan tanaman. Peran kasting dalam meningkatkan kesuburan tianaman yaitu memperbaiki kemampuan menahan air, membantu menyediakan nutrisi untuk tanaman, memperbaiki struktur tanah dan menetralkan pH tanah (Minnich, 1977 dalam Yenny Andayani, 1993).
Menurut Schreir dan Timmenga (1986), bahwa kasting yang mempunyai struktur remah dapat mempertiahankan kestabilan dan aerasi tanah. Dengan demikian bakteri ”aerob” dapat tumbuh dengan baik dan sangat berperan untuk kesuburan tanah. Kasting maupun kompos mengandung unsur-unsur hara utama seperti Nitrogen, Fosphor dan Kalium (Mackay,A.A., J.K. Syers, J.A., Springett and P.E.H. Gregg, 1982). Perbedaan sifat kimia dan kandungan unsur hara diantara kedua pupuk organik tersebut dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini.

Tabel 1. Perbedaan sifat kimia dan kandungan unsur hara kasting dan kompos
NO PARAMETER KASTING KOMPOS
1 Ph 6,8 6
2 C-Oraganik 20,68% 25,04%
3 N-organik 1,90% 1,19%
4 P tersedia 33,54 ppm –
5 P total 61,42 ppm –
6 Ca 30,00 me/100g 10,75 me/100g
7 Mg 15,23 me/100g 3,13 me/100g
8 K 10,31 me/100g 7,26 me/100g
9 Na 2,42 me/100g 5,30 me/100g
10 Kapasitas Tukar Kation (KTK) 68,95 me/100g 35,50 me/100g
11 Kejenuhan Basa (KB) 84,00% 74,48%
Sumber : Dinas kebersihan kota dalam rukmana (1999)

Didalam kasting dan kompos mengandung zat perangsang tumbuh yang sangat dibutuhkan oleh tanaman serta enzim-enzim seperti protease, amilase, lipase, dan selulase yang berfungsi dalam perombakan bahan organik (Ross dan caims, 1982 dalam Diana Mustafa, 1996). Proses pembuatan kasting pada prinsipnya meliputi tiga komponen utama yaitu penentuan jenis cacing tianah, tahap perbanyakan dan pengomposan. Edwardsetal (1985) dalam Yulipriyanto. H (1993), membagi tahap-tahap pengomposan limbah/bahan organik oleh cacing tanah menjadi lima bagian yaitu: studi laboratorium, studi mikrobiologi, studi lapangan dan vermicultuf dalam skala besar, analisis protein cacing tanah dan penggunaannya sebagai pakan temak serta analisis sifat-sifat bahan hasil perombakan yang akan digunakan sebagai media pertumbuhan tanaman.
Dinyatakan pula balwa secara umum penanganan limbah/bahan organik oleh cacing tanah dibagi menjadi beberapa tahapan yaitu: persiapan limbah, perbanyakan cacing tanah, pemanenan dan penanganan cacing tanah serta penanganan kasting sebagai hasil penguraiannya. setiap perlakuan dalam tahapan-tahapan tersebut mempunyai alasan-alasan tertentu yang bertujuan agar proses penguraian/perombakan limbah/bahan organik dapat berjalan dengan sempuma.
Anonim (1930) dalam Yulipriyanto, H. (1993), menyatakan bahwa dalam melakukan degradasi bahan organik oleh cacing tanah agar berhasil dengan baik harus melalui langkah-langkah sebagai berikut (1) merancang lokasi, (2) menentralkan ukuran dan jenis wadah, (3) memilih cacing tanah yang akan digunakan, (4) menentukan jenis limbah/bahan organik dan (5) menentukan jenis pakan yang diberikan. Senyawa yang berguna bagi tanaman dan tanah, disebabkan di dalam usus cacing tanah bersimbiosis dengan mikroorganisme yang membantu dekomposisi bahan-bahan organik. Cendawan Actinomycetes, bakteri asam butirat bakteri pengurai selulosa, Bacillus cereus dan Acefobacter, merupakan mikroorganisme yang banyak di temukan pada kasting (Rao, 1982 dalam Diana Mustafia, 1996).

4.2 Pengomposan Limbah/BahanOrganik
Pengomposan adalah suatu proses pengelolaan limbah padat, dengan cara bertahap komponen bahan padat diuraikan secara biologis dibawah keadaan terkendali sehingga menjadi bentuk yang dapat ditangani, disimpan atau digunakan untuk lahan pertanian tanpa pengaruh yang merugikan (Hanada, 1990). Definisi lain dinyatakan oleh Haug (1980), bahwa pengomposan sebagai proses dekomposisi dan stabilisasi bahan secara biologis dengan produk akhir yang cukup stabil untuk digunakan di lahan pertanian tanpa pengaruh yang merugikan. Dalzell and K Thurairajan (1987) dan Gaur (1980) mendefinisikan pengomposan sebagai proses perombakan bahan organik oleh sejumlah besar mikroorganisme dalam lingkungan yang lembab, panas, beaerasi dan humus sebagai hasil akhir. Pengomposan bahan-bahan organik, terutama pada sisa-sisa tanaman dan kotoran hewan sering dilakukan oteh pana petani, dengan tujuan untuk menambah tingkat kesuburan lahan pertanian yang dikelolanya. Tujuan dan sasanan pengomposan pada dasamya untuk memantapkan bahan-bahan organik yang berasal dari bahan-bahan limbah, mengurangi bau, membunuh organisme patogen dan biji-biji gulma, pada akhimya menghasilkan pupuk organik seragam dan sesuai untuk tanah (Haga and Kiyonori, 1990).
Menurut W.E. Splittstoesser (19&4), dekomposisi bahan organik menjadi kompos bergantung pada kandungan air dan nitrogen yang cukup pada bahan serta temperatur yang sesuai. Kndungan air dan nitrogen dari protein rnerupakan sumber nutrisi yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme pengurai. Untuk penguraian bahan yang optimal, sangat diperlukan pengendalian suhu agar aktivitias dan pertumbuhan mikroorganisme dapat berlangsung dengan baik. Aktivitas biologi merupakan fiaktor penting dalam pengomposan. Berbagai mikrorganisme terlibat dalam proses dekomposisi bahan organik, antara lain bakteri, fungi, aktinomycetes, ragi, mikrofauna protozoa. Jumlah bakteri lebih banyak dibandingkan dengan mikoorganisme lain, tetapi ukurannya lebih kecil, kemudian diikuti oleh aktinomycetes, Fungi dan Protozoa. Selain mikroorganisme, aktivitas biologi dalam pengornposan juga dilakukan oleh biota pengurai lainnya seperticacing tanah.
Galli, E., Tomati U. and A. Grappeli (1983), berpendapat bahwa cacing tanah clapat mempercepat perombakan bahan organik yang dilakukan oleh mikroorganisme, sehingga waktu pengompcan menjadi lebih pendek.. Penggunaan cacing tanah selain dapat pempendek waktu pengomposan iuga menghernat tenaga dalam pekerjaan membalikan bahan yang dikomposkan. proses pengomposan dapat berlangsung secara aerobik maupun anaerobik (Gaur, 1980). Pada proses dekomposisi secara aerobik, mikroorganisme menggunakan oksigen untuk menguraikan bahan organik dan mengasimilasi Karbon, Nitrogen, Fosfor, Sulfur dan unsur-unsur lainnya untuk sintesis protoplasma. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
aktivitas
Bahan organit CO2+H2O+Hara+Humus +E
mikroorganisme

Pada proses dekomposisi secara anaerobik, reaksi biokimia berlangsung melalui proses reduksi. Tahap awal pengomposan, kelompok bakteri penghasil asam, heterotrof fakutatif mendegradasi bahan oqanik menjadi asam-asam lemah, aldehid dan seterusnya. Kelompok bakteri yang lain, merubah produk antana menjadi metana, ammonia, karbon dioksida dan hidrogen. Reaksi kimia yang terjadi selama dekomposisi bahan organik secam anaerobik adalah sebagai beriku
Bakteri penghasil asam
(CH2O)x X CH3COOH
CH3COOH CH4 + CO2
N-organik NH3
2H2S + CO2 (CH20) + S + H2S
Kecepatan penguraian bahan organik menjadi kompos bergantung pada beberapa faktor yaitu: ukuran partikel, unsur hara, kandungan air, aerasi, keasaman (pH) dan suhu (Nurwachid Budi Santoso, 2001). Ukuran partikel berpengaruh pada keberhasilan proses pengomposan. Ukuran yang baik antara 10 sampai 50 mm, apabila terlalu kecil ruang-ruang antara partikel menjadi sempit sehingga dapat menghambat gerakan udara ke dalam tumpukan dan sirkulasi gas karbon dioksida keluar tumpukan. Apabila ukuran partikel sangat besar, luas permukaan kurang sehingga reaksi pengomposan akan berjalan lambat atau bahkan akan berhenti sama sekali (Dalzell, Gray KR., Tharairajan, 1991).
Aktivitas mikroorganisme dalam proses pengomposan memerlukan sumber energi dari unsur karbon dan nitrogen. Unsur-unsur tersebut biasanya telah tersedia cukup dalam bahan organik, bahkan kebanyakan unsur hara lainnya tersedia pula dalam jumlah yang cukup. Untuk mempercepat proses pengomposan, dibutuhkan bahan organik yang memiliki rasio C/N relatif rendah yaitu berkisar antara 25 sampai 35/liter dalam campunan pertama. Apabila rasio C/N lebih besar, proses pengomposan akan memakan waktu lebih lama,hingga pembentukan karbon dioksida dari oksidasi unsur karbon berkurang. Sebaliknya apabila rasio C/N lebih kecil, nitrogen dalam bahan organik akan dibebaskan sebagai amoniak (Nurwrchid Budi santoso, 2001 ). Cara paling sederhana untuk menyesuaikan rasio C/N ialah dengan mencampur berbagai bahan organik yang mempunyai rasio C/N tinggi dengan bahan yang mempunyai rasio C/N rendah. Hal ini dapat dilakukan misalnya bahan berjerami dicampur dengan tinja, kotoran hewan yang mernpunyai rasio C/N lebih rendah. Rasio C/N bahan-bahan organik yang sering digunakan sebagai bahan kompe dapat dilihat pada tabel 2
Tabel 2. Komposisi Berbagai Bahan Organik Untuk Pembuatan Kompos
NO BAHAN ORGANIK KADAR UNSUR N (bobot kering) RASIO C/N
1 Potongan ru,ut muda 2-2,4 TD
2 Pupuk hijau tumbuh-tumbuhan 3-5 10-15
3 Sampah kota/sayuran 2-3 10-16
4 Kotoran babi 1,9 13
5 Kotoran sapi 1-1,9 19
6 Sampah kota/kandungan kertas tinggi 0,6-1,3 30-80
7 Padi-padian dan batang kacang polong 0,7 70
8 Jerami gandum 0,6 80
9 Daun-daun segar yang gugur 0,4-1,0 40-80
10 Sampah gula tebu 0,3 150
11 Serbuk gergaji segar 0,1 500
12 Tinja 5,5-6,5 6-10
13 Kotoran unggas 4 TD
14 Jerami padi – 80-130
15 Jerami barley – 80-130
16 Batang jagung – 100-120
17 Batang kapas – 50-60
18 Kotoran biri-biri – 23
19 Kotoran kuda – 20
20 Sisa buah-buahan – 35
21 Hijauan gulma – 13
22 Ampas kopi 1,0-2,3 8
23 Urin Hewan 15-18 0,8
Keterangan: TD = Tidak ditentukan

Makin tinggi tingkat dekomposisi dari bahan organik, makin kecil rasio C/N. Pada rasio C/N rendah tidak ada persaingan antarta akar tumbuhan dengan mikroorganisme dalam menggunakan unsur nitrogen dalam tanah (Joetono, 1998). Kandungan air pada bahan organik sebaiknya antana 30-40%, hal ini ditandai dengan tidak menetesnya air apabila bahan digenggam dan akan mekar apabila genggaman dilepaskan. Kandungan air bahan terlalu tinggi, ruang antar partikel dari bahan menjadi sempit karena terisi air, sehingga sirkulasi udara dalam tumpukan akan tefiambat. Kondisi tersebut berakibat pada tumpukan bahan akan didominasi oleh mikroorganisme anaerob yang menghasilkan bau busuk tidak sedap. Dalam proses pengomposan, mikroorganisme dalam bahan organik sangat memerlukan jumlah udara yang cukup, karena prosesnya berlangsung secap aerob. Aerasi dapat diperoleh melalui gerakan udara dari alam masuk ke dalam tumpukan dengan rnembulak-balik bahan secara berkala, baik menggunakan mesin maupun dengan tangan/cangkul.
Keasaman (pH) pada tahap awal pengomposan, akan terjadi perubahan pH yaitu bahan agak asam, karena terbentuk asam organik sederhana, selanjutnya pH berangsur naik, karena terlepasnya ammonia (bersifat basa) dari hasil penguraian protein. Keadaan basa yang terlalu tinggi, menyebabkan selama proses pengompos kehilangan nitrogen secara berlebihan (Nunrachid Budi Santeo, 2001). Dalam proses pengomposan, sebagian energi dibebaskan sebagai panas. Pada tahap awal suhu tumpukan bahan sekitar 400C, mikroorganisme yang terlibat adalah bakteri dan fungi mesofilik. Selanjutnya suhu bahan naik hingga di atas 400C, mikroorganisme yang berperan adalah mikroorganisnp termofilik, actinomycetes dan fungi termofilik. Setelah suhu berangsur turun, maka mikroorganisme mesofilik muncul kembali, selanjutnya, gula dan pati nnngalami perombakan, diikuti oleh perombakan hemiselulosa, selulosa dan akhimya fignin. Menurut L. Murbandono HS. (2000) dalam Nurwachid Budi Santoso (2001), suhu ideal dalam pengomposan antara 3O0C sampai 450C. Apabila suhunya tertalu tinggi maka mikroorganisme akan mati, sebafiknya apabila suhu pengomposan terlalu rendah, mikroorganisme belum dapat bekerja secara optimal (Yovita Hety Indriani, 1999).
4.2 Pengomposan Bahan Organik Secara Konvensional
Tujuan dari proses pembuatan kompos ini adalah:
1) Menyiapkan bahan dari berbagai jenis bahan organik,
2) Mencampur bahan organik secam homogen,
3) Mengomposkan campuran bahan organik,
4) Mememelihara campunan bahan selama pengomposan,
5) Menentukan waktu pengomposan,
6) Memanen hasil pengomposan

Alat- alat yang digunakan adalah karung goni/plastik, golok/sabit/chooper, cangkul, garpu, ember plastik, gembor/alat penyiram tanaman, kantong pengemas plastik, alat Sealer, alas papan, thermoneter, alat pengaduk kayu dan timbangan kasar.
Bahan-bahan yang digunakan adalah Bahan-bahan yang digunakan adalah serbuk gergaji 25%, alang-alang/rerumputan 13% kotonan ternak sapi 25%, daun bambu dan daun kering 7%, potongan rumput 20% dan EM-4 10%.) dan air untuk menaikkan kelembaban bahan.
Langkah kerja dalam pembuatan kompos adalah
1) Kecilkan ukuran bahan yang masih panjang dengan dipotong-potong nenjadi sekitar 3-5 cm, sehingga diperoteh ukuran bahan yang seragam
2) Timbang semua bahan dengun benat masing-masing 1 bagian kecuali kotonan tenak 3 bagian,
3) Gampurkan semua bahan dengan diaduh aduk sampai homogen/merata sambil disiram air sehingga pada saat campuran dikepal megeluarkan tetesan air
4) Komposkan campuran bahan dengan cana menumpukan pada tanah/lantai setinggi kira-kira 1 m, selanjutnya ditutup karung goni/plastik pada seruluh permukaannya. proses pengomposan dapat berlangsung 2 sampai 3 minggu, tergantung dari jenis bahan
5) Amati dan catat setiap hari kenaikan suhu dan perubahan warna tumpukan bahan. Kegiatan ini untuk mengetahui apakah proses pengomposan dapat berlangsung baik atau tidak, yaitu dengan adanya kenaikan suhu dan perubahan warna selama proses
6) Tumpukan bahan diaduk setiap tiga hari sekali secara merata dan ditutup kembali. Kegiatan ini untuk nenghindari kelebihan suhu dan diharapkan proses penguraian dapat berlangsung pada seluruh permukaan bahan
7) Akhiri proses pengomposan apabila telah memenuhi kreteria: suhu telah turun dan stabil, wama coklat kehitaman, sebagian besar bahan telah lapuk, bau khas kompos
8) Kompos yang dihasilkan perlu diuraikan lebih lanjut dengan menambah waktu pengomposan secara alami atau menggunakan cacing tanah selama 2-3 minggu

Alur pembuatan kompos
4.3 Pengomposan Bahan Organik Penggunaan Biota Pengurai Cacing Tanah ( Kascing )
Tujuannya adalah :
1) Menyiapkan bahan dari berbagai jenis bahan organik
2) Mencampur bahan orgnnik secara homogen
3) Mengomposkan campuran bahan otganik
4) Memelihara campuran bahan selama pengomposan
5) Menentukan waktu pengomposan
6) Memanen hasil Pengomposan

Alat- alat yang digunakan adalah karung goni/plastik, golok/sabit/chooper, cangkul, garpu, ember plastik, gembor/alat penyiram tanaman, kantong pengemas plastik, alat Sealer, alas papan, thermoneter, alat pengaduk kayu dan timbangan kasar.
Bahan-bahan yang digunakan adalah serbuk gergaji 25%, alang-alang/rerumputan 13% kotonan ternak sapi 25%, daun bambu dan daun kering 7%, potongan rumput 20% dan EM-4 10%. air untuk menaikkan kelembaban bahan dan gacing tanah (Lumbricus rubellus)
Langkah kerjanya adalah :
1) Kecilkan ukuran bahan yang masih panjang dengan dipotong-potong menjadi sekitar 3-5 cm, sehingga diperoleh ukuran bahan yang seragam
2) Timbang semua bahan dengan berat masing-masing l bagian kleculai kotoran tenak 3 bagian
3) Gampurkan semua bahan dengan diaduk-aduk sampai homogen sambil disiram air sehingga pada saat campuran dikepal mengeluarkan tetesan air
4) Komposkan campuran bahan dengan cara menumpukan pada tanah/lantai setinggi kira-kira 1 m, selanjutrya ditutup karung goni/plastik pada seluruh permukaannya. Proses pengomposan dapat berlangsung 2 sampai 3 minggu, tergantung dari ienis bahan
5) Amati dan catat setiaphari kenaikan suhu dan perubahan warna tumpukan bahan. Kegiatan ini untuk mengetahui apakah proses pengomposan dapat bertangsung baik atau tidak yaitu dengan adanya kenaikan suhu dan perubahan wama selama proses
6) Tumpukan bahan diaduk setiap tiga hari sekali secara merata dan ditutup kembali. Kegiatan ini untuk menghindari kelebihan suhu dan diharapkan proses penguraian dapat berlangsung pada seluruh permukaan bahan
7) Akhiri proses pengomposan apabila telah nemenuhi kreteria: suhu telah turun dan stabil, warnaa coklat kehitaman, sebagian besar bahan telah lapuk, bau khas kompos dan cacing bisa masuk pada tumpukan kompos
8) Media kompos ditimbang dan dibuat guludan memanjang, setiap guludan beratnya sekitar 50 kg
9) Timbang cacing tanah seberat 1 kg untuk setiap guludan media kompos
10) Letakkan cacing tanah di atas permukaan guludan secara merata, menunggu beberapa saat hingga semua cacing masuk ke dalam media kompos
11) Timbang pakan kotoran ternak yang sudah siapkan sebelumnya seberat 3 – 5 kg/guludan, letakkan di seluruh permukaan guludan secara merata
12) Lanjutkan penguraian media kompos dan pakan kotoran ternak oleh cacing tanah selama 2 – 3 minggu.
13) Guludan digemburkan dengan cara membalikkan media kompos secara perlahan setiap tiga hari selama proses penguraian, selanjutnya tambahkan pakan, berat dan caranya seperti pada no 11
14) Media kompos baru diletakkan disebelah kiri dan kanan guludan 3 hari sebelum panen, sehingga dapat dipastikan semua cacing sudah berpindah tempat ke media baru tersebut
15) Guludan bagian tengah yang sudah menjadi kasting dipanen dengan cara dipisahkan dari media konpos baru dan dipastikan tidak ada cacing yang terbawa dalam kasting,
16) Kascing dikering anginkan atau dijemur sampai kadar air kasting 8-10 % selanjutnya diayak dan dikemas dengan karung plastik/kantong plastik.

Tabel hasil pengamatan
Hari pengamatan Suhu Warna/kenampakan Bau
Hari ke-0 280C Warna masih sama dengan aslinya Bau kotoran sapi yang masih menyengat
Hari ke-2 400C, 400C, 380C
Rata-Rata 39,30C Warna coklat Bau kotoran sapi masih tercium
Hari ke-5 400C, 400C, 390
Rata-Rata3 9,60C Warna masih coklat Bau kotoran sapi sudah berkurang
Hari ke-8 350C, 350C, 370
Rata-Rata 35,60C Warna coklat kehitaman Bau kotoran sapi sudah lebih banyak berkurang
Hari ke-11 350C, 350C, 350
Rata-Rata 350C Warna agak kehitaman Bau kotoran sapi tidak tercium lagi
Hari ke-15 310C, 300C, 310
Rata-Rata 30,30C Warna hitam agak tua Tercium bau khas kompos

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1) Keberhasilan dalam pembuatan pupuk kasting adalah proses terjadinya kenaikian suhu dan penurunan suhu sebagai indikator adanya aktivitas mikroba.
2) Permasalahan yang dihadapi dalam pembuatan pupuk kasting adalah harga jual yang mahal.

5.2 Saran
1) Perlu pencatatan data pengamatan yang akurat agar keberhasilan dalam pembuatan pupuk kasting adalah proses terjadinya kenaikian suhu dan penurunan suhu sebagai indikator adanya aktivitas mikroba lebih optimal
2) Perlu kerjasama antara petani, peneliti, universitas fakultas pertanian dan lembaga-lembaga yang konsen dan terkait dalam dunia pertanian.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2004, Acuan Pendidikan Lingkungan Hidup, Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta
Agus. S dkk. 1999, Sampah dan Pengelolaannya. Edisi ke II, VEDC. Malang
Albanell dkk. 1988, Chemical Change During Compostiung (Eisenia Foetida) Of Sheep Manure MixCotton Industrial. Bio Fertill Soil
Bambang. S. 1999, Peranan Cacing Tanah dalam Pengelolaan Sampah dan Sebagai Sumber Pendapatan Masyarakat. Diklat Budidaya Cacing Tanah. Bandung.
Dalzell dkk, 1991. Pengolahan Tanah Produksi dan Penggunaan Kompos, dalam buku Duterbrige. Limbah Padat di Indonesia Masalah atau Sumber Daya, Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
Suryana. 2002, Pengaruh Cacing Tanah dalam Perombakan Media Tumbuh dan Pakan Berbagai Jenis Limbah/Bahan Organik Terhadap Kualitas Kasting serta Pengaruhnya pada Tanaman Sawi, Tesis, Universitas Sebelas Maret
Sutanto. R, 1996. Memahami Prinsip Pemupukan Berimbang dalam Pertanian. Dalam makalah Pertanian Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjut. Fakutas pertanian UGM. Yogyakarta
Sutanto. R, 1996. Potensi Bahan Organik Sebagai Komponen Teknologi Masukan Rendah dalam Meningkatan Produktifitas Lahan Kritis di DIY. Dalam Proseding Lokakarya dan Exspose Teknologi System Usahatani dan Alsintan.. Yogyakarta

PROSES PEMBUATAN KOMPOS

PROSES PEMBUATAN CASCING
A. PENYIAPAN CACING DAN KOTORAN SAPI (sebagai sumber makanan )

B. PEMBUATAN CASCING

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: